Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Literasi dan Pariwisata (Catatan ‘Orasi Literasi’ dari Bunda Baca NTT)

Suara BulirBERNAS
Thursday, March 10, 2022 | 19:27 WIB Last Updated 2022-03-10T14:21:47Z
Literasi dan Pariwisata (Catatan ‘Orasi Literasi’ dari Bunda Baca NTT)
Literasi dan Pariwisata (Catatan ‘Orasi Literasi’ dari Bunda Baca NTT)



Oleh: Sil Joni*

Rangkaian acara ‘Safari Literasi’ dari Duta Baca nasional, Gol A Gong telah digelar di Aula Setda Manggarai Barat, Kamis (10/3/2022). Acara itu diawali dengan ‘orasi literasi’ yang dibawakan oleh Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan NTT (Stefanus Ratu Uju), Bunda Baca NTT (Julie Sutrisno Laiskodat), Duta Baca Indonesia (Gol A Gong), dan Wakil Bupati Manggarai Barat (Mabar), dr. Yulianus Weng.


Selanjutnya, para audiens menyimak secara serius presentasi ‘Project Wahana Literasi’ dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang dibawakan oleh Arnoldus Jansen Saputra, demonstrasi storytelling dari salah seorang siswi SDK Santa Josefa yang berhasil meraih podium pertama lomba bercerita tingkat Provinsi NTT, membac satu cuplikan cerita anak  yang terdapat dalam buku “Nono dan Burung Kehicap”, karya Arnoldus Jansen Saputra oleh salah satu siswi SDK Santa Josefa, bedah buku berjudul: Nono dan Burung Kehicap dan diakhiri dengan sesi diskusi atas isi buku itu.

Tulisan ini tidak bermaksud ‘melaporkan’ secara detail acara demi acara dalam kegiatan itu. Saya coba membuat semacam ‘catatan kritis’ terhadap materi ‘orasi literasi’ yang disampaikan dengan begitu meyakinkan oleh Bunda Baca Provinsi NTT, Ibu Julie Sutrisno Laiskodat. 

Dalam orasi itu, ibu Julie yang juga merupakan anggota DPR-RI dari Fraksi Partai Nasdem itu, coba menghungkan budaya literasi dengan status Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super premium. “Mengapa kegiatan literasi begitu penting”? Itulah pertanyaan pembuka yang diajukan ibu Julie dalam orasi itu.  


Menurut ibu Julie, pariwisata di NTT umumnya dan Mabar khususnya telah menjadi ‘leading sector’ pembangunan yang mampu mendongkrak ‘nilai jual’ untuk bidang yang lainnya. Upaya ‘menduniakan’ pelbagai potensi wisata di daerah ini, hanya melalui jalan literasi. “Wisata Labuan Bajo harus dileterasikan”, tegas istri dari Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat ini. 

Ibu Julie sangat yakin bahwa ada banyak produk dan keunikan-keunikan di Mabar yang mesti diprmosikan secara kreatif kepada public global. Di balik setiap objek fisik yang tampak, terdapat cerita yang menarik untuk diketahui oleh para wisatawan. Para pegiat literasi diharapkan untuk secara telaten menarasikan dan mendokumentasikan  aneka kisah itu. Keindahan secara fisik saja tidak cukup. Pelbagai obyek wisata yang menarik itu harus disentuh dilengkapi dengan bangunan cerita yang menarik pula. Pada titik itulah, menurut ibu Julie, kegiatan literasi, terutama menulis, menjadi sebuah budaya yang perlu ditingkatkan kualitasnya.

Saya kira, argumentasi ibu Julie perihal urgensi aktivitas literasi di tanah wisata, tidak perlu diperdebatkan. Secara teoretis, bagaimana pun juga, ‘keterkenalan atau popularitas’ sebuah obyek wisata, sangat bergantung pada kecerdasan kita dalam mempromosikannya ke dunia luas. Kisah-kisah yang terangkai di balik ‘obyek material’ itu, tentu saja mengundang rasa ingin tahu dan decak kagum dari publik. Para calon wisatawan tidak hanya ‘terpikat’ dengan apa yang disajikan dalam bentuk gambar, tetapi terpesona juga dengan ‘sensasi kisah’ tentang objek itu.


Sebetulnya, kerja ‘literasi wisata’ semacam itu, sudah jamak dilakukan, baik oleh pelaku pariwisata, pemerintah, dan para pegiat literasi. Perangkat teknologi digital dalam pelbagai platformnya, relatif dioptimalisasi untuk ‘meliterasikan’ anek spot wisata potensial di sini. Ada banyak pihak yang memanfaatkan akun media sosial untuk ‘memperkenalkan’ keunikan atau kekhasan sebuah ‘destinasi wisata’. 

Tetapi, kesan saya, pola kerja literasi semacam itu, belum ‘tertata’ dengan baik dan digarap secara optimal. Kita hanya mengandalkan kreativitas spontan yang bersifat subjektif dan sporadis. Saya berpikir, agar kerja literasi wisata itu, bisa ‘bergema’ dan sanggup menerobos panggung wacana global, maka kita perlu berkolaborasi untuk menggodok karya yang lebih sistematis dan terpola dengan baik. 

Karena itu, keterlibatan pemerintah dalam ‘memfasilitasi’ program kerja ‘berliterasi wisata’ itu, menjadi sangat urgen. Ibu Julie, dalam orasinya, sempat menyinggung soal peran yang mesti dimainkan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan.  Bahwasannya, Dinas Kearsipan dan Perpustaakaan harus menjadi ‘ujung tombak’ gerakan literasi di bidang pariwisata. Dinas mesti tampil sebagai ‘fasilitator dan inisiator’ dalam menghimpun pelbagai elemen untuk menghidupkan kultur literasi di destinasi super premium ini.

Saya berpikir, dinas terkait seperti Pariwisata dan Pendidikan, juga terlibat aktif dalam gerakan ini, maka upaya membangun budaya literasi dalam bidang kepariwisataan, akan semakin ringan. Tentu, kita andaikan saja bahwa ada sekian banyak orang di luar pemerintahan yang punya minat yang besar dalam dunia menulis itu. Pemerintah mempunyai strategi tersendiri untuk menstimulasi gairah para pegiat literasi untuk berkontribusi maksimal dalam membumikan kultur literasi di Mabar.


Sebenarnya, saya mengharapkan agar sebagai ‘Bunda Baca Provinsi NTT’, ibu Julie mempunyai semacam ‘program konkret’ bagaimana memberdayakan para agen literasi agar benar-benar menyumbangkan talentanya dalam berliterasi tentang wisata. Sayang, dalam orasi itu, ibu Julie tidak meyinggung soal itu. Orasi itu bersifat normative dan hanya berupa kampanye soal pentingnya kegiatan literasi di daerah wisata.

*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.

Mau Memuat tulisan di BernasINDO.id?
Silahkan kirim ke email redaksi: redaksibernasindo.id@gmail.com
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Literasi dan Pariwisata (Catatan ‘Orasi Literasi’ dari Bunda Baca NTT)

Trending Now

Iklan