Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Kemarahan: Jembatan Kekusutan Tak Berujung

Sarfin Fidin
Thursday, December 2, 2021 | 13:23 WIB Last Updated 2021-12-06T02:44:13Z

 

Kemarahan: Jembatan Kekusutan Tak Berujung
(foto istimewah)


[..Kita harus membuat keputusan setiap hari untuk percaya bahwa ketidakbaikan adalah racun yang tidak ingin kita minum atau berikan kepada orang lain..]

Keadaan relax atau santai sering diasosiasikan dengan jembatan terpendek antara kekusutan dan kebahagiaan seseorang. Sementara kemarahan adalah jembatan kekusutan yang tak berujung. Ya, kemarahan adalah jalan panjang menuju ketidakbahagiaan. Tidak memiliki efek "riak" bagi orang lain dan diri sendiri. 

Mari kita jelajahi konsep kemarahan. Saya percaya bahwa kemarahan memiliki dua komponen; Apa yang kita rasakan dan Apa yang kita lakukan dengan perasaan kita. Tidak lebih dan tidak kurang. Kebanyakan dari kita bukannya tidak baik, kita hanya dikondisikan untuk menjadi kejam saat kita marah. 

Siapa yang tidak pernah marah. Semua merasakan kemarahan, tetapi ada perbedaan utama antara mereka yang merasakan kemarahan dan meneruskan perasaan itu dan mereka yang memprosesnya dengan cara yang sehat. Dengan kata lain, kita harus membuat keputusan setiap hari untuk percaya bahwa ketidakbaikan adalah racun yang tidak ingin kita minum atau berikan kepada orang lain. 

Kemarahan bukanlah jalan terbaik untuk menghadapi emosi. Jika sebagian dari kita berpikir bahwa kemarahan dibenarkan, kita akhirnya memberi restu untuk mengekspresikan kemarahan. Semakin kita memberikan izin kepada pikiran kita untuk marah pada orang lain, semakin sulit bagi kita menemukan kebaikan yang potensial. Kehadiran kita pun dianggap neraka oleh orang lain. 

Saya pribadi percaya bahwa jika kita semua membiarkan kebaikan kita sendiri menang setiap hari, kita akan lebih bahagia, dan dunia akan lebih cerah. Ingatlah, kebanyakan dari kita bukannya tidak baik, kita hanya dikondisikan untuk menjadi kejam saat kita marah.  

Penting untuk disadari bahwa kita harus membuat keputusan setiap hari untuk percaya bahwa ketidakbaikan adalah racun yang tidak ingin kita minum atau berikan kepada orang lain. Penting bagi kita untuk menemukan cara untuk membela diri kita sendiri dengan cara yang baik dan terhormat.  

Terkadang yang kita lakukan hanyalah mengambil napas dalam-dalam, berdiam diri atau berjalan mendapatkan ruang alam bebas untuk menenangkan diri dan membiarkan kemarahan menghilang. Dengannya, kita menyelamatkan diri dari menyebabkan kerusakan atau menyakiti orang lain. 

Mungkin kita semua pernah meluncurkan batu ke air yang tenang. Dampak dari batu itu bisa menciptakan efek riak di seluruh kolam atau sungai sampai riak-riak itu mencapai tepi air. Itu bisa menjadi pengalaman yang indah, dan itu juga menggambarkan bagaimana tindakan kita memengaruhi orang lain.

Ketika kita menunjukkan cinta dan kebaikan kepada orang lain, perasaan itu mengalir ke orang-orang di lingkaran kita dan mungkin jauh lebih luas. Logika yang sama juga berlaku untuk kebencian atau kemarahan . 

Betul bahwa kita tidak selalu dapat mengontrol apa yang dilakukan orang lain, tetapi kita memiliki kekuatan atas tindakan kita dan menyumbangkan riak kita sendiri ke dunia. Setelah kita mengenali ini, pertanyaannya adalah apakah kita ingin menyumbangkan kemarahan dan kebencian, atau cinta dan kebaikan.

Quezon City
Garsa Bambang, MSF
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kemarahan: Jembatan Kekusutan Tak Berujung

Trending Now

Iklan