Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Di Manggarai, Tradisi Minum Tuak Saat Pesta Picu Penumpahan Darah, Stop Miras!

Sarfin Fidin
Thursday, March 10, 2022 | 09:53 WIB Last Updated 2022-03-20T05:46:08Z
Di Manggarai, Tradisi Minum Tuak Saat Pesta Picu Penumpahan Darah, Stop Miras!
Di Manggarai, Tradisi Minum Tuak Saat Pesta Picu Penumpahan Darah, Stop Miras!


Slogan Stop Miras - Dewasa ini di Manggarai, tradisi minum tuak dapat memicu tawuran, perang saudara atau penumpahan darah. Mabuk miras biasanya terjadi pada acara-acara besar seperti pada saat pesta sekolah atau nikah dan sebagainya. 

Banyak orang beranggapan bahwa sopi kobo itu dapat mempererat relasi dan komunikasi dengan sesama. Moke (bahasa Bejawa yang artinya tuak) menjadikan dunia sebagai pemandangan indah, penuh gairah, semangat bahkan fulgar. 

Saat mabuk-mabukan dalam tingkat dewa, peminum tersebut tidak mampu mengenal dan mengendalikan diri, bahkan naluri kebinatangannya muncul. Lantas, apakah tuak pada tahap ini masih dikatakan minuman penyegar, penyemangat, dan atau penyatu di saat pesta berlansung? 

Untuk mengetahui isi artikel ini, anda diajak untuk membacanya hingga selesai agar tidak terjebak dalam tindakan amoral. 

Baca: Untuk Sebuah Nama (Puisi Sherly Sherena)

Tradisi Minum Tuak di Manggarai

Tuak merupakan minuman keras yang terbuat dari pohon enau dan sebagainya. Pembuatannya membutuhkan proses dan jangka waktu yang sedikit lama.  

Tuak seperti tuak raja/bakok dan sopi menjadi sarana dalam perwujudan tradisi di daerah-daerah tertentu. Kebiasaan memakai tuak dalam pembicaraan adat menjadi seni dan momen spesial tersendiri. Dalam konteks tersebut, nilai tuak sangat urgen meskipun frekuensinya sedikik semisal sebotol kecil untuk perkumpulan warga kampung dalam lonto leok (duduk bersama/melingkar). 

Tuak dalam tradisi Manggarai menjadi minuman spesial dan istimewah sejauh ada. Tatkala ada acara lonto leok, yang hadir disuguhkan dengan tuak. Tentu tuak dikaitkan dengan acara adat. Minuman tuak merupakan salah satu bentuk simbolis dalam perwujudan acara duduk melingkar, adat Manggarai. Semisal, tatkala tombo adat (pembicaraan adat) dalam lonto leok, tuak dipakai sebagai lapeng atau wali (pembicaraan adat dilengkapi atau berbarengan dengan tuak). 

Tuak juga dipakai sebagai wujud pendamaian, maaf-memaafkan, dan atau rekonsiliasi secara adat kedua belah pihak tatkala ada persoalan.   Perwujudan nilai adat yang dilengkapi dengan "tuak kepok" itu  menjadi seni sekaligus pemandangan tersendiri di kalangan orang-orang Manggarai. Buahnya seperti momen kekeluargaan, keakraban, at home, sukacita bersama dapat meremajakan kehidupan sosial. 

Minum tuak dalam tradisi orang Manggarai memiliki cerita indah karena pada substansinya bukan soal seberapa banyak minuman tersebut melainkan seberapa dalam penghayatan nilai budaya sang leluhur. Tuak hanyalah materi dalam pengungkapan nilai adat. Satu, dua, tiga atau empat tegukan memiliki nilai kebersamaan daripada minum mabuk-mabukan hingga lupa segalanya. 

Singkatnya, tuak dalam acara adat Manggarai dimaknai sebagai simbol atau ungkapan kekeluargaan, persaudaraan, persatuan, perdamaian dan kasih-sukacita. Takarannya tentu sesuai porsinyanya. Lalu, bagaimana tuak atau miras dalam kaitan dengan budaya pesta, seperti pesta sekolah atau nikah?

Baca: Syair Kampus, Bandit-Bandit Kampus, Perihal Cinta, Bukan Selangkangmu (Antologi Puisi Arnolda Elan)

Efek Minum Tuak Berlebihan

Melihat fakta terjadi, miras yang melebihi porsi atau minum minuman yang tak terkendalikan saat pesta sekolah atau nikah menjadi sorotan. Pasalnya, anak-anak muda melakukan tawuran saat pesta tersebut hanya karena miras. Dan anehnya, menjadi kebanggaan si pemukul atau pengeroyok tatkala ada yang bersimbah darah atau bonyok. Tidak ada belaskasihan. Yang ada adalah lawan. Jadi yang lain adalah musuh baginya. 

Ketika orang lain adalah liyan, maka relasi-komunikasi yang terjadi bukan antar-subjek. Kesadaran subjek-objek dapat merenggut sisi kemanusiaan dan hubungan subjektivitas. Lantas, apa yang diharapkan dari manusia yang berasional dan berelasional? Dimanakah atau kemanakah hatinurani yang digaungkan sebagai sanggar suci Allah? 

Tuak dapat dikatakan sebagai minuman untuk memerlihatkan kejagoan atau kehebatan seseorang yang berujung pada perseteruan sengit. Uji kejantanan jelas terjadi. Apalagi ada persoalan saat pesta sebelumnya. Dendam lama bagaikan api bernyala di dalam diri. Sehingga pada pesta berikutnya, dendam dan kebencian yang terkesumat bisa semakin bergelora jika musuh lama hadir juga saat pesta tersebut.

Dalam kaitan dengan hal itu, tuak dapat dianggap sebagai minuman penyembul "semangat, keberanian, kejagoan atau kegarangan dengan sasaran yang hadir atau musuh lama". Wajah yang hadir dan bermasalah dengannya saat pesta sebelumnya menjadi itu yang harus ditargetkan. insan itu dipandang sebagai musuh.  

Dampaknya, tawuran sulit diatasi. Pukul-memukul, lempar-melempar batu atau kayu terjadi. Barang-barang sewaan seperti musik, mesin, lampu, dan sebagainya rusak. Lebih dari itu, penumpahan darah bisa saja terjadi karena barang tajam seperti pisau dan sebagainya. Persoalannya, di manakah kesadaran eksistensi diri, bahwasannya musuh itu adalah gambaran kehadiran keakuanmu sebagai manusia?

Persoalan kemanusiaan itu dapat meruntuhkan nilai kekeluargaan, persudaraan, bahkan keseluruhan keberadaannya. Hal ini menjadi pergumulan filosofis manusia Manggarai yang tidak terlepas dari sosialitas kehidupan. 

Berdasarkan kenyataan tersebut, banyak orang mengeneralisasikan aktivitas minum tuak. Semisal, ia sedang mabuk, jadi tindakannya diluar kesadaran rasionalitas dan hatinurani. Kalau sudah mabuk, mana mungkin dia tahu apa yang dia lakukan. Jadi yang tidak minum atau yang tidak mabuk semestinya harus paham dengan situasi dan kondisinya.  

Konsep pemikiran seperti itu merupakan aktivitas self defense, pembelaan, pembenaran diri terhadap tindakan kejahatan secara moral. Dia sedang menyetujui tindakan amoral. Dia tengah lupa diri! Lupa Sang Pencipta yang menciptakan orang yang dia masukan dalam ruang kebencian. 

Tindakan si pembuat chaos dengan alasan miras tidak dapat dibenarkan. Meskipun dia beranggapan bahwa miras itu baik baginya tetapi belum tentu baik dan benar bagi orang lain. Karena yang menjadi benang merahnya adalah ketika tindakanku, kamu, kita baik, benar dan indah bagi diri sendiri dan sesama serta Sang Pencipta.

Miras berlebihan justru merenggut relasi-komunikasi dengan keluarga atau sesama yang sejak lama tertanam dan menyatu dalam kehidupan masyarakat. Padahal Manggarai dikenal dengan relasional dan sosialitas yang sangat kental. Sadar atau tidak, pembuat chaos tengah berbohong dengan nilai-nilai adat yang menjadi pedoman hidup.

Baca: Catatan Harian Regina (Cerpen Videlis Gon)

Stop Minum Tuak Berlebihan!

Minum tuak tingkat dewa dapat mengkianati adat Manggarai. Pasalnya, tuak dipakai untuk menciptakan perdamaian, kekeluargaan dan sebagainya dalam tradisi Manggarai, namun sebaliknya justru membuat persoalan yang berujung adu kekuatan atau perkelahian. 

Dalam konteks itu, saudara bukan lagi sesama yang saling mendukung dan membangun. Sebab tuak bagaikan raja yang berkuasa atas diri, si pemabuk. Dia dipenjarakan oleh ketagihan demi ketagihan. Dia tak berdaya karena hasrat sesaat yang sesat itu. 

Slogan dalam artikel ini menyuarakan untuk tidak menjadikan diri sebagai budak kemabukan. Stop miras tingkat dewa! 

Slogan stop miras yang berlebihan merupakan sentakan kesadaran yang mendorong kita masuk dalam permenungan diri. Kesadaran akan identitas diri menjadi kunci dalam perenungan. Bahwa kita merupakan manusia istimewah, punya rasionalitas dan hatinurani.  Kita adalah tuan atas segala hasrat, keputusan, pilihan dan aktivitas kehidupan. 

Cara paling ampuh untuk tidak ketagihan miras adalah dengan menyadari, mengenali dan mengendalikan diri. Kenalilah dan kendalikan pikiran, hasrat dan keputusan. Sulit memang, tetapi tidak sedikit orang mampu melakukannnya. 

Berhenti miras merupakan cara anda mengasihi diri sendiri. Jika kita tidak mencintai diri sendiri berarti sangat mudah untuk terjebak dalam kondisi dan situasi mabuk-mabukan yang tak terkontrol. Mudah sekali karena didukung oleh dalil-dalil sebagai bentuk rasionalisasi atau pembenaran diri. 

Baca: Pilar Pilar Besi

Kesimpulan

Pada dasarnya, minum tuak merupakan kebebasan pribadi. Setiap orang memiliki alasan, motivasi dan intensi yang berbeda untuk minum minuman keras. Tidak ada yang membatasi atau melarangnya, asalkan hal itu dilakukan sejauh itu baik bagi dirinya dan sesama. 

Demikian juga saat pesta (pesta sekolah atau nikah), tuak menjadi seni ekspresi diri asalkan itu sejauh tidak mengganggu kenyamanan tuan pesta dan atau tamu-tamu undangan lainnya. Apabila terjadi diluar dugaan hanya karena mabuk-mabukan, berarti ada konsekwensi jelas yang akan ditanggung. Setidak-tidaknya dia beban secara moral.

Dia minum tuak dengan tahu dan mau. Bahwa dia tahu kalau minum tuak pasti berdampak pada penderitaan diri sendiri juga orang lain. Namun dia tidak mau tahu dengan akibat yang akan terjadi. Singkatnya, dia tahu konsekwensinya tapi tidak mau tahu. Sengaja dong! 

Oleh karena itu, kenalilah diri sebelum bertindak. Berpikir dulu sebelum mengambil keputusan untuk minum miras. Kalau dalam bahasa Manggarai diungkapkan olo bet hitu po boet, neka olo boet hitu po bet!


Oleh: Nasarius Fidin

Penulis adalah Pemerhati Masalah sosial, Politik dan Budaya.

Beliau bisa dihubungi lewat email pribadinya: sarfin.fidin88.sf@gmail.com


Mau Memuat tulisan di BernasINDO.id?

Silahkan kirim ke email redaksi: redaksibernasindo.id@gmail.com

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Di Manggarai, Tradisi Minum Tuak Saat Pesta Picu Penumpahan Darah, Stop Miras!

Trending Now

Iklan