Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Mereka Bawa "Kabar Baik" untuk Desa (Nggorang)

Saturday, July 30, 2022 | 10:42 WIB Last Updated 2022-07-30T04:10:06Z
Mereka Bawa "Kabar Baik" untuk Desa (Nggorang)
Mereka Bawa "Kabar Baik" untuk Desa (Nggorang)


Sambil menikmati kopi dan kudapan, seorang teman coba melemparkan sebuah tema diskusi yang menurut saya sangat menarik dan berguna untuk direfleksikan. Isu diskusi itu dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. "Apakah saya boleh menjamu para tamu politik, calon Kepala Desa (Cakades) dan para calo politik mereka", pancing teman itu dengan nada setengah bercanda.

Baca: Pilkades sebagaiI Momen Festival Gagasan

Pasalnya, demikian teman tadi, "sudah ada satu 'broker politik' yang berniat mengadakan visitasi politik di rumah saya, tetapi karena masih sibuk, saya mohon kunjungan itu ditunda dulu". 

Terhadap persoalan ini, seperti biasa, saya coba tampil lebih tenang dan memberikan respon normatif. Tetapi, sebelumnya saya coba 'menebak' semacam konflik batin yang dialaminya saat ini terkait arah dukungan dalam kontestasi Pilkades Desa Nggorang.

Boleh jadi, hati dari teman ini, sudah 'tertambat' pada salah satu kontestan. Atas dasar itu, dirinya merasa tidak enak ketika calon lain datang menaklukkan hatinya. Barangkali beliau tidak mau dianggap sebagai 'manusia pengkhianat'. Cinta pertamanya pada 'calon pertama' tak ingin ternoda oleh rayuan politik dari kandidat yang datang belakangan.

Sikap menolak atau minimal 'mengambil jarak' terhadap pribadi yang bukan kandidat favorit itu, sebetulnya sah-sah saja. Selain dibaca dalam bingkai penggunaan hal politik personal, sikap semacam itu, dianggap sebagai satu bentuk konsistensi dalam menentukan pilihan. Kita tidak ingin menjadi pribadi yang tidak punya pendirian yang jelas.

Baca: "Bincang-bincang Politik" Jelang Senja

Kendati demikian, saya berpikir, tidak salah juga jika kita memberi ruang dan peluang kepada semua kandidat untuk 'bertamu' dalam wilayah hati dan pikiran kita. Mengapa? Tesis dasarnya adalah semua kandidat itu punya niat baik membawa 'kabar baik' untuk warga Desa (Nggorang). Mereka berkompetisi menyakinkan publik konstituen (warga desa) bahwa mereka mampu menjelaskan 'kabar baik' itu jika mendapat restu politik yang legitim dari publik.

Semua Cakades punya kans yang sama untuk menjadi the next leader di level Desa. Pemenang kontestasi, entah figur favorit, atau yang masuk kategori rival politik, like or dislike, pasti menjadi pemimpin desa kita juga. Karena itu, alih-alih 'membuang muka' kepada kubu yang dianggap kompetitor, sebaiknya kita memperlakukan para kandidat itu secara setara. Sikap diskriminasi dan pembatasan ruang gerak kandidat lain, berpotensi melahirkan 'dendam politik' yang tentu saja kontraproduktif dalam ikhtiar memanifestasikan proyek kesejahteraan publik di tingkat Desa.

Visitasi politik para kandidat mesti menjadi momentum bagi publik dalam "menangkap dan menilai" mutu figur. Untuk itu, sedapat mungkin, para pemain politik berlomba-lomba mempresentasikan politik konsep, gagasan, dan ide bermutu dalam setiap sesi kunjungan itu. Publik pun, hemat saya, mesti terus 'memprovokasi' para calon untuk membongkar secara kreatif "isi kepalanya" dalam memoles wajah Desa ke arah yang lebih baik.

Baca: Jangan 'Terpukau' dengan Dana Desa

Kita juga berharap agar para Cakades tidak boleh sungkan atau enggan 'menjumpai' kelompok tertentu yang dianggap sebagai basis dari calon lain. Hemat saya, dalam musim kontestasi politik seperti Pilkades, garis pemisah antara 'daerah dominasi' calon yang satu dengan yang lainnya, tidak dibuat secara kaku dan final. Masing-masing kandidat punya potensi yang sama untuk mendapatkan simpati dari publik konstituen.

Jangan terpengaruh dengan 'stempel politik' yang sengaja dihidupkan dalam ruang wacana. Publik konstituen adalah warga Desa dari Anda semua yang berkehendak menjadi pemimpin. Karena itu, mari 'menjamah mereka' sebagai warga Desa, bukan sebagai kelompok politik yang sudah masuk dalam perangkap politik dari calon tertentu.


Oleh: Sil Joni*

*Penulis adalah warga Desa Nggorang.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Mereka Bawa "Kabar Baik" untuk Desa (Nggorang)

Trending Now

Iklan