Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Peraduan Kumal, Dialog Malam, Lautan Terdalam (Karya Guidella)

Sarfin Fidin
Friday, March 11, 2022 | 11:18 WIB Last Updated 2022-03-11T05:24:41Z
Peraduan Kumal, Dialog Malam, Lautan Terdalam (Karya Guidella)
Peraduan Kumal, Dialog Malam, Lautan Terdalam (Karya Guidella), ilustrasi: google


Kumpulan puisi yang berjudul Peraduan Kumal, Dialog Malam, Lautan Terdalam Karya Guidella ini memiliki makna refleksi yang mendalam. Untuk mengetahui isi puisi-puisi tersebut, silahkan baca hingga selesai.


Karya: Guidella


Peraduan Kumal

 

Matahari menepis melepas baju kumalnya

Terduduk di peraduan  yang telah berabab usianya 

Lukanya tak terperih di atas peradaban hidupnya

Butir pasir lukai tapakmu

Tapak yang tak pernah kering oleh nestapamu

Dermaga bisu jadi saksi sandaran lelahmu


Deru ombak begitu nyata melipat duka

Sempat menggugat bulan tuk bersinar 

Dalam rapuhnya malam kelabu

Nyiur kelapa itu masih melambai, liriknya masih menyapu ruang dukaku


Mohon rincikan apa salahku..

Egomu seret aku tuk bilang selamat tinggal

Sungguh aku tak bisa...


Dialog Malam


Jemari menari-nari

Perlahan tapi pasti

Ciptakan narasi

Bukan ilusi, sepintas terlihat seperti refleksi


Malam teramat pelik, mencekik

Membendung ruang piluh

Tak terhitung sejumlah gelisah, dipaksa bisu, membeku.

Realita teramat pelik.

Lagi-lagi mencekik

Ini rasaku? Ataukah resahmu pula?


Malam-malam ketika malam sebelum malam menjumpai bayang

Terbesit pikir tuk henti berpikir

Lambat laun waktu berganti 

Rupanya pembekuan paksa ini semakin menjadi

Seperti sebuah tradisi


Kutanya saudaraku 

Ini rasaku? Ataukah resahmu pula?

Hentikan bacotanmu, lalu nikmati kopimu, jawabnya

Katanya kamu terlalu kecil untuk mengusik langit

Terlalu rapuh tuk mengorek ego

Belum pas porsimu...

Akupun terdiam dalam lamunan

Menggerutu dalam seribu bisu

Membatin...

Salahkah aku?


Lautan Terdalam


Meramu Puji

Merakit asa

Menjamu candu

 Tak selalu mudah


Kadang kala kita perlu meringkuk dalam sujud

Membasuh dalam peluk

Rengkuh terdalam 

Hingga mengarungi lautan lepas nan dalam


Atau bahkah setelah kau menyelam hingga pada kedalaman terdalam

Lalu ombak dengan entengnya datang  menerjang, hempaskan raga

Timbullah luka

Tetap saja yang kau dapat hampa

Tak apa, ombak juga bagian dari lautan


Imajinasi tidak terwatas

Tak dipagari tembok rasa

Kadang dunia penuh hirup-pikuk

Terlalu membosankan bagi kita yang lamban

Biar saja arus membawa biduk perlahan

Mengalir, terarah

Hingga pada saatnya tepian tenang akan dihantarnya untuk kita

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Peraduan Kumal, Dialog Malam, Lautan Terdalam (Karya Guidella)

Trending Now

Iklan