Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Duka Gadis Desa (Cerpen Severinus M. Deo)

Sarfin Fidin
Sunday, March 20, 2022 | 07:44 WIB Last Updated 2022-03-20T05:05:11Z

Duka Gadis Desa (Cerpen Severinus M. Deo)
Duka Gadis Desa (foto: Severinus M. Deo)


Oleh : Severinus M. Deo


Duka Gadis Desa - Sesosok tubuh baru saja lewat, menyusuri lorong sekolah. Laju langkahnya sepoi, seakan diatur mengikuti pola jalan yang benar. Santun. Parasnya memukau, berpenanmpilan sederhana dengan potongan seragam putih abu-abu yang apik. Kesederhanaannya telah melunakkan kebekuan rasa kaum hawa. Bukan karena embel-embel perhiasan mewah, ia justru terampil menata penampilan sederhana tapi kelihatan luar biasa. Nama panjang gadis itu Maria Sulastri Karla. Teman-teman sekelas memanggilnya Karla. Di sekolah karla diberi gelar bidari oleh laki-laki pengagumnya. Betapa tidak dibalik kesederhanaan penampilannya ia ternyata sangat cerdas. 

Baca: Sosok si Gadis Berbau Mawar

“Haii bro,,, kenapa bengong”. Niko tersentak kaget.

“Ah,, bikin kaget saja. Saya itu lagi mikir bagaimana caranya bisa dekat sama karla”. Suara Niko melambung pelan sambil menepuk bahu Iksan. 

Niko salah satu di antara senior Karla yang hatinya ikut terjaring kasmaran. Terpikat dengan sosok Karla. Tepatnya, Ia jatuh cinta dengannya. Cukup lama Niko memendam rasa cintanya. Hanya saja ia merasa belum siap untuk mengatakan. Namun semakin ia menahan diri, semakin ia terdesak untuk mencari strategi yang ampuh. Ia yakinkan dirinya bahwa sebagaimana hidup hanya sekali begitu juga orang yang benar-benar dicintai itu tidak datang dua kali. Kali ini ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. “Hanya dan untuk Karla saja cintaku tercurah”. Batin Niko.

****

Lima bulan sudah, Karla membasuh diri di timba asmara bersama Niko. Menapaki bermil-mil jauhnya ke padang asmara. Hingga mata jernih lupa melihat jalan pulang. Bagi Niko lima bulan berada di sisi Karla seperti lima detik pada satu jengkal menit yang sama. Singkat. Hari-hari dilaluinya dengan girang. Ia tak lagi peduli mengurusi bandit-bandit penghalang lajunya percintaannya. Ia memposisikan dirinya sebagai pendamping abadi bagi Karla. Tentu itu tidak bermasuk mengelompokkan dirinya sebagai penganut paham eksklusivisme yang konsisten, yang memilih dan merangkul orang yang ia suka dan menolak kebersamaan dengan orang yang tidak masuk dalam kategori orang yang ia suka. Bukan. Karena ini perihal cinta asmara. Cinta yang tak perlu kata menurut saya atau hemat saya atau sejatinya. Bukan. Cinta yang tak membutukan sederetan uraian alasan. Sebab cinta bukan spekulasi, tapi menyangkut hati dan rasa.

Baca: Pengembala Sapi Menjadi Pemimpin

“Selamat pagi kaka…”. Pesan karla melalui via whatsapp.

“Juga dk, tumben chat pagi-pagi begini?” Balas Niko.

“kk, saya minta kesedian nanti sore kita ketemu di taman kota ya, tempat biasa”.

“ok dk, siap”. Balas Niko lugas.

****

Kisrus suara kendaraan kota, lalu lalang orang-orang berdatangan menempati taman kota belum cukup mengusir jenuh diam yang mematung. Niko duduk merunduk, malu bagaimana memulai pembicaraan. Diam-diam melirik ke sisi kiri menengok rupa sosok jelita yang dicintainya. Ia kelalapan, sedikit bingung. Ia mengendus penuh curiga pada raut wajah Karla yang pasi. Karla masih mematung melongo. Sesekali pandangannya mendongak melangit. Keduanya belum ada yang berani bersuara. Niko sendiri canggung, sementara Karla seakan tak peduli pada keheningan itu.

“Karla, kok kita pada diam ya”, suara Niko tersembul dengan sedikit kaku memecah diam yang membeku. Niko sedikit menaruh curiga padanya. 

“Karla, kamu kenapa? Apa yang sebenarnya teradi padamu”? 

Kaka,, mulai besok aku tidak lagi ke sekolah. Aku akan pindah sekolah di kampung. Aku tidak tahan lagi dengan ocehan teman-teman. Yah,, aku sadar aku seorang sederhana. Tapi salahkan saya bila mengenyam study di tempat seperti ini. Setahuku setiap orang memiliki hak dan kebebasan, sekolah dimana dia suka asalkan kemampuannya bisa menunjannya. Lagi pula di gerbang sekolah tidak menuliskan “sekolah khusus untuk anak kota”, bukan? Dan saya harap kamu memaklumi pilihan saya ini Riko. Ini adalah jalan bijak yang bisa kulalui dari derita seorang pelajar. Aku hanya tidak mau menambah beban beban lain yang harus saya pikul selain tugas sekolah Riko”. Tangisan Karla pecah. Ia lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Riko. Ia membisik pelan pada kuping Riko. 

“Riko aku harap engkau mengikhlaskan kepergianku, keputusan ini mungkin berat bagimu, tapi ini demi kesembuhan hatiku yang tergores ocehan bully. Aku mencintaimu Riko”. 

Baca: “Mereka Itu Jebolan Loyola”

****

Suasana kesahajaan kampung senja itu menyajikan panorama yang memukau. Secangkir kopi dan sepiring ubi rebus sudah tersaji di atas tikar di beranda rumah. Lama karla mematung, merangkai pengertian sederhana yang mengubah deru duka hatinya perlahan-lahan. Ia membayangkan dirinya menanggalkan kuk yang dipikulnya bertahun-tahun, melepaskan label predikat yang mengatakan ia bukanlah siapa-siapa. Separuh diri yang ia pikir hilang ternyata tidak kemana-mana. Ada di tempat terdekatnya. Di lubuk terdalam relung. Masih menyatu utuh. Ia melepas sejumput senyum tulus. Legah.

Karla berhasil menata kepingan remuk sesal dan amarah. Betapa selama ini ia sibuk memoles bentuk raga agar kelihatan memesona dan menjaga keasrian rupa. Bahkan sejumput doa selalu ia lambungkan setiap malam agar selekar fajar tiba jangan ada rontaan olok yang menggerotinya. Pilihan katanya bernuansa protes, ia protes dengan tuhannya, mengapa dirinya menjadi bahan gunjingan dan olokan dari teman sebayanya.

“Kesempurnaan apa yang belum kau berikan tuhan, bukankah aku ini manusia ciptaanmu juga sama seperti mereka? Apa kurangnya aku dan apa lebinya mereka?”. 

Karla terjaga dari sepakterjang suramnya. Lamat-lamat ia membingkai senyum legah. Ia sadar kesederhanaan adalah kesejatian hidup.

 

Penulis adalah Biarawan OSM sedang merantau di Eropa

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Duka Gadis Desa (Cerpen Severinus M. Deo)

Trending Now

Iklan