Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Julukan Kunci, Pahlawan Manggarai Tak Tertandingi Jaman Penjajahan Belanda

Wednesday, December 22, 2021 | 19:16 WIB Last Updated 2021-12-23T08:15:02Z
Julukan Kunci, Pahlawan Manggarai Tak Tertandingi Jaman Penjajahan Belanda
Ilustrasi: google


Hampir sebagian besar masyarakat Manggarai mengenal sosok Motang Rua. Dia adalah pahlawan yang dikenal dan dikenang dalam sejarah kehidupan orang-orang Manggarai. Namun tahukah anda, selain Motang Rua, ada panglima perang Manggarai berjulukan Kunci yang tak terkalahkan dan tertandingi pada jaman penjajahan Belanda.  Siapakah sosok hebat tersebut? Bagaimana sejarah hidupnya? Apa makna julukan Kunci? Apakah ada bukti sejarah? Siapakah turunannya yang bisa mempertangungjawabkan realitas kebenaran tokoh tersebut?

Baca juga: Bank NTT Berikan Bantuan Untuk Pengembangan Desa Wisata Todo

Siapa Kunci Itu

Kunci merupakan julukan seorang panglima perang pada jaman penjajahan Belanda. Dia memiliki bakat, kemampuan dan ketangkasan  dalam peperangan. Instingnya peka membaca situasi yang akan segera terjadi. Nalarnya cekat dan cepat merespon aksi-reaksi para lawan. 

Kunci dipahami sebagai satu kata yang mengunci segalanya lebih khusus terkait sesuatu di luar realitas kebenaran. Julukan kunci bermakna pengendalian diri, perlindungan, dan cinta terhadap sesama. Siapakah yang berjulukan Kunci tersebut?

Ngontam;  itulah nama aslinya. Dia biasa disapa Bora (orang kaya). Ngontam merupakan seorang laskar dari pantai selatan Manggarai. Dia hidup pada jaman kerajaan Todo. Tanggal kelahirannya belum bisa dipastikan. Umurnya kira-kira 100-san tahun lebih. 

Baca juga: Bank Dunia Ingatkan Presiden Jokowi Soal Pengangguran di Indonesia

Ngontam memiliki dua istri. Istri pertamanya bernama Unas yang berasal dari Kende. Buah perkawinan dengan Unas yakni Notang, Ruma dan Sangkung. Hubungan perkawinan keduanya tidak berlansung lama. Unas dipanggil menuju rumah Bapa di Surga. 

Peristiwa kematian tidak bisa ditolak. Oleh karena kenyataan tersebut, Ngontam mengambil istri lagi. Nama istri keduanya yakni Lusia Undang. Asalnya dari Lenggos. 

Kehidupan bersama dengan Undang sangat harmonis. Mereka dikarunia 5 orang buah hati. Nama mereka yakni Bernadus Rugam, Maria Jodam, Gervasius Ndokang, Apolonimus Mbokar, dan Nobertus Nakur.

Agama Katolik mulai masuk Manggarai pada masa itu tetapi Ngontam  belum dibabtis untuk menjadi anggota umat Allah. Dia mengakui adanya Wujud tertinggi dalam adat Manggarai yang disebut dengan Mori. Apakah Mori yang dimaksudkannya pada jaman itu yakni Yesus Kristus? Namun yang jelas, orang Manggarai sudah mengenal dan mengakui Mori sebelum agama Katolik masuk. 

Hal menarik terkait keberimanan Ngontam terungkap dalam doanya setiap hari. Agama Katolik yang notabene belum dikenal di Manggarai,  tetapi Ngontam sudah menyebut Isus yang artinya Yesus. Hal ini diketahui dari doanya setiap hari, "Inewai ata rona na wa tuka gau taung na Isus" (Perempuan dan laki-laki "disembunyikan atau ditaruh" di dalam "hati-Mu", Yesus). Secara harafiah kata tuka artinya perut, tetapi tuka yang dimaksudkan Kunci yakni hati. 

Gambaran tentang kunci secara komprehensif dapat dilihat pada bagian makna julukan kunci itu sendiri. Pertanyaannya, bagaimana makna julukan kunci secara detail?

Baca juga: Kemunculan Metaverse dan Ketiadaan Jaringan Internet di Daerah Terpencil

Makna Julukan Kunci

Julukan Kunci memiliki alasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara rasional. Dia mampu mengalahkan musuh. Ketangkasan dan kemampuannya menjadi kelebihan sehingga sehebat apapun lawan, dengan mudah dia menghancurkannya. 

Kunci mampu menghilang cepat dari serangan-serangan lawan. Kelebihan ini menjadi andalan yang dia tunjukkan di medan perang. Ketika musuh-musuh sentak menghadang ataupun menerkam, kemampuan menghilangnya pun tiba-tiba muncul. 

Ngontam mampu mengunci kekuatan dan kehebatan lawan saat perang terjadi. Maka ada istilah yang selalu diungkapkan yakni peti Todo kunci Bajo. Ngontam yang adalah panglima perang sangat cerdik, cerdas dan peka terhadap tanda-tanda musuh sehingga kekuatan mereka ditaklukannya dengan mudah. 

Kunci memiliki semangat pengendalian diri terkait apa yang menjadi kepunyaan orang lain. Dia mengakui dan menghargai hak milik orang lain. Bahasa yang selalu dia ucapkan yakni neka daku ngong data (jangan mengambil hak milik orang lain). Kesadaran Ngontam membuat dirinya hadir sebagai sosok yang berpihak pada realitas kebenaran. 

Kebenaran sesungguhnya terungkap tatkala Ngontam membenarkan apa yang menjadi haknya, demikian juga pengakuan dan pembenaran hak milik orang lain. Inilah rahasia hidup Ngontam yang membuat dirinya berbeda dengan para musuh.

Ngontam juga sangat menjunjung tinggi martabat manusia teristimewah kaum Hawa. Hal ini dapat dibuktikan dengan kata-kata nasehat dan inspiratifnya yakni ome dungkang inewai tadang koe lese. Maksudnya bila bertemu dengan perempuan di jalan, kita harus menyingkir. Sikap ini bermaksud sebagai bentuk kelembutan dalam perwujudan nilai kemanusiaan seorang perempuan.

Tak hanya subjektivitas, Ngontam mampu melakukan kunci emosional. Kelabilan emosional menjadi itu yang harus dikendalikan dan diolah secara matang. Kunci mampu mengunci diri sehingga kewibawaan dan kedewasaan emosionalnya sangat nampak sebagai seorang Bapak sekaligus sosok hebat. Sebagai seorang ayah, Kunci memiliki kemampuan untuk mengatasi persoalan-persoalan keluarga secara damai. 

Kelihaian dan ketangkasan dalam perang membuat Ngontam dijuluki Kunci. Julukan Kunci berarti kekuatan, ketangguhan, cinta terhadap yang lain, perlindungan, ketangkasan dan kehebatan dalam perang. Julukan ini memampukan dia hidup secara baik, benar dan indah.

Cara hidup Ngontam sangat terkesan yang dapat memberikan pesan penting bagi Ngontamians di era tehnologi ini. Bahwa Ngontam memiliki filosofi sosialitas tinggi bagi sesama. Aktivitas membantu dan menyelamatkan orang lain merupakan semangat hidupnya. 

Cinta menjadi kunci hidup yang dimulai dari lingkup keluarga. Karena cinta, Ngontam mengunci semua kecendrung-kecendrungan negatif dari dalam diri dan hal-hal buruk dari luar. Dalam cinta dia hidup bersama keluarga. Dan demi cinta, dia berjuang untuk menumpas kekuatan jahat yang berwujud dalam diri manusia. 

Cara hidup Ngontam dapat dimaknai sebagai filsafat "kunci" yakni kunci hidup, kunci hati, kunci pikiran, kunci perkataan termasuk kunci kekuatan lawan. Julukan kunci merupakan itu yang menjadi sesuatu yang substansial dalam eksistensi hidup manusia, Ngontam. 

Buah dari penghayatan filosofi kunci tersebut yakni kekayaan; kaya hati, kaya harta, kaya tahta. Cinta dan hatinya menyatu. Hartanya berlimpah. Tahtanya bagai hiasan permata, salah satunya, sebagai panglima perang yang tak terkalahkan pada jamannya. 

Bukti Sejarah (Alat-alat Perang)

Sejarah sang Pahlawan Manggarai dengan julukan Kunci bukanlah cerita hoax atau dongeng. Ngontam merupakan panglima perang tak terkalahkan dan tertandingi. Dia sangat ditakuti oleh para lawannya. 

Realitas kehidupan Ngontam dapat dibuktikan dari peninggalan alat-alat perang yang hingga saat ini masih ada dan tersimpan rapi di rumah wae tua (yang sulung dari keturunan Ngontam). Alat-alat perang seperti Korung Sumpak (tombak perang), keris, pisau kuningan, parang, dan sebagainya itu merupakan bukti sejarah.

Untuk melihat dan memegang benda-benda pusaka itu, anda perlu meminta ijin kepada pemilik barang, dalam hal ini Ngontam sendiri dan Ngontamians yang diwakili oleh wae tua. Tata cara dan etikanya sangat penting ditunjukkan agar siapapun yang ingin melihat dan memegangnya direstui oleh Kunci dan Ngontamians. 

Alat-alat perang tersebut memiliki kekuatan magis. Ada kekuatan gaib yang sulit dijelaskan di balik alat perang tersebut. Ketika alat perang itu dipakai untuk melukai orang lain (meskipun luka kecil) maka luka tersebut sulit disembuhkan. Atau ketika ada masalah, dan tiba-tiba alat perang tersebut diambil dari sarungnya, maka itu harus makan korban atau minum darah, kalau tidak yang korban adalah diri sendiri. Itulah keanehan yang menjadi momok menakutkan bagi para Ngontamians yang hidup di jaman kini.   

Upacara Takung (Ritual Adat Setiap Tahun)

Setiap tahun para Ngontamians melakukan upacara adat Manggarai untuk takung ise empo (memberi makan leluhur). Ayam menjadi materi (media) untuk perwujudan forma dalam ritual tersebut. Setelah tudak manuk (ritual adat), darahnya diambil lalu dioleskan pada benda-benda pusaka (alat-alat perang peninggalan Ngontam). Pertanyaannya, mengapa para Ngontamians wajib melakukan "tudak manuk" untuk takung ise empo?

Sebelum alat-alat perang disatukan, turunan Ngontam selalu jadi korban. Hampir setiap tahun, cucu-cece Ngontam meninggal dunia tanpa ada sakit-penyakit. Hal itu terjadi minimal satu atau dua orang bahkan lebih, dalam setahun. Selain itu, cucu-cece Ngontam toe manga beka agu buar (belum banyak berkembang atau masih ada yang belum punya keturunan). Rejeki dalam keluarga sangat minimalis. Pendidikan selalu gagal. Singkatnya, ada itang agu nangki (hukum karma) karena sebagai panglima perang, Ngontam membunuh banyak orang tatkala perang terjadi pada masa itu.

Ngontam memiliki kehebatan dan keluarbiasaan dalam adu taktik dan ketangkasan di medan perang. Dia adalah sosok yang selalu ditakuti oleh para lawannya. Akibatnya, hukum karma menjadi realitas yang tidak terhindarkan atau disangkal dalam kehidupan para Ngontamians. 

Hukum karma secara perlahan menghapus keturunan Ngontam dari waktu ke waktu. Realitas ini menyadarkan Ngontamians untuk menyatukan semua benda-benda pusaka sang leluhur itu. Bagaimana ritual adat dalam pengumpulan dan penyatuan alat-alat perang tersebut?

Proses awal penyatuan alat-alat perang, milik Ngontam itu, diberi suport oleh keluarga besar Ngontamians. Tahapan-tahapannya yakni upacara cebong (mandi di sungai). Ngontamians mandi bersama. Alat-alat perang itu juga dimandikan. Acara cebong dilakukan tepat pukul 17.00 sore, Wita. Acara ini bermaksud agar Ngontamians dibebaskan dari hukum karma. 

Setelah cebong,  acara selanjutnya tudak manuk dan sembelih seekor babi untuk makan bersama. Kebersamaan dan kekeluargaan menjadi nilai-nilai yang melandasi ritual tersebut. 

Tidak hanya berakhir dalam tahap pengumpulan dan penyatuan, setiap tahun turunan Kunci melakukan ritual takung. Dengan adanya upacara ini, diharapkan dan diyakini semua keturunan empo Ngontam terhindar dari segala bentuk hukum karma, penyakit menular dan kematian mendadak. Selain itu, para Ngontamians memeroleh keturunan dan sukacita yang sifatnya kekal. 

Baca juga: Kematian Ibu dan Anak Sebagai Bukti Ketakberdayaan Rasionalitas dan Hatinurani Pelaku

Kehidupan Ngontamians

Ngontamians adalah cucu-cucu Ngontam yang memiliki jiwa atau semangat hidup sang Kunci. Turunan Ngontam mengalir darah atau jiwa pembrani seperti Kunci. Jiwa Ngontam bernyala bagaikan api yang berkobar-kobar dalam diri cucu-cucunya untuk membakar kejahatan. Namun darah pembrani senantiasa berpihak pada kebenaran. 

Darah atau jiwa Kunci mengalir dan menyatukan hidup para Ngontamians. Tak dapat disangkal, Ngontamians merupakan "kunci-kunci" yang hidup di erah tehnologi. Turunan Ngontam merupakan wajah Kunci yang memiliki semangat dan jiwa kebenaran.

Nilai-nilai yang telah dihidupkannya menjadi landasan dan pedoman hidup Ngontamians. Kesadaran ini menjadi bahan permenungan dan perbincangan keluarga agar warisan semangat dan cara hidupnya menjadi hidup di jaman moderen.

Kesimpulan

Meneropong rekam jejak Ngontam sangat penting bagi keturunannya dan barangkali masyarakat Manggarai pada umumnya. Ngontam adalah panglima perang yang belum sama sekali dikenal dan dikenang. Namun, kualitas diri, kemampuan dan ketangkasannya di dunia perang sangat luar biasa. 

Ngontam sangat setia terhadap pihak kerajaan pada jaman itu. Keberanian dan pengorbanan dirinya patut diapresiasi. Cintanya terhadap Manggarai bahkan Indonesia sangat berapi-api. Semoga semangat, cinta dan pengorbanannya membuat dia dikenal, dikenang dan didoakan. Amin.


Oleh: Nasarius Fidin

Penulis adalah Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang. Beliau adalah Pemerhati Masalah Sosial, Politik dan Budaya. 

Alamat yang bisa dihubungi: nasariusfidin88.nf@gmail.com

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Julukan Kunci, Pahlawan Manggarai Tak Tertandingi Jaman Penjajahan Belanda

Trending Now

Iklan