Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Di Penghujung Malam Pesta (Cerpen Pius Kanelmut)

Sarfin Fidin
Monday, February 28, 2022 | 05:03 WIB Last Updated 2022-02-27T22:07:18Z
Di Penghujung Malam Pesta (Cerpen Pius Kanelmut)
Di Penghujung Malam Pesta (Cerpen Pius Kanelmut) - foto istimewah


Oleh: Pius Kanelmut

Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang


Di penghujung malam pesta, suasananya semakin hening. Dalam kamar hanya ada aku seorang diri yang sedang belajar hidup sendiri. Mataku menerawang jauh di atas langit-langit kamarku. Aku hampir tak mau sabar setelah satu minggu melewati situasi seperti ini. Hatiku bergetar seakan memaksaku untuk menangis. Aku pun segera duduk dan merenungkan hidupku yang telah berlalu. Aku teringat akan peristiwa di penghujung malam itu. Seketika itu aku menjadi sedih merasa tak sanggup meninggalkan peristiwa itu. Aku mau peristiwa itu terulang kembali. Namun, waktu sepertinya kurang sanggup untuk kembali.

Tepatnya di malam tanggal 19 bulan April. Aku diajak oleh temanku menghadiri sebuah pesta. Tanpa berpikir panjang aku pun segera mengiakan dan pergi di kala malam tiba. Di tempat pesta aku tampak bahagia. Sepertinya ada sesuatu yang mendukung suasana hatiku. Hatiku bergetar saat melihat sosok perempuan cantik yang duduk jauh di depanku. Sesekali ia menatap ke arahku. Hatiku makin keras bergetar. Aku juga tidak tahu, mengapa demikian? Perempuan ini memiliki aura tersendiri untuk menggetarkan hati setiap laki-laki yang menatapnya. 

"Selamat malam kak?" Sapanya. Aku kaget mendengarnya, sebab ia sudah di sampingku. Aku tak berani menatapnya lebih lama. Dari tatapannya, ia terus memaksaku untuk menjawab ucapannya. Aku tersipu malu dibuatnya. 

"Malam juga Nia" jawabku seadanya. Nama perempuan ini Nia. Lengkapnya Alenia Koyaya. Indah sekali ketika kusebut namanya. Lembut sekali ketika kudengar suaranya. Sikapnya yang berbudaya membuatku semakin tak berdaya. Berkulit hitam manis. Rambut lurusnya dibiarkan terlepas, namun terlihat sangat rapi, serapi penampilannya. Nia adalah adik kelasku waktu SMP. Sudah empat tahun aku tidak pernah melihatnya. Kini Nia terlihat semakin cantik. Sekarang aku enggan mendekatinya. Nia terlalu cantik. 

Namun tak lepas Nia menatapku dalam-dalam. Sepertinya Nia merasakan tatapanku. Tak ada kata terucap. Akhirnya aku dan Nia tersenyum puas. 

Senang sekali rasanya berada di dekatnya. Hatiku terus bergetar memaksaku untuk mengatakan yang sejujurnya tentang perasaanku kala pertama melihatnya malam ini. Sepertinya aku tak sanggup. Aku tak pantas buat wanita tipe Nia. Nia terlalu sempurna. 

“Kak, aku senang sekali melihat kehadiranmu malam ini. Mimpiku yang selama ini suram, akan nyata pada malam ini kala kakak tersenyum bersamaku. Aku tak peduli, apa kata orang. Sebab, aku sepertinya dihangatkan oleh tatapan kakak. Aku tidak tahu. Apa artinya? Terserah kakak.” 

Nia berlalu begitu cepat dari hadapanku. Aku bingung. Apa maksut Nia? Hatiku dilanda penuh penasaran. Dan saat kurenungkan maksudnya, aku tersipu sambil tersenyum. Aku dibuatnya semakin berani untuk mendapatkan hatinya. Tak lama kemudian, Nia muncul dibalik lamunanku. Sepertinya Nia tahu keberaninanku. Nia duduk sangat dekat di depanku.

“Nia, bolehkah aku menjaga hatimu?” aku tak lagi menyangkali rasaku.

“Kalau ia, bolehkah aku mendapatkan senyummu untuk selamanya?” Kini Nia semakin rapat di depanku. Sangat dekat. 

"Nia, senyum ini Tuhan ciptakan hanya untukmu"

"Berarti, sekarang aku boleh  menjaganya?"

"Bahkan sampai selamanya Nia. Sampai waktu lelah menggauli kita". Tanpa kusadari aku sudah  dalam pelukkannya. Sangat erat. Nia tidak lagi menghiraukan ribuan mata di sekitar kami. 

"Len, aku tidak mau tahu di mana kita sekarang" katanya sambil menyapa akrab namaku. Lengkapnya Alendro Matalata.

"Aku tidak mau melewatkan malam ini tanpa pelukkanmu. Aku ingin merasakan detakan jantungmu. Dari detakkannya, aku merasakan hidupku bergerak seperti jantungmu. Dan hidupku adalah jantungmu." Seperti bermimpi aku mendengarnya. Tetapi itulah kenyataannya. Nia ingin sejujurnya kepadaku.

"Len, tolong jaga hati ini seperti engkau menjaga jantungmu. Jangan biarkan hati ini bergetar tak menentu. Sebab aku nyaman sekali berada di pelukkanmu." Katanya sambil menatapku. Dari tatapannya, tampaklah sebait puisi dari bola matanya. Dan aku berusaha mengambilnya. Terus aku melakukannya dan aku mampu.

“Nia, boleh aku memegang tanganmu? Aku mau merasakan seperti apa masa depanku nantinya” timpalku penuh bahagia.

“Silahkan saja kak, tapi jika pulang nanti, aku boleh ikut ya? Soalnya mimpi itu harus dikejar” kata-katanya mengalir begitu saja dari mulutnya. Aku tak kuasa tahan tawa dibuatnya. 

"Prak!!!"

Tanpa kusadari, album foto yang sedang kupegang sentak terjatuh. Aku kaget dibuatnya. Tampak dari album tersebut Nia sedang memelukku. Aku tersenyum menatapnya. Tetapi bukanlah sembarang senyuman. Senyum yang memiliki arti tersendiri dan hanya aku dan Nia yang tahu. 

Aku melihat jarum jam menunjukkan pukul 23.19 wita. Biara terasa sangat sepi. Semua penghuni telah lenyap dalam kantuk. Hanya aku yang masih terjaga. Masih di sini  menunggu pagi. Sepertinya kantuk lelah bersamaku. Ia sepertinya tahu apa yang sedang kupikirkan. Aku masih membayangkan peristiwa malam itu. Sebuah kenangan di malam pesta bersama Nia. Bayangan wajahnya masih melekat di kepalaku. Nia-ku terasa ada di sampingku. Aku pun berusaha lelap dalam selimut suguhan biara. 

“Apakah Nia sudah lelap ditelan kantuk? Ataukah sedang terjaga bersama malam?  Seandainya angin malam kota dingin ini mampu menyampaikan rasaku padanya aku ingin menitipkan rasa rinduku yang lekang oleh waktu. Nia, tolong jaga kesetiaan cinta kita. Apalagi cinta kita telah lengkap dengan ribuan mata di penghujung malam pesta." 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Di Penghujung Malam Pesta (Cerpen Pius Kanelmut)

Trending Now

Iklan