Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Wajah Di Balik Tetesan Air Hujan

Suara BulirBERNAS
Monday, February 21, 2022 | 17:10 WIB Last Updated 2022-02-21T10:23:12Z
Wajah  Di Balik Tetesan Air Hujan
Wajah  Di Balik Tetesan Air Hujan (foto istimewah)


Oleh: Herminus Herwino Anselo Ndama 

(Mahasiswa STF Widya Sasana Malang)


Awan nan putih sore itu menutup langit biru yang menakjubkan. Sang raja siang yang sedang memberikan kehangatan dan keceriaan kini tak tampak lagi. Awan tebal telah menyembunyikannya, pertanda hujan lebat akan segera mengguyuri kota seribu biara ini. 

Aku yang sedang mengendarai sepeda motor WIN 100 CC kesayanganku, segera menambah kelajuan agar tidak kehujanan, apalagi aku tak memiliki jas hujan. Pikiranku sudah terfokus pada kelajuan kendaraanku supaya cepat sampai pada tujuan dan luput dari hujan yang akan segara turun. Namun, kenyataannya  tidak demikian. Semakin laju aku mengendarai sepeda motorku, hujan juga semakin cepat turun dan seakan-akan sedang beradu kecepatan denganku, sehingga aku kehujanan. Aku segera mencari tempat yang aman untuk berteduh dari hujan yang semakin menggila. 

Baca: Soal Demam Berdarah di NTT, Pemerintah Belum Mampu Mengatasi Penyebaran Virus Dengue

Di persimpangan jalan aku menemukan kedai kopi yang sangat nyaman untuk melindungi diri dari hujan yang sudah mengguyuri kota dingin ini. Dan akhirnya  aku terjebak di tempat yang sangat asing bagiku, di mana tak satupun orang yang aku kenal di tempat itu. Hujan pun semakin menjadi-jadi. Angin pun tak ingin kala dari hujan. Ia merontokkan dedaunan pada pohan mangga yang tumbuh di samping kedai itu. Aku menyaksikan dedaunan yang terpisah dari ranting-rantingnya yang seakan-akan tidak kuat lagi menahan dedaunan itu, sehingga angin itu pun dengan leluasa membawa dedaunan itu sesukanya. Aku mulai merasa kedinginan. Bulu kudukku sudah mulai berdiri menyambut angin yang dengan lincahnya menguasaiku.

Udara dingin membuat aku ingin meneguk secangkir kopi panas yang menjadi kesukaanku. Aku mendekati seorang nenek yang sudah lanjut usia, pemilik kedai tersebut. “Nek…. Kopi satu gelas yah!” suaraku yang lantang membuat si nenek terkejut dan bangun dari lamunannya. Seakan- akan lamunan itu membuat ia merasa sangat nyaman. Mungkin ia sedang berdoa ”gumamku dalam hati.” Tapi entahlah. 

“Nak, bersabar yah..”. Suara halus merespons permintaanku. Si nenek langsung beranjak dari tempat duduknya dan bergegas membuatkan segelas kopi panas untukku. Aku merasa bersalah telah mengejutkan si nenek yang sudah dimakan usia itu. ”sesalku dalam hati.”

Baca: Melangkah Bersama, Ragaku, Jumpa (antologi Puisi Lilis Ratu)

Tangannya yang keras dan berkeriput dengan lincah meracik segelas kopi. Sambil menunggu segelas kopi panas pesananku, aku mencari tempat duduk yang nyaman dan aku pun mendapat sebuah kursi kayu yang sudah kumuh; mungkin kursi kayu itu sudah bertahun tahun berada di kedai tersebut, melayani setiap pengunjung yang ingin mencicipi segelas kopi si nenek tua itu.

Hampir satu jam aku berada di kedai tersebut. Hujan semakin ganas hingga tak ada satupun orang yang berani keluar dan jalan dari tempat persinggahan, tempat orang-orang berteduh. Tak ada tanda-tanda hujan akan redah. Aku semakin gelisah dan cemas sementara senja hampir tiba. Kumasukan kedua tanganku kedalam saku jaket yang cukup memberikan kehangatan. 

Suara halus nan lembut kembali menyapaku. Suara si nenek tua yang mengantar kopi panas pesananku. “Nak, silahkan minum…” “sapa si nenek.” “Ia nek, terima kasih”. Dengan segera aku meraih minuman tersebut yang ia letakan di pinggir meja itu. Waw…”gumamku dalam hati.” Sungguh nikmatnya kopi racikan si nenek tua itu, pantas banyak pengunjung yang datang untuk mencicipi kopi racikannya. 

Perlahan-lahan aku meneguk minuman kesukaanku itu. Lagi-lagi rasa cemas dan gelisah menghantuiku. Aku takut hujan akan semakin lebat hingga malam hari. Sementara lampu motorku tidak berfungsi. Mataku mulai melirik kesana-kemari tak menentu. Mungkin itu adalah gerakan refleks dari rasa cemas dan gelisah yang sedang menghantuiku. Entahlah…... 

Baca: Pembangunan Tower Desa Ruwuk Masuk Tahap Uji Coba, Ini Kata Warga

Mataku semakin lincah melihat ke segala arah di tempat itu. Tatapanku semakin tajam, seakan-akan amarahku tak bisa dibendung lagi. Aku melihat sesosok makhluk aneh dan unik yang begitu menawan di seberang sana. Keindahannya yang unik itu melemahkan tatapanku yang begitu tajam. Kupandangi makhluk itu dari kejauhan dengan saksama. Rupanya ia terlihat elok. Wajahnya yang samar-samar di balik tetesan air hujan. Dalam lamunan, aku pun penasaran siapakah makhluk unik itu.

Hujan mulai redah. Akupun melihat makhluk itu dengan jelas. Aku ingin mengenalnya dan memilikinya, namun kakiku enggan melangkah untuk mendekatinya. Aku terus menatapnya dari kejauhan. Sampai-sampai aku terbawa dalam lamunanku. Lamunanku itu, seakan-akan membuat aku terbang dan meraihnya, hingga tak kusadari segelas kopi yang masih dalam genggamanku habis kuminum, dan hanya tersisah ampasnya saja. Hujan pun redah, aku terkejut padalah itu hanyalah imajinasiku. Akupun bangun dan bergegas untuk pulang. Sekejap aku melirik kembali ke arah  tempat di mana si makhluk unik itu berdiri. Namun, aku hanya melihat pemilik mini marketnya saja. Ah… makhluk itu telah pergi bersama hujan yang redah. Dan aku pun pulang sambil memikirkan makhluk aneh itu.  Apakah ini artinya cinta pada Pandangan pertama? Entahlah……

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Wajah Di Balik Tetesan Air Hujan

Trending Now

Iklan