Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Tanggapan Atas Artikel Silvester Joni, S.Fil. Dengan Judul, “Loyola” Kebebasan Akademik (Sebuah Kenangan)

Sarfin Fidin
Wednesday, March 23, 2022 | 20:36 WIB Last Updated 2022-03-23T14:19:36Z
Tanggapan Atas  Artikel Silvester Joni, S.Fil. Dengan Judul, “Loyola” Kebebasan Akademik (Sebuah Kenangan)
Tanggapan Atas  Artikel Silvester Joni, S.Fil. Dengan Judul, “Loyola” Kebebasan Akademik (Sebuah Kenangan)


Oleh: Fransiskus Ndejeng


Tanggapan Atas  Artikel Silvester Joni, S.Fil. Dengan Judul, “Loyola” Kebebasan Akademik (Sebuah Kenangan)


Membaca setiap postingan artikel atau tulisan bung Silvester Joni, setiap hari sungguh menggugah perasaan dan karakter berpikir saya sebagai seorang petualang di dunia Maya. Maksudnya, sebagai seorang praktisi literasi Manggarai Barat, NTT, dengan beberapa untaian tulisan yang pernah saya tulis dan posting di sosmed. 

Ketika hari ini, saya membaca postingan sebuah artikel seorang penulis,  Silvester Joni,S.Fil., rasanya enak dan lezat untuk disantap bak makanan di restoran berbintang lima. Renyah dan adonan kata kata dan kalimat yang runut dan menggugah perasaan dan sekaligus menohok alam pikiran saya sebagai seorang mantan guru dan sekaligus praktisi pendidikan yang sedikit senang dengan membaca tulisan-tulisan di berbagai media online, sosmed dan media cetak. 

Baca: Soal Peredaran Rokok Ilegal, Stanislaus Stan: "Itu Proses Pemusnahan Generasi Muda"

Judul artikel yang diangkat kraeng Sil, begitu sapaan  familiar yang dikenakan pada beliau, adalah “Loyola” dan Kebebasan Akademik (Sebuah Kenangan). Judul tulisan ini sungguh menggugah perasaan saya sebagai seorang  penulis, yang berasal,  dan belajar dari kultur akademik yang sedang belajar secara autodidak( belajar mandiri). 

Lembaga pendidikan SMA Katolik Santu Ignatius Loyola, yang dulunya disebut SMA gabungan dengan Seminari Yohanes  Paulus II Labuan Bajo( Semiyopol), sangat berkesan dan menghidupkan kembali memori saya sebagai seorang guru kala itu. Sebab, sodokan pengalaman akademik yang diutarakan oleh bung Sil dalam artikel di atas,  membuat  saya pribadi penasaran untuk mengambil hikmah dan mengungkapkannya dalam secuil tulisan yang barang kali bisa dijadikan pemicu untuk membangkitkan libidob alam pikiran penulis dalam hal  semangat menulis. Sekakigus untuk berliterasi apa adanya. 

 Benar ! Bung Sil Joni. Endingnya, bukan surhat-surhatan dalam seuntaian kenangan indah bersama SMAK St. Ignatius Loyola. Konteksnya, bukan berarti dari jaman ke jaman SMAK St Ignatius Loyola, tidak ada kemajuan, dan menganggap jaman dulu lebih hebat apalagi lebih kreatif, sekali lagi bukan! Barangkali, mungkin tantangan jaman dahulu berbeda dengan tantangan jaman now, alias milenial. 

Baca: Nama Anakmu, Namaku (Cerpen Afri Ampur)

Situasi saat ini  tentu berbeda jauh dengan situasi jaman dahulu, disebut jadul. Jaman ini kota Labuan jauh lebih megah dan disebut super premium. Harapsbnya,  manusia-manusua pelajar kota ini mengikuti dampak positif dari julukan super premium itu. Saya petik coreyan dari  seorang penulis redaksi Media Cakrawala NTT, Gusty Rikarno, S.Fil, mantan siswa SMAK dan Semiyopol Labuan Bajo. Dia menyatakan  begini, “pikiran kita orang NTT harus melampaui nama besar Binatang Varanus Komodo, yang sudah mendunia”. Atau kata lain, jangan pikiran kita dikalahkan oleh binatang varanus Komodo. Oe... pernyataan ini  sungguh tersengat bagaikan sengatan binatang Komodo yang menerjang orang-orang NTT yang berpikir lamban  untuk masa depan NTT bangkit guna  menyambut 100 tahun kemerdekaan Republik   Indonesia dan NTT bangkit tahun 2050. 

Menurut penulis, setiap jaman ada eranya dan setiap era ada jamannya. Saya berpikir, bahwa setiap pengalaman akademik perlu direfleksikan dari setiap pengalaman  masa lalu sebagai dukungan moral dan etik dalam suatu perjuangan seorang penulis apalagi kalau hal itu bisa dinarasikan dalam sebuah tulisan yang dianggap renyah dan lezat untuk disantap bagi sidang pembaca. Bukan soal mengungkapkan perasaan gembira dan suka duka di masa sekolah, tetapi untuk dijadikan sebuah refleksi dalam suatu kemajuan proses pendidikan dari jaman ke jaman berikutnya. Sehingga litanianya bermakna meluas seluas cakwala Nusantara dan alam semesta.

Apalagi ketika itu dikaitkan dengan pengalaman mingguan akademik dari para siswa/siswi SMAK St. Ignatius Loyola dan SMAS Yohanes Paulus II kala itu, semakin bersahaja dalam dinamika akademik dan semakin berkarakter. Kalau dikaitkan dengan mutu pendidikan,tentu, tidak terlepas dari mutu setiap pribadi yang berilmu, berkarya, berketerampilan dan berakhlak mulia. Sebagai salah satu buktinya; sampai saat ini dari jebolan alumni SMAK Loyola /SMAS Palus II, telah memproduksi seorang pemimpin daerah, selain pemimpin  awam di hampir sektor kehidupan  dan pemimpin  religius dimana saja di seantero dunia kehidupan ini. 

Baca: Bukannya 'Menghilang' dan Apalagi 'Dihilangkan'

Saya sebagai seorang mantan guru tak mungkin tidak berbangga hati, SMAK St. Ignatius Loyola bisa menunjukkan hasil memuaskan. Kan ini salah satu bukti suatu kemajuan sekolah  pada masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Benar, sentuhan dan sentilan dari seorang penulis kreatif jebolan SMAK St. Ignatius Loyola angkatan tahun pelajaran 1998/1999, saudara kita pa Silvester Joni, S.Fil., kebetulan Pater Wilfridus  adalah kakak kandungnya pa Sil  seorang misionaris juga jebolan SMAK dan seminari Yohanes Paulus II Labuan Bajo.  

Saya salut, bahwa kemajuan suatu bangsa tidak terlepas dari lembaga pendidikan yang berilmu, berkarakter, juga berakhlak mulia dan berkeTuhanan Yang Maha Esa. Berilmu dan berkarakter, tentu butuh proses pendidikan dan latihan secara berkesinambungan tanpa henti. Saya teringat, seorang wartawan kawakan Indonesia era 195-an sampai 1960-an,   Adam Malik, mantan menteri Luar Negeri Indonesia dan mantan duta besar untuk PBB, era 1975, ketika invasi Timor Timur oleh Indonesia, dari seorang  jurnalis terkenal, dan menguasai beberapa bahasa. Memiliki kesan luar biasa untuk kebanyakan rakyat Timor Timur pada saat itu.  

Padahal pendidikan hanya setingkat SD atau SR. Multitalenta. Penduduk asli Timor Timur waktu itu  sangat dekat dengan  bapak Adam Malik itu, disenangi dan disegani, oleh penduduk asli Timor Timur, karena berwibawa dan sangat dekat dan santun dan bergaul. Bergaul dan makan sirih pinang bersama, mereka kagumi pendekatan yang dibuat beliau.

Jadi, kultur akademik dan karakter sulit didapat di tempat lain, selain di sekolah-sekolah yang mumpuni untuk mendidik, melatih, membimbing, membina, demi mempersiapkan masa depan bangsa dan negara serta gereja. Tanpa kreativitas dan inovasi yang dilatih dan dididik sejak usia dini tak mungkin tercapai cita-cita yang mulia; melalui jalan hidup masing-masing. Dengan kata lain menurut talenta masing-masing. Kebiasaan menulis dikawinkan membaca berjalan berbarengan, melalui latihan terus menerus tanpa henti, bukan dilahirkan. 

Baca: Gadis Kecil, Wahai Sang Penegak (Karya Guidella)

Ketika penulis sebagai seorang guru muda yang energik, dan penuh semangat yang membara, dan penuh vitalitas, bersama para siswa, OSIS tahun 1989; penulis menyodorkan sebuah gagasan akademik dari pengalaman emperis di sekolah, Loyola kala itu, yang dianggap mengganggu psikologis para siswa. Sebab kecendrungan sebagai seorang dewasa, apakah sebagai orang tua dan/atau  guru, senantiasa setiap kebijakan yang diambil sering bertentangan dengan kajian akademik dan psikologis. 

Penulis sebagai salah seorang guru muda, berani menantang setiap tindakan yang dilakukan oleh sekolah atas nama disiplin untuk membredel surat korespondensi para siswa putra dan putri dengan cara mengecek surat surat cinta di peti dan lemari, koper siswa dan siswi di setiap asrama putra dan putri Arnoldus dan Arnolda.  Hal ini, tentu bertentangan dengan penerapan ilmu jiwa remaja dan sikap kurang bijaksana atas pribadi dan privasi siswa. 

Pada gilirannya, lambat laun akan berdampak terhadap gangguan mental psikologis siswa remaja dan menganggap merendahkan martabat manusia seutuhnya dalam praktek mendidik, mengajar, mengasuh, melatih, membimbing, mengarahkan, peserta didik menuju kedewasaan secara mental,sosial, akademik, Budi pekerti, akhlak mulia dan berkeTuhanan. Kalau tersinggung bagi kalangan pembaca yang Budiman berati artikel masuk dan merasuk sedalam lubuk hati para pembaca nan Budiman. Perlu dicatat bukan untuk melecehkan jabatan fungsional guru dalam berkarya namun ini merupakan salah satu bentuk refleksi untuk dipelajari secara terus menerus tanpa henti srosngang hayat. 

Akhirnya, stop dengan sendirinya, untuk menjalankan kebiasaan mengecek sepucuk surat cinta dalam korespondensi sesama remaja di sekolah dan /atau di Asrama. Tujuannya, mungkin amat mulia, namun pendekatan yang digunakan terlalu otoriter dan menganggap kami para guru hebat hebat amat. Padahal untuk menjadi seorang guru hebat harus banyak belajar dari pengalaman yang berjalan bersamaan dengan waktu. 

Belajar sepanjang hayat.  Saya sendiri hampir purna tugas dari petugas profesional sebagai guru, namun merasa  merasa sangat kurang jika dibandingkan dengan ilmu dan pengalaman yang geluti selama ini yang kian tumbuh pesat dalam dunia teknologi dan apalagi digitalisasi. 

Tugas kita adalah mendampingi dan membimbing agar mencapai tujuan mulia berkarakter bagi setiap peserta didik, karena mereka berasal dari bibit bebet dan   bobot yang berbeda beda, tetapi memiliki talenta yang unik. 

Mungkin ungkapan seorang penulis terkenal turunan Yahudi Turki, abad 21,  Khalil Gibran adalah cocok dengan situasi peserta didik yaitu “Isilah pengetahuan dan karakter yang bermakna kedalam kepala siswa dengan nilai-nilai yang positip, dan jangan memaksa mengisi kedalam  batok  kepala anak nilai-nilai yang tidak berkenan dari orang dewasa”. Sebab setiap anak adalah unik. Mungkin ungkapan yang pas adalah rancanganku bukanlah rancanganmu. Jalanku bukanlah jalanmu! Pilihan hidupku bukan pilihan hidupmu! Tugasmu adalah menuntun aku menuju jalan kebenaran. 

Argumentasi ini penulis pertahankan ketika melaksanakan Rapat Evaluasi Dewan Guru setiap hari Sabtu akhir pekan. Ketika penulis dipercayakan sebagai pembina OSIS, penulis pernah menerima tugas tersebut  sambil mengamati tentang tingkahlaku siswa remaja SMAK  Loyola kelas 11. Di pinggiran lipatan  ujung bawah baju Putri tertulis dua kata yang bermakna, mirip bahasa Inggris, yang berbunyi,” BRAP GRUP” (Biar Rawan Asal Perawan). Kesan tulisan remaja pada masa itu, sulit saya lupakan. Karena dari kalimat yang terdiri dari dua kata itu mengandung makna sebagai berikut. 

Pertama, Kata singkatan itu muncul dari pengalaman hidup siswa remaja putri yang dilabeling oleh sikap guru yang tidak bijaksana dan sering menyudutkan para siswa/siswi dengan kekerasan berupa kata kata verbal. Mengolok, tukang pacar, toe belajar, boo steel, toe hafal rumus fisika, boo molas  agu Reba, dan lain sebagainya( redaksi, dialeg Manggarai; diterjemahkan secara harafiah, sebagao berikut,  toe belajar = tidak belajar, boo steel nomor satu= kalau penampilan,  nomor satu, toe hafal rumus fisika= tidak menghafal rumus fisika). 

Kedua, ada kecendrungan guru dan orang tua untuk memojokkan siswa dihadapan teman-temannya yang sebaya . Sikap ini dibuat sebagai salah satu bentuk dosa pendidikan yang dijejali dengan sistem kurikulum pendekatan keamanan pada masa orde baru identik dengan  Soeharto. Sehingga DNA proses pendidikan terbawa terus sampai mati dan seperti ada proses balas dendam turun temurun. Timbul noda hitam kebudayaan dalam pendidikan ala Manggarai Raya, telah bergeser, yaitu Toing, Titong, Tatong( memberi tahu, mengajar, memberi contoh, red.).  Kalau hal ini tidak diajarkan, diberitahu dan dimbimbing secara terus menerus maka terjadi kerusakan kebudayaan. Sulit disembuhkan. ( Refleksi dari Seminar Pater Dr. Hubertus  Muda, SVD., ketika memperingati Hari Ulangtahun PGRI ke 69 di aula Sekda Manggarai Barat ). 

Ketiga, Para siswa melawan dengan ungkapan yang sangat halus tetapi kritis atas setiap fenomena tindakan guru, pendidik, yang sering memberi label negatif terhadap pribadi mereka masing-masing. Sehingga para siswa berdiskusi di Asrama dan di kelas untuk melawan perlakuan guru seperti itu. 

Namun, guru tidak sadar dan bahkan tidak mau tahu dengan kritikan ini. Freud,ahli pendidikan abad 21,  menekankan bahwa proses pendidikan berjalan sesuai nilai-nilai yang dipegang oleh anak atau siswa. Bisa dikatakan nilai nilai itu adalah kejujuran, Budi pekerti luhur, adat budaya yang berlaku yang sesuai dengan perkembangan jaman. Dengan kata lain, mesti sering belajar dan jangan mengancam. Dengan mengancam dapat merusak akhlak mulia dan peradaban siswa yang berlatar belakang unik dan berbeda beda.

Tulisan ini mempertajam tanggapan atas tulisan bung Silvester Joni di atas, bagi setiap alumnus mesti  memiliki sepenggal pengalaman masa lalu yang penuh dinamika untuk barangkali bisa dijadikan sebagai salah satu pijakan untuk kita sering sharing dalam kehidupan mingguan akademik antara siswa, OSIS dan dengan para guru dan mantan guru. Kita tahu, bahwa kebanyakan alumni SMAK dan atau Semiyopol berkarya di sampai dibujung  bumi ini. 

Di berbagai belahan dunia ini, ada yang bertugas sebagai awam sukses, sebagai guru, sebagai pastor dan suster, sebagai pemimpin tarekat, sebagai penulis, wartawan, dan sebagainya. Inilah salah satu bentuk panggilan jiwa kita dalam pengabdian hidup sesuai dengan bakat dan talenta kita masing-masing. Senantiasa berpikir positip dalam mengarungi kehidupan ini agar kita kuat dan tahan banting setelah diterpa virus Corona. Apresiasi yang setinggi-tingginya kepada bung Silvester Joni, S.Fil., yang sudah  mengutarakan argumentasi lewat coretan artikel yang berjudul” Loyola” dan Kebebasan Akademik( sebuah kenangan). 

Dengan demikian isi batok kepala penulis menanggapi apa dan bagaimana kenangan itu dari setiap alumni Loyola dan juga guru Loyola.  Sekaligus sebuah kronik buat seorang guru masa  lalu yang telah berjasah untuk mengukir dan menyemai bibit-bibit unggul loyola yang tak lekang kena panas kota super premium dan tak lapuk kena hujan dimusim Corona. Semoga!


Penulis adalah seorang praktisi pendidikan, dan pemerhati masalah sosial serta lingkungan hidup. Tinggal di Labuan Bajo, Jln. Bandara Soehadun, RT/RW: 001/001, Kelurahan Waekelambu, Kecamatan Komodo.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tanggapan Atas Artikel Silvester Joni, S.Fil. Dengan Judul, “Loyola” Kebebasan Akademik (Sebuah Kenangan)

Trending Now

Iklan