Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

“Mereka Itu Jebolan Loyola”

Sarfin Fidin
Thursday, March 17, 2022 | 17:52 WIB Last Updated 2022-03-17T11:09:58Z

 

“Mereka Itu Jebolan Loyola”
“Mereka Itu Jebolan Loyola” (foto istimewah)

Oleh: Sil Joni*


Mereka Itu Jebolan Loyola-Nama ‘Loyola’ bagitu masyur pada dekade 80-an sampai 90-an.  Kepopuleran nama itu, mungkin salah satunya tidak terlepas dari fakta bahwa SMAK St. Ignatius Loyola merupakan Sekolah Menengah Atas pertama di wilayah ujung Barat Nusa Bunga. Boleh dibilang komunitas etnis yang mendiami wilayah Kempo, Boleng, Mata Wae, Mburak, Nggorang dan Labuan Bajo kala itu, hanya ‘tahu’ satu nama, yaitu Loyola, ketika hendak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. 

Baca: Soal MPP yang Dipimpin Wapres RI, Ma’ruf Amin di Labuan Bajo, Begini Kata Bupati Hery Nabit

Data sejarah menunjukkan bahwa sekolah ini didirikan pada tahun 1983. Itu berarti, tahun depan (2023), usia sekolah ini akan genap lima windu (satu windu itu 8 tahun sehingga 5 windu sama dengan 40 tahun). Segenap civitas akademika, para alumni, para donatur, pemerintah Manggarai Barat (Mabar) , Gereja Keuskupan Ruteng, dan masyarakat Mabar umumnya bakal ‘merayakan’ pesta “Pancawindu” atau 40 tahun dari almamater tercinta ini.

Saya tidak tahu pasti sejak kapan dan mengapa nama orang kudus (Santo) Ignatius Loyola dijadikan ‘Pelindung Lembaga’ ini. Pun soal ide dari siapa dan apa argumentasinya sehingga ‘pendiri Serikat Yesus (Jesuit)’ itu dijadikan nama utama lembaga. Padahal, kita tahu bahwa Tarekat Jesuit tidak pernah berkarya di wilayah ini. Societas Verbi Divini (SVD) atau Serikat Sabda Allah mendapat kesempatan istimewa untuk ‘mengelola dan mengasuh’nya sampai saat ini. Lalu, mengapa bukan nama Arnoldus Janssen atau Josef Freinademetz yang adalah nama-nama tenar dalam konggregasi itu untuk dijadikan ‘pelindung sekolah’? Tentu, sangat menarik jika kita berusaha untuk ‘menggeledah’ runutan kisah sejarah dari lembaga ini, baik yang bersumber dari ‘para saksi mata yang masih hidup’, maupun dari dokumen tertulis yang tersimpan rapi pada bagian kearsipan lembaga itu.

Baca: Pesan di Atas Kertas Putih (Cerpen Yakobus Syukur SMM)

Tulisan ini, tidak berintensi untuk ‘membentangkan’ secara utuh lintasan sejarah sekolah mulai periode awal hingga saat ini. Fokus utama saya adalah ‘menggemakan kembali’ kesan spontan masyarakat tentang SMAK St. Ignatius Loyola Labuan Bajo dan performa para alumninya di masa lalu. Catatan kenangan itu, kalau dapat tidak sekadar ritual nostalgia, tetapi juga ada sejumput makna yang mesti kita refleksikan secara serius.

Akhir tahun 80-an dan awal tahun 90-an, saya masih berada di tingkat Sekolah Dasar (SD). Kendati masih belia, tetapi ‘berkat asupan pengetahuan’ para guru SD waktu itu, saya sudah mulai mengerti ‘apa yang dipercakapkan’ kebanyakan orang tentang SMAK St. Ignatius Loyola. 

Terus terang, kiprah dan debut akademik SMAK St. Ignatius Loyola kala itu, menjadi semacam ‘trending topic’ di tengah masyarakat yang berdomisili di ujung Barat Pulau Flores. Umumnya, mereka sangat ‘bangga’ dengan performa lembaga itu. Selain memberi porsi perhatian yang besar pada aspek akademik, SMAK Loyola di Mata masyarakat memiliki beberapa keunggulan. 

Baca: Filosofi Nai Ca Anggit Tuka Ca Leleng dan Peran pemuda sebagai Agent Of Change (Pemuda dalam Menangkal Politik Identitas di Indonesia)

Pertama, disiplin. SMAK St Ignatius Loyola tempo doeloe dikenal luas sebagai salah satu sekolah yang sangat memperhatikan kedisiplinan dalam pelbagai aspek. Kedisiplinan menjadi ‘elemen kunci’ mengapa lembaga ini relatif unggul dari beberapa SMA lain di kawasan Barat. Saya kira, praktik hidup yang serba disiplin itu, dimungkinkan oleh sistem pengelolaan sekolah ‘berasrama’ yang sudah menjadi semacam ‘trademark’ dari sekolah ini.

Boleh jadi, waktu itu, ada aturan yang ‘mewajibkan’ semua siswa/i untuk tinggal di asrama. Nama asrama Arnoldus untuk putra dan asrama Arnolda untuk putri cukup tenar waktu itu. Hemat saya, mungkin manajemen sekolah ‘berasrama’ inilah yang membuat SMAK St Ignatius Loyola menjadi opsi favorit atau rebutan tamatan SMP. 

Kedua, pengembangan bakat dan kreativitas. Terus terang, untuk urusan ‘pengasahan bakat dan kreativitas’, SMAK St. Ignatius Loyola selalu ‘disegani’ dan menjadi yang terdepan. Dulu, pasukan ‘Marching Band/drumband anak-anak Loyola’, selalu menjadi menu acara yang ‘ditunggu-tunggu’ oleh publik kota Labuan Bajo. Mereka sukses ‘merebut’ perhatian para warga melalui penampilan yang memukau dan berkelas. 

Dalam bidang olah raga, khususnya Bola Kaki dan Bola Volley, SMAK selalu menjadi ‘langganan juara’. Tim Bola Kaki SMAK tempo doeloe, sangat ditakuti dan diperhitungkan  oleh tim lawan dalam pelbagai turnamen. Kesebelasan Loyola selalu tampil menghibur dan memberikan ‘warna’ yang berbeda. Bahkan ketika beberapa di antara mereka mengikuti pertandingan dalam rangka merayakan Natal dan Paskah di paroki-paroki, penonton sudah bisa menebak bahwa ‘pemain yang hebat’ itu pasti siswa SMAK St. Ignatius Loyola.

Hal yang sama terjadi di bidang musik. Performa Grub Band Loyola selalu mengundang ‘decak kagum’ dari publik penonton. Acara ‘Show Band’ yang difasilitasi oleh Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), tak pernah sepi peminat. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa anggota (kru) Loyola Band, menjadi ‘idola’ anak-anak remaja kala itu. Loyola band benar-benar menjadi ‘Band rujukan’ dan bisa mengispirasi penonton untuk menekuni dunia itu.

Baca: Sekolah Online, Nasib Anak Kelas Satu SD

Ketiga, pengembangan kepribadian (aspek mental dan kerohanian). Selain sebagai ‘wadah menimba ilmu’, SMAK St. Ignatius Loyola, rupanya telah menjelma menjadi medan pengaktualisasian pelbagai potensi yang ada dalam diri siswa. Lembaga ini berhasil mengkreasi ruang yang luas agar siswa boleh ‘berproses’ secara bebas dan kreatif. Iklim pembinaan yang demokratis memungkinkan para siswa ‘tampil percaya diri’ di depan publik. 

Lulusan SMAK St. Ignatius Loyola selalu ‘laku’ di tengah masyarakat. Saya masih ingat beberapa tamatan Loyola akhir tahun 80-an dan awal 90-an sangat ‘disukai’ masyarakat karena dianggap ‘serba bisa’. Mereka tampil hebat ketika dimintai untuk menjadi Master of Ceremony (MC) atau moderator sebuah acara, memimpin rapat, menyampaikan pendapat, sebagai dirigen, pelatih koor, pemain musik (gitar adalah musik andalan waktu itu), membawakan pidato atau sambutan, memimpin ibadat mulai dari tingkat KBG hingga paroki, dan aneka kegiatan lainnya. 

Tegasnya, para alumni Loyola ‘selalu menjadi orang terdepan’. Saya tidak pernah melihat atau mendengar kesan negatif, setidaknya di Desa saya, tentang performa para alumni Loyola saat itu. Sebaliknya, kalimat yang sering saya tangkap dan simpan sampai saat ini adalah ‘mereka itu jebolan Loyola’. Masyarakat cukup kritis untuk membuat semacam pembedaan antara tamatan Loyola dan tamatan dari SMA yang lain. 

Meski tidak memperkenalkan diri secara resmi, tetapi hanya dengan melihat dan merasakan pesona kepribadian dan pelbagai keunggulan yang dipunyai oleh individu tertentu, masyarakat sudah bisa menebak bahwa orang itu ‘tamat atau seklurang-kurangnya pernah mengenyam pendidikan’ di Loyola. Pancaran kepribadian dan kualitas diri para alumni sebagai ‘buah dari proses pendidikan di panti SMAK Loyola’ menjadi garansi pengakuan orang terhadap eksistensi lembaga ini. Ketika animo dan antusiasme masyarakat begitu tinggi untuk ‘mengirim dan menitipkan putra-putri’ mereka di lembaga ini pada periode itu, maka saya kira itu adalah bentuk penghargaan dan kepercayaan yang tak terbantahakan.

Ada semacam kerinduan dan harapan agar ‘anak-anak mereka’ boleh menyerupai atau melebihi ‘jebolan Loyola’ terdahulu itu. Citra ‘mereka itu jebolan Loyola’ tertanam kuat dalam diri masyarakat dan coba berimaji agar kelak anak saya pun boleh masuk dalam barisan ‘Mereka Itu Jebolan Loyola’. Ini sebuah modal sosial yang setidaknya berhasil dirawat dengan baik oleh SMAK St Ignatius Loyola hingga akhir tahun 90-an. 

Dengan itu, semboyan St. Ignatius yang juga menjadi motto lembaga ini, Ad Maiorem Dei Gloriam (Demi keagungan Tuhan yang lebih besar) benar-benar ‘terinkarnasi’. SMAK St. Ignatius Loyola pada ‘periode kajayaannya’ itu, tampil sebagai ‘bentara’ untuk menambah keagungan Tuhan melalui rupa-rupa prestasi dan karya yang ditorehkan oleh para alumninya hingga detik ini. 

Saya tidak pasti apakah ‘citra positif’ SMAK tempo doeloe yang terjelma dalam ungkapan ‘Mereka Itu Jebolan Loyola’ masih ‘hidup’ di tengah masyarakat di kawasan Barat Nusa Bunga ini? Sebagai alumnus, besar harapan saya agar kalau dapat para pemangku kepentingan di lembaga ini ‘berjuang sekuat tenaga’ agar masa keemasan Loyola kembali ‘hadir’, sesuai dengan spirit zaman. 


*Penulis adalah alumnus SMAK St. Ignatius Loyola tahun 1999.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • “Mereka Itu Jebolan Loyola”

Trending Now

Iklan