Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Menanti Kematian (Cerpen Sirilus Yekrianus)

Minggu, 13 Februari 2022 | 15:48 WIB Last Updated 2022-02-13T09:01:09Z
Menanti Kematian (Cerpen Sirilus Yekrianus)
Menanti Kematian (Cerpen Sirilus Yekrianus) (foto ist.)


Oleh: Sirilus Yekrianus


Dalam ruangan yang sempit, jeruji-jeruji besi berjejer tegak lurus. Rapih. Bayang-bayang samar seorang lelaki usia senja semakin dekat semakin jelas. Wajahnya pucat pasi. Kurus. Entah berapa lama ia menghabiskan waktunya di ruangan sempit ini dan kapan harus keluar menikmati udara bebas. Gurat-gurat sesal mengucur dari paras wajah rentanya. Sesekali ia mencaci maki dirinya. Lalu diam. Ia memang lebih banyak diam setelah merasa cukup mengungkap keluh. 

Lantas, kesalahan apa yang telah di buatnya. Serasa huniannya saat ini menjadi setimpal dengan perbuatannya. Ia hanya bisa mengagumi kemilau fajar merekah melalui fentilasi kecil di atasnya. Setelah iyu ia tertunduk lesu. Tertunduk hanya untuk menanti hari kematian. Bayang-bayang wajah istri dan putri sematawayangnya membuatnya semakin yakin hidupnya bak iusi. Semu. Tidak ada gunanya lagi. “Lebih baik aku mati”. Bisiknya pasrah. 

Baca: Hotel Terbaik Dunia, Industri Pariwisata di Sumba Barat dan Ironi Kemiskinan

****

Bom waktu meledak, melebur juga virus akut mematikan. Siapa kuat ia hidup. Tubuh-tubuh tak beryawa lulu lantak dimana-mana. Berita kematian terpampang bagian head line media masa. Virus corona merebak tidak terkecuali di Indonesia. Lukas menagis meraung-raung di halaman rumahnya lantaran istrinya dikabarkan meninggal terserang virus mematikan itu.

“Selamat siang pak. Apa benar ini dengan pak lukas? Kami dari rumah sakit hendak memberitahukan istri bapak sudah meninggal”. 

Kabar itu mengejutkan lukas. Batinnya perpukul. Remuk. Harapannya tentang keluarga yang hormonis, janji pernikahan untuk selalu bersama hingga kakek nenek pupus. Ia merasakan dua tangan memeluknya dari belakang. Ia menoleh pelan.

“Amel, ibumu telah tiada nak. Ia pergi meninggalkan kita untuk selamanya”.

Keduanya menangis bersama. Menumpahkan kesedihan yang kian meraung. Keduanya belum mengikhlaskan kepergian sosok istri sekalibus ibu. Bagi Lukas sosok istri seumpama sahabat perjalanan yang berkomitmen sehidup semati, selama bersama dalam untung dan malang.

Baca: Allah; Seorang Petani dan Pekerja yang Berbelas Kasih

Delapan bulan setelah kepergian istrinya, Lukas masih memendam luka kehilangan, ia selalu menatap foto istrinya yang terpajang di ruang keluarga. Mungkin ini sebagai tanda cinta abadi, yang mekar tidak hanya saat bersama, bahkan maut sekali pun tidak menghanguskan rasa cinta yang lama terjalin. Kesedihannya kini bukan hanya kehilangan istri tetapi menjalani kesederhanaan hidup, membiayai sekolah Amelia. Beban hidup kian menjulang. Namun iya yakin aka nada masanya ia bebas dari lilitan nista hidup. Ia bertekat bertaruh denagn arus kehidupan, membiayai hidupnya dan sekolah Amelia.   

“Pak, kapan Amel dibelikan laptop Dan hape baru? Aku malu sama teman-teman”. Amelia merengek manja.

Baca: WALHI NTT: Perlindungan Lingkungan, Wilayah Kelola Rakyat, dan Pers

“papa tahukan, sekarang kegiatan belajar mengajar serba online. Masakan aku nggak bisa ngikutin pelajaran karena nggak ada laptop sama hape? 

Lukas terpaku diam. Tidak sempat ia menjawab.

“Pokoknya aku nggak mau tau”.

“Tenang nak, nanti bapak belikan. Beri bapak waktu”.  

Lukas merenungi nasib buntu hidupnya. Beberapa hari yang lalu ia di rumahkan dari kerjanya. Amel tidak mengurungi niatnya minta dibelikan laptop dan hape baru. Ia merunduk lesu. Ia mengutuki situasi yang mencekamnya. Kebahagiaan tetap menjadi bayang-bayang semu. Tak ada lagi sapaan hangat saat bangun pagi, tak adalagi kecupan kening. Kenyataan saat ini berkehendak lain. 

“Bapak belum bisa memenuhi permintaanmu Nak. Bapak belum dapat pekerjaan dan uang kita telah habis untuk merawat ibu kamu. Masih ada hal yang lebih penting jadi bersabarlah nak pasti ada jalan keluar.” Jawaban yang selalu sama keluar dari mulut Lukas dan seperti biasa anaknya pergi entah kemana sambil membanting pintu. Ia hanya bisa tertunduk sembari mengeyitkan dahi dan mengelus-elus dada. Ia hanya bisa pasrah dan sesekali menatap foto istrinya. 

Baca: 5 Karakter Senyum Yang Berlaku Universal

Malam itu Amel belum kunjung pulang. Malam sudah larut. Lukas hanya bisa kemelut dengan cemasnya. Berjalan mondar mandir ke sana-ke mari. Suara pintu rumah diketuk menghentikan langkahnya. 

“Malam om”. Suara sahabat Amel menyapa.

  “Ada perlu apa dek”?

“Maaf sebelumnya om, aku hanya mau beritahu soal Amel, tadi sore ia keluar bersama seorang laki-laki”. 

Mendengar itu hati Lukas bagai ditikam belati. Sebilu. Amarahnya memuncak. Apalagi ketika mendengar penjelasan Amelia. Ia menjual dirinya demi rupiah. Ia mempertaruhkan harga diri demi lembaran merah. 

Ayah dan anak itu kembali memeluk dengan tangisan yang menderu. Minta maaf menjadi kata terakhir yang ia dengar dari putrinya. Sebilah pisau tertancap pada dada Amelia. 

                                                                                           

Nama pena penulis: Ekhing_Patir

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menanti Kematian (Cerpen Sirilus Yekrianus)

Trending Now

Iklan