Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Pembelajar Sejati (Apresiasi untuk Dua Ibu Guru SMKN 3 Komodo)

Tuesday, August 30, 2022 | 15:35 WIB Last Updated 2023-02-08T08:34:19Z

Oleh: Sil Joni*


Pembelajar Sejati (Apresiasi untuk Dua Ibu Guru SMKN 3 Komodo)
Pembelajar Sejati (Apresiasi untuk Dua Ibu Guru SMKN 3 Komodo)



BernasINDO.id-In House Training (IHT) Implementasi Kurikulum Merdeka pada Program SMK Pusat Keunggulan (PK) tingkat SMK Stella Maris sudah memasuki hari keempat. Hari ini, Senin (30/8/2022) para peserta mulai 'dituntun' untuk bergumul secara serius proses penyusunan atau pembuatan perangkat ajar. Setiap elemen dalam pembuatan dokumen ajar itu, dijelaskan secara detail dan mendalam. Para pemateri juga membuat semacam 'simulasi atau latihan konkret' bagaimana menghasilkan modul ajar dalam Kurikulum Merdeka ini.


Baca: Pentingnya Komunikasi Tertulis Bagi Siswa ULP


Tulisan ini, tidak bermaksud melaporkan secara utuh pelbagai kegiatan dan dinamika dalam IHT hari keempat tersebut. Saya terkesan dengan dua sosok ibu guru dari SMKN 3 Komodo yang begitu semangat dan setia mengikuti seluruh rangkaian pelatihan sejak hari pertama hingga hari keempat ini.


Ibu Viktoriana Susanti Dadur dan ibu Atanasia H.S.  Agung adalah figur yang dimaksud. Ibu Santi, sapaan akrab dari Viktoriana Susanti Dadur merupakan guru produktif untuk program studi Seni Tari di SMKN 3 Komodo. Sedangkan, ibu Sasti, panggilan manis dari ibu Atanasia H. S. Agung adalah guru produktif untuk program studi Ekowisata dan Wisata Bahari pada lembaga yang sama.


Terlepas bahwa  keduanya 'diutus' oleh Kepala SMKN 3 Komodo, saya melihat bahwa dua ibu guru ini telah memperlihatkan salah satu spirit dasariah dari seorang guru sebagai "pembelajar sejati". Betapa tidak. Keduanya begitu tekun dan antusias mengikuti setiap item kegiatan dalam pelatihan ini.  Rasa ingin tahu mereka tentang esensi dan pelbagai hal teknis dalam menjabarkan Kurikulum Merdeka di SMK sangat tinggi.


Rasa ingin tahu yang besar itulah yang mendorong mereka untuk 'terbuka' dan mau menimba banyak hal dalam IHT ini. Dalam sebuah sesi 'umpan-balik', ibu Santi dengan jujur mengakui bahwa IHT ini sangat berguna bagi peningkatan kompetensi mereka dalam mendesain dan mengimplementasikan kurikulum berbasis kebutuhan peserta didik.


Kegigihan dua sosok ini dalam 'mempelajari hal baru' bisa menjadi preseden yang baik bagi guru yang lain juga. Seorang guru itu, pertama-tama harus tampil sebagai sosok pembelajar seumur hidup. Peningkatan kompetensi profesional, pedagogi, sosial, dan individual, hanya bisa terwujud jika dan hanya jika, guru tidak pernah berhenti untuk 'belajar'. Guru yang berhenti atau tidak mau belajar, bakal menjadi guru kerdil. Bahkan, secara ekstrem dikatakan bahwa pribadi semacam itu tidak layak menjadi guru.


Untuk diketahui bahwa SMKN 3 Komodo saat ini belum secara resmi menerapkan Kurikulum Merdeka. Tetapi, rupanya sang pemimpin Ibu Hortensia Herima, sudah berpikir visioner dan antisipatif. Sebelum Kurikulum itu disosialisasikan di lembaga itu, para guru sudah memiliki semacam 'pengetahuan dasar' sehingga tidak mengalami kendala dalam penjabarannya.


Menariknya, ibu Herima selaku Kepala Sekolah tidak sungkan untuk mengirim 'anak buahnya' untuk mengikuti IHT di sekolah lain. Ini sebuah bentuk pemanifestasian spirit kolaborasi dalam dunia pendidikan. Para guru itu 'dikirim' untuk menimba dan mendapatkan pelbagai hal positif yang bisa diterapkan secara kreatif di sekolah. Spirit saling berbagi dan mendukung semacam ini, tentu sangat berguna dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan secara merata di wilayah kita. Dengan kolaborasi yang produktif, realitas ketimpangan, bisa diminimalisasi.


Atas dasar itu, rasanya tidak lengkap jika apresiasi itu diberikan kepada dua sosok ibu guru di atas. Saya kira, sang Kepala Sekolah, ibu Hortensia Herima sangat pantas mendapatkan apresiasi, terutama atas 'ketajaman intuisinya' dalam mengoptimalisasi kerja kolaboratif dalam bidang pendidikan. Ibu Herima tahu betul bahwa lembaga yang 'tertutup atau tidak terbuka' dengan kerja positif dari lembaga lain, pasti sangat lambat bahkan sulit mengalami lompatan kemajuan yang signifikan.


Saya kira, kerja sama seperti ini perlu ditingkatkan di masa mendatang. Keberadaan sekolah lain tidak lagi dipandang sebagai 'saingan', tetapi partner yang mempunyai visi sama, membentuk insan muda yang berkualitas. Kerja kolaboratif dalam mewujudkan visi mulia itu, menjadi sebuah keharusan dan relevan saat ini.


Baca: Guru dan Pembelajaran Paradigma Baru (Sebuah Refleksi Otokritik)


Akhirnya, kita mengucapkan selamat dan profisiat kepada dua Srikandi SMKN 3 Komodo ini yang entah disadari atau tidak, telah memberikan contoh tentang guru sebagai 'sosok pembelajar sejati'. Kamu sudah memberi warna beda dalam IHT ini sekaligus mewartakan spirit baru kepada para guru SMK Stella Maris khususnya dan para staf pengajar umumnya.

 


*Penulis adalah Staf Pengajar SMK Stella Maris Labuan Bajo.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pembelajar Sejati (Apresiasi untuk Dua Ibu Guru SMKN 3 Komodo)

Trending Now

Iklan