Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Hambor Dalam Budaya Manggarai: Momen Saling Memaafkan dan Berdamai

Sarfin Fidin
Tuesday, March 1, 2022 | 12:04 WIB Last Updated 2022-03-01T05:21:18Z
Hambor Dalam Budaya Manggarai: Momen Saling Memaafkan dan Berdamai
Hambor Dalam Budaya Manggarai: Momen Saling Memaafkan dan Berdamai


Oleh: Pius Kanelmut (Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang)


Hambor dalam budaya Manggarai menjadi momen saling memaafkan dan berdamai tatkala ada persoalan dalam kehidupan. Perlu diakui bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari persoalan atau konflik. Entah persoalan dalam lingkup keluarga maupun dalam ruang masyarakat. Yang pasti persoalan tidak pernah membuat tata hidup bersama berlangsung harmoni. Sebaliknya, konflik akan membuat sosialitas menampilkan pemandangan tidak manusiawi. Dalam konflik, yang lain dipandang sebagai musuh bagiku yang karenanya perlu dihindari, disangsikan atau pada titik ekstrem perlu ditiadakan. 

Baca: Indra Kenz Yang Memiliki 17 Daftar Aset dengan Nilai Rp 100 Miliar Lebih Ternyata Youtuber

Demikian halnya dengan orang Manggarai. Kehidupan sehari-hari sering menampilkan fenomena serupa. Kakak membunuh adik, anak memukul orang tua atau kampung A menyerang kampung B. Berhadapan dengan pemandangan seperti ini akan membuat mata tidak mampu menyaksikan keindahan dari kebersamaan. Seolah-olah kebersamaan tidak memiliki makna yang bermartabat. Seolah-olah situasi konflik menjadi sebuah perayaan yang perlu diapresiasi. Yang darinya Aku bisa dianggap jantan, jago atau apa pun sebutan sepadannya. Sadar atau tidak, konflik adalah sebuah pemandangan tidak manusiawi. Karena situasi konflik, manusia tidak menampilkan kodratnya sebagai yang beradab dan sebagai yang rasional.

Salah satu jalan yang bisa ditempuh sebagai upaya perdamaian yakni melalui apa yang disebut hambor. Hambor merupakan kata bahasa Manggarai yang artinya rekonsiliasi, yaitu tindakan maaf dan pengampunan. Maka hambor untuk konteks orang Manggarai menjadi penting. Mengapa? Karena hambor itu sebuah cetusan dari kesadaran manusiawi. Hambor merupakan tindakan yang lahir dari kesadaran manusia akan segala kekuatan dan kelemahannya. Dengan hambor manusia berani mengupayakan rekonsiliasi, yaitu sebuah perjuangan yang tulus untuk menatap kebenaran yang sempat terlindas salah paham di masa lalu dan kerendahan hati mendeklarasikan permohonan maaf terhadapnya, sehingga bisa tegar melangkah ke masa depan. 

Baca: Pengaruh Game Online dalam Dunia Pendidikan

Adalah sebuah pemandangan mengharukan ketika menyaksikan seorang anak berlutut di hadapan orang tuanya karena pernah terlibat adu mulut. Sang anak bersujut meminta maaf atas perbuatannya dan berharap mendapat pengampunan dari orang tua. Pelukan dan air mata ayah-ibu kemudian membuat perbuatannya dimaafkan. Yang terjadi di sana adalah ketulusan dari permohonan maaf dan kesediaan dalam memberi pengampunan. Di sana ada hambor antara anak dan orang tua. Mengalami peristiwa itu akan membuat hati diliputi rasa suka cita dan damai yang mendalam. 

Hambor dengan demikian, sebuah tindakan saling “maaf” dan saling memberi “pengampunan”. Di sini maaf dimaknai sebagai tindakan pembaharuan diri. Ketika anak menampilkan sikap hati yang maaf kepada orang tua, ketika itulah anak melakukan pembaharuan atas dirinya. Maka maaf memiliki kedalaman relasi yang memungkinkan hati jadi baru. Maaf tidak selalu mengandaikan kesalahan yang karenanya perlu meminta maaf. Maaf pertama-tama ialah ucapan hati untuk menandakan bahwa aku tidak mau menyakiti siapa saja. Hanya maaf yang memungkinkan pengampunan bisa berlangsung. Dengan maaf, orang akan berhenti sejenak menyimak apa yang telah dilakukannya. Di sinilah letak keindahan dari maaf. Yaitu, menjadi momen sebentar, di mana manusia melihat dirinya secara baru mengenai hubungannya dengan yang lain. 

Baca: Di Penghujung Malam Pesta (Cerpen Pius Kanelmut)

Jadi, hambor bermaksud bukan untuk melihat benar dan salah. Bukan upaya untuk menjunjung tinggi yang dinilai benar dan meniadakan yang salah. Sebaliknya, hambor itu sebuah upaya rekonsiliasi, yaitu usaha memulihkan relasi. Di sana terdapat usaha penyatuan kembali sebuah relasi yang sudah retak. Maka bisa dipahami bahwa hambor bukan saat untuk menaruh dendam, tetapi untuk menampilkan keluhuran martabat dan harkat manusia sebagai manusia. Dengan hambor, orang akan mampu menghormati diri sendiri dan karenanya terdorong untuk menghormati yang lain. 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Hambor Dalam Budaya Manggarai: Momen Saling Memaafkan dan Berdamai

Trending Now

Iklan