Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Hotel Terbaik Dunia, Industri Pariwisata di Sumba Barat dan Ironi Kemiskinan

Minggu, 13 Februari 2022 | 14:58 WIB Last Updated 2022-02-13T08:30:31Z

 

Hotel Terbaik Dunia, Industri Pariwisata di Sumba Barat dan Ironi Kemiskinan
Hotel Terbaik Dunia, Industri Pariwisata di Sumba Barat dan Ironi Kemiskinan (foto ist.)


Kemelaratan rakyat kampung di tengah gemerlap bisnis keindahan palsu. Lebih dari seperempat abad industri pariwisata di wilayah pesisir Sumba telah berjalan. Yang memulainya adalah Claude Garves asal Jerman. 

Dialah yang memulainya tahun 1988 dan pada tahun 1995 hadirlah Hotel Nihiwatu di Pesisir Lamboya-Wanokaka, Sumba Barat. 21 tahun kemudian, hotel ini dinobatkan sebagai Hotel Terbaik Dunia dua tahun berturut turut (2016-2017) oleh Majalah Internasional Travel+Leisure. 

Baca: Allah; Seorang Petani dan Pekerja yang Berbelas Kasih

Berdasarkan tarif umum yang dikeluarkan oleh Manajemen Nihiwatu lewat website nihi.com per 1 April 2018 hingga 31 Maret 2019 maka biaya menginap di hotel ini, menempatkannya sebagai salah satu hotel termahal di Indonesia.

Bila mengikuti kurs dollar saat ini yang mencapai 14 ribu rupiah perdollar maka menginap di Nihiwatu paling murah (saat waktu normal) 11 juta rupiah dan paling mahal 173.250 juta rupiah. Harganya lebih tinggi bisa mencapai dua kali lipat saat masa liburan. 

Dengan 33 unit villa yang saat ini ada, penghasilan Nihiwatu perbulan bisa mencapai belasan milyar hingga puluhan milyar per bulan. Apalagi dalam salah satu situs agen perjalanan terkemuka di Indonesia, penginapan di Nihiwatu telah penuh hingga Februari 2019. Tentu itu belum dihitung dengan penyewaan kuda, alat surfing maupun perjalanan lainnya. 

Baca: WALHI NTT: Perlindungan Lingkungan, Wilayah Kelola Rakyat, dan Pers

Kalau dibandingkan dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan target PAD Sumba Barat yang berkisar di angka 40-60 Milyar dalam periode 2015 hingga 2018, maka bisa dipastikan penghasilan Nihiwatu (kalau rata rata 15 milyar perbulan) 3 kali lipat diatas PAD Sumba Barat

Saat ini Nihiwatu tidak sendirian di Pesisir Selatan Sumba Barat. Mulai dari bentang pesisir Gaura, Lamboya hingga Wanukaka. Ada beberapa resort yang dimiliki oleh investor luar negeri yakni Lelewatu Resort di Lele Watu, Nautly Resort di Patiala Bawa, Watu Kaka Resort di Gaura. Ini belum termasuk berbagai home stay yang sedang beroperasi saat ini. Saat ini, Pemda Sumba Barat bahkan menjelaskankan akan ada pembangunan 30 hotel baru di Sumba Barat.

Baca: 5 Karakter Senyum Yang Berlaku Universal

Bisnis tanah untuk kepentingan pariwisata di Sumba Barat yang cuma seluas 70.900 ha ini juga terbilang makin marak. Sangat mudah didapatkan di internet terkait jual beli lahan di pesisir Sumba Barat. Ke depan, hilangnya ruang produksi rakyat makin meluas.

Sebagai kabupaten di mana bisnis pariwisata merajalela, tentu publik awam akan menilai bahwa begitu beruntungnya Sumba Barat. Keindahan alam hingga rakyat yang sejahtera tentu ada dalam benak publik. 

Namun temuan WALHI NTT sungguh bertolakbelakang, pemerintah daerah Sumba Barat justru sedang menampilkan ketimpangan secara ekonomi di daerah tersebut. Per 2016 jumlah penduduk miskin di Sumba Barat adalah 29, 34 % dari jumlah penduduk 123. 913 ribu jiwa. Berikut angka prosentase kemiskinan di Sumba Barat sejak 2010.

Baca: Curhat Bersama Tuhan (Puisi Efrem Danggur)

Fakta-fakta diatas menunjukkan di NTT justru kantung kemiskinan banyak berada di kawasan yang katanya alamnya keren. Propinsi NTT terjebak pada keindahan palsu, yakni sebuah keindahan yang dampak ekonominya dinikmati secara besar-besaran oleh para investor atau pemilik modal. Istilah lainnya, alamnya keren, rakyatnya kere.

Temuan WALHI NTT, kantong kantong kemiskinan justru banyak berada di kampung kampung yang mentereng dari segi kepariwasataan. Salahsatu contohnya di di Desa Watu Karere, tempat dimana hotel terbaik dunia berada. Angka kemiskinan di desa tersebut mencapat 56 %. 


#BacaCatatanAkhirWalhiNTT#

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Hotel Terbaik Dunia, Industri Pariwisata di Sumba Barat dan Ironi Kemiskinan

Trending Now

Iklan