Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Perjuangan Seorang Amelia

Sarfin Fidin
Jumat, 25 Maret 2022 | 11:10 WIB Last Updated 2022-03-25T04:33:30Z
Perjuangan Seorang Amelia
Perjuangan Seorang Amelia


Perjuangan-“Amelia” adalah wanita yang kini tak lagi muda. Pipinya keriput disengat semangat yang menggelora. Punggunnya tak lagi tegak—bungkuk tak berbentuk. Tangannya tak lagi lincah untuk bekerja dan mendulang rejeki. Kendati demikian, rupanya, umur tak sema sekali membuatnya patah arang untuk meneruskan hidup. Tiada hari tanpa sesimpul senyum dari bibir yang penuh dengan garis-garis penjuangan. Senyum merupakan ungkapan hatinya yang selalu merasa bahagia dalam menjalani hidup. Kini dia sadar bahwa hidupnya  adalah sebuah produk dari sebuah perjuangan berdamai dengan penderitaan yang tak berujung.

Baca: Pater Tuan Kopong MSF Menyoroti Pawang Hujan Mandalika Dan Wajah Asli Agama

*******

Waktu bergulir begitu cepat. Tidak terasa puluhan tahun telah berlalu, ia tinggal di sebuah gubuk reot di tepi hutan bersama kedua anak, setia dan setio. Amelia, yang masih gadis kala itu, berani memutuskan untuk mandiri dan meninggalkan kehidupannya yang serba mewah. Amelia tak mau menyusahkan keluarga dan orang di sekitarnya. Dia mau  berjuang tanpa harus menambah penderitaan untuk orang lain yang ia kasihi. 

Dia menjadi satu dari sekian banyak korban kebejatan nafsu laki-laki yang hanya tahu berucap janji namun tak siap tuk bertanggung jawab.  Amelia ditinggal pergi oleh laki-laki yang berjanji akan menikahinya sesaat dia dinyatakan mengandung. Namun, bagaikan air di daun talas. Semua janji itu hanyalah tinggal janji. Sehari menunggu tak merisaukan hati amelia. Dua bulan tak mendapat kabar, amelia mulai merasa risau dan tak tenang. Dia takut anak-anaknya tak memiliki ayah. Namun, itu menjad jawaban alam bahwa itu memang yang terjadi, Sampai dia tua pun, sosok pemberi janji tak pernah terlihat lagi. Dia ditinggal pergi saat dia mengandung. Hanya air mata yang bisa meredahkan emosinya kala itu. Dia berusaha tabah menjalani.

Baca: Budaya Sebagai Patokan Kehidupan Masyarakat Manggarai

********

Kini situasi berbeda. Amelia masih saja menatap penuh makna ke arah salah satu foto yang berbingkai kertas pada dinding ruangan tamu rumahnya...

Tatkala menatap lebih mendalam, Amelia sepertinya terlempar jauh ke masa puluhan  tahun lalu. Dia merasakan nikmatnya dibuai, dimanja, dipeluk dengan pribadi yang dicintainya. Karena nikmatnya cinta yang ia rasakan, dia dengan berani dan rela menyerahkan seluruh diri pada yang dicintainya. Kenikmatan membutakan segalanya. Amelia tak lupa memikirkan konsekuensi yang akan ditanggungnya. Namun, kenyataan tidaklah seindah yang diharapkan. Cinta menghilang, penderitaan pun bertubi-tubi menghujam Amelia.

Selama sembilan bulan, Amelia berusaha bersahabat dengan diri dan hidupnya. Walaupun amelia bingung hendak menjalani hidup. Namun, rupanya, kekuatan amelia terletak pada sikap pasrah yang sejak lama dia hidupi. amelia sepenuhnya pasrah pada kehendak Allah melalui keputusan orang tuanya. Dengan gembira dan terbuka amelia menggendong dua anaknya dalam kandungannya. Keputusan yang amelia ambil adalah titik yang mendilemakannya. Amelia dengan optimis memutuskan untuk mengubur dalam-dalam  cita-citanya menjadi guru, lantaran harus bertanggung jawab terhadap buah hatinya. Tak hanya masalah itu, amelia juga sering menerima ejekan dari teman-teman kelasnya  Amelia hampir tak kuat menahan semua cacian dari tetangganya. Tidak ada hari tanpa setetes air mata. Mungkin hanya dengan membasahi pipinya dengan air matanya, dia bisa kuat kembali.

Amelia rupanya masih kuat pada tekatnya untuk mempertahankan kehamilannya. Walaupun setiap hari, dia digoda teman-temannya untuk menggugurkannya. Aku merasa berdosa harus melenyapkan bayiku “tegas Amelia pada teman-temannya”. Setiap saat, Amelia dibujuk oleh temannya untuk menggugurkan kandungannya. Namun Amelia tetap mau menjaga buah hatinya, walaupun pada akhirnya dia tahu dia tidak akan punya teman lagi untuk mencurahkan isi hatinya. Saat Amelia menolak, teman-temannya langsung menjauhi dia dan menolak untuk bertemu dengannya. Kendati demikian, Amelia tetap tabah dalam menjalani hidupnya. Satu hal yang menjadi kekuatan Amelia kala itu yakni keyakinannya bahwa segala yang terjadi dalam hidupnya adalah rencana Allah. Dia percaya bahwa Allah menggunakannya untuk suatu rencana-Nya.

Selama dua tahun, Selepas melahirkan, Amelia tidak pernah keluar dari halaman rumahnya. Hal itu bukan tanpa alasan. Kedua orang tuanya melarang Amelia untuk keluar. Katanya mereka sangat malu pada tetangga. Mereka menganggap Amelia dan kedua anaknya sebagai anak pembawa sial dalam keluarga. Amelia hanya  bisa bertahan, walaupun menerima penolakan dari orang yang dicintainya. Amelia memilih bertahan sebab, anak-anaknya masih kecil.

Pada tahun yang ketiga setelah melahirkan, Amelia membulatkan tekat untuk meninggalkan kedua orang tuanya dan mencari tempat yang aman untuk menjadi sandaran hidupnya dan kedua buah hatinya. Orang tuanya pun melepaskan Amelia tanpa menangis. Walaupun sebenarnya mereka sudah tidak memikirkan lagi tentang aib yang dibawa Amelia. Namun, Amelia merasa malu harus menggantungkan diri terus kepada kedua orang tuanya. Entah karena apa, dia pun terlempar sampai di lereng gunung Ranaka, di mana amelia menemukan kedamaian, dan cinta yang dari orang lain.

Baca: Jalan-jalan Sore, Saatnya Healing?

*******

Sepi dan sunyi menemani malam pertama mereka di tempat itu. Untunglah kepala desa dan keluarganya dengan terbuka menerima Amelia untuk menyinap semalam di rumah mereka.

Keesokkan harinya, Amelia di antar oleh kepala desa ke sebuah rumah tua yang sudah lama tidak ditempati oleh pemiliknya. Rumah itu letaknya cukup jauh dari pemukiman, dipinggir desa itu. Hal itu terjadi, karena kepala desa takut terjadi kesalahpahaman antarwarga desa, dengan kehadiran Amelia dan kedua buah hatinya. Amelia sangat bersyukur, karena atas kebaikan hati kepala desa. Amelia dan kedua anaknya mendapatkan rumah yang layak untuk ditempati. Yang walaupun tidak ada bandingannya dengan rumah orang tuanya di kota. Tapi, Amelia dengan tabah dan sabar menerimanya.

Mulai saat itu, Amelia resmi menjadi warga di desa itu. Banyak juga warga yang memberikan rejeki mereka kepada Amelia, membantunya, dan mengajarinya cara mengolah sawah. Di sisi lain, rupanya Amelia tak jarang diganggu dan digoda oleh pemuda-pemuda desa itu. Namun, hal itu tak menyulutkan tekat Amelia untuk bertahan. Tak hanya itu. Banyak para duda yang dari hari ke hari datang membantu Amelia dengan tujuan untuk memikat hati Amelia. Namun, lagi-lagi, Amelia tetap ingin sendiri merawat setia dan setio, kedua anaknya..

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Setia dan setio tumbuh menjadi anak yang tak kekurangan kasih sayang. Amelia sudah mendarah daging di desa itu. Setiap hari amelia pergi bekerja di sawah. Menjadi petani adalah pekerjaan utama di desa itu. Amelia  yang dulu hanya tahu makan nasi. Sekarang menyadari akan susahnya mendapatkan sebulir nasi.

******

Tatkala setia dan setio bertumbuh menjadi remaja, rupanya benih panggilan untuk menjadi pelayan Tuhan mulai tumbuh dalam diri mereka. Jawaban ya dan  anggukan Amelia, menjadi babak baru yang harus ditempuh untuk menyekolahkan kedua putranya di seminari. Beban sekolah, tak membuat Amelia patah arah untuk berjuang mencari uang. Siang malam dia membanting tulang untuk anak- anaknya. Kesehatan dirinya Tak dihiraukannya lagi.

Setia dan setio pun tak memaksakan diri lagi untuk melanjutkan perjalanan mereka. Namun, ibu mereka tetap menguatkan mereka dan senantiasa mendukung mereka. Katanya : “tenang saja, soal uang jangan pernah kalian pikirkan! Semuanya sudah diatur oleh Tuhan! Wejangan dari ibu yang rendah hati dan sederhana ini menuntun perjalanan panggilan setia dan setio.

Sementara kedua anaknya giat menekuni panggilan menjadi pelayan Tuhan. Ibu mereka, Amelia setiap hari diminta oleh seorang kaya (pak Toro) di desa mereka yang ingin menikah lagi. Amelia tak menggubris tawaran itu. Karena dia sudah bertekat sejak awal untuk tidak ingin menikah.

Amelia dikenal sebagai sosok yang rendah hati, suka menolong, pekerja keras dan bertanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.  Setiap kegiatan gereja di desanya selalu ia ikuti. Amelia adalah sosok yang sangat beragama. Banyak warga di desa yang menyukainya. Bahkan walaupun sudah lama menjanda, Amelia masih kelihatan cantik seperti gadis pada umumnya. Hal itu yang mengundang pak Toro, berusaha mendapatkan cinta Amelia.

Pak Toro adalah orang terkaya di desa itu. Dia mengetahui bahwa Amelia butuh uang untuk menyekolahkan setia dan setio. Makanya, dia memanfaatkan kesempatan untuk mengajak nikah Amelia, dengan dalil akan membiayai sekolah dari kedua anak Amelia sampai selesai. Walaupun demikian, pak toro memang sangat menyukai dan mencintai Amelia. Pak toro tidak tahu harus membujuk Amelia dengan cara apa lagi. Sebab, semua cara telah dia lakukan, namun tetap saja ditolak.

Untuk tawaran kali ini, Amelia tetap menolaknya. Dia tidak hendak memanfaatkan anak-anaknya untuk menikah lagi. Sekalipun dia juga sangat menyukai dan mencintai pak toro. Namun, dia rela melepaskan keinginannya itu demi anaknya.

Setiap hari, Amelia bekerja. Sawah menjadi ladangnya untuk mengais rejeki. Dari ketekunan dan kesetiaannya ini, Amelia berhasil menyekolahkan kedua anaknya di seminari. Itu adalah sebuah kebahagiaan terbesar yang dialami Amelia selama beberapa tahun semenjak ia meninggalkan kota kelahirannya.

Tak sampai di situ, Amelia terus membiarkan anaknya menapaki jejak panggilan Tuhan. Kedua anaknya masuk menjadi biarawan di dua kongregasi yang berbeda. Amelia tak kuasa menahan rindu pada anaknya yang berada jauh darinya. Hanya ruang tamu yang terus menjadi tempat dia melepas rindu dengan anak-anaknya.

Baca: Tanggapan Atas Artikel Silvester Joni, S.Fil. Dengan Judul, “Loyola” Kebebasan Akademik (Sebuah Kenangan)

******

6 tahun berlalu, Amelia tak lagi muda. Kulitnya mulai bergaris. Satu per satu, rambutnya mulai memutih. Tua sudah mulai menyapanya. Namun, amelia tetap semangat bekerja menyambung hidupnya di desa itu.

Suatu sore, Amelia masih berada di ruang tamu rumahnya. Dia sendiri, duduk sambil merangkul erat bingkai yang sudah basah lantaran air mata. Bingkai itu tak lagi terpajang di dinding ruangan itu. Amelia rupanya telah mendekapnya dan seakan tidak ingin kehilangannya. Tiba-tiba, dia kedatangan pak Toro yang memberi kabar bahwa ada telepon dari kedua anaknya. Air matanya tiba-tiba terhenti, simpul senyum mulai terlihat di pipinya yang basah lantaran berita dari pak Toro.

Keesokkan harinya, saat hari masih pagi. Amelia tidak seperti biasanya. Dia tetap berada di rumah. Amelia masih berada di ruang tamu sambil memandang bingkai itu. Tok...tok...tokk...”suara ketukan pintu”

Amelai: siapa, tunggu. “sambil cepat-cepat mengembalikan bingkai berisi foto dia bersama kedua anaknya” Tok...tok..tok..” suara ketukan masih seperti yang pertama”

Amelia: ia, tunggu. “Amelia meraih sapu tangannya dan berusaha menghilangkan bekas air. matanya. Amelia pun segera mendekati pintu utama dan membukanya”.

IBU, ucap setia dan setio setelah Amelia membuka pintu rumahnya. Amelia tak bisa berbicara. Dia terkejut, dan sangat bergembira. Dia merangkul kedua putra-Nya yang kini telah menjadi Iman.

Ingatlah perjuangan ibu kita yang setiap hari, setiap detik terus berjuang dan berusaha  membiarkan kita hidup bahagia! 

Sekian...


Oleh: Maurinus Reymino Naban

Penulis adalah mahasiswa STF Widya Sasana Malang, Jawa Timur


Mau Muat tulisan di BernasINDO.id? Silahkan kirim ke redaksibernasindo.id@gmail.com

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Perjuangan Seorang Amelia

Trending Now

Iklan