Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Diutus untuk "Menguduskan" Warga Desa

Monday, August 1, 2022 | 11:45 WIB Last Updated 2022-08-01T04:53:27Z
Diutus untuk "Menguduskan" Warga Desa
Diutus untuk "Menguduskan" Warga Desa (foto ist.)


Dr. Bernadus Barat Daya bersama rekan-rekan alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) memfasilitasi penyelenggaraan 'ritual perutusan' para calon Kepala Desa (Cakades) dari berbagai Desa di Manggarai Barat (Mabar) yang umumnya mantan aktivis PMKRI. 

Baca: Prahara di Tanah Wisata (Membaca Rencana Boikot Pegiat Wisata Labuan Bajo)

Acara perutusan itu digelar di Gereja Ketentang, Labuan Bajo, Minggu (31/7/2022). Setelah Misa Perutusan yang dipimpin oleh Rm. Beni Jaya, Pr, acara dilanjutkan dengan seremoni adat, 'Wu'at Wa'i', bagi para Cakades yang berlaga dalam kontestasi Pilkades edisi 2022.

Meski masih dalam status sebagai Cakades, Gereja merasa perlu untuk 'menguatkan langkah' mereka menuju medan pertarungan. Dalam terang iman Katolik, para Cakades 'diutus' mengabarkan warta gembira kepada publik konstituen yang kalau dapat, memperoleh legitimasi untuk menjadi pemimpin di level Desa.

Dalam khotbahnya, Rm. Beni coba mengingatkan dan menyadarkan umat yang hadir dan terutama para Cakades soal "hakikat panggilan". Pertama-tama manusia dipanggil untuk menjadi "manusia yang utuh dan otentik". Jabatan, atribut, status, gelar akademik dan posisi sosial itu hanya tambahan dan tempelan.

Baca: Ketika "Para Sarjana" Bertarung dalam Pilkades (Nggorang)

Karena itu, baik pada musim kontestasi Pilkades maupun dalam status sebagai Kades terpilih, hendaknya para Cakades memperhatikan aspek keluhuran martabat manusia dalam seluruh interaksi, komunikasi dan perilaku di hadapan publik. Para Cakades mesti sadar bahwa yang mereka hadapi atau dekati adalah manusia yang bermartabat, bukan hewan, tumbuhan dan benda mati.

Selanjutnya, Rm. Beni menjelaskan hakikat perutusan para pemimpin, termasuk para Cakades di tengah dunia. Para Cakades dipanggil dan diutus untuk "menguduskan" warga Desa. Sisi kekudusan yang dimaksud tidak berkaitan dengan praktek liturgis keagamaan dan pembacaan yang intensif atas teks Kitab Suci, tetapi berhubungan dengan peningkatan mutu kesejahteraan warga.

Konkretnya, para Cakades diutus untuk memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) warga seperti air minum, jalan yang baik, perumahan yang layak, dan peningkatan pendapatan ekonomi. Jika aneka kebutuhan itu sudah terpenuhi, maka Desa itu menjadi kudus. Desa yang Kudus adalah Desa yang mengalami dan merasakan kebahagiaan sejati sebab kepentingan bersama sudah tersedia dan bisa dinikmati dengan bebas.

Tugas untuk "menguduskan dunia" sebetulnya menjadi orientasi panggilan para rasul awam yang berkarya dalam medan politik. Para pemimpin seperti Kades mesti menghadirkan "Rahmat Tuhan" kepada warga Desa. Dengan demikian, politik menjadi tanda penyaluran rahmat (sakramen) kepada sesama.

Gagasan teologis-etis ini, sebetulnya sejalan dengan definisi politik yang paling otentik. Politik adalah segenap ikhtiar dan aktivitas untuk memperbaiki tata kehidupan bersama (bonum commune). Para pemimpin mengemban tugas istimewa, yaitu bagaimana memanifestasikan ideal pemenuhan kepentingan publik secara kreatif dan intensif.

Baca: Mereka Bawa "Kabar Baik" untuk Desa (Nggorang)

Saya kira, jika semua politisi atau pemimpin menghayati secara konsisten perihal 'watak politik yang kudus' ini, maka tendensi untuk menceburkan diri dalam lumpur korupsi (dosa dalam terminologi teologi) bisa diminimalisasi. Dengan itu, politik tidak lagi mendapat citra negatif sebagai siasat licik untuk mengakumulasi kapital individual, tetapi semata-mata instrumen menguduskan sebuah komunitas politik.


Oleh: Sil Joni*

*Penulis adalah warga Desa Watu Langkas.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Diutus untuk "Menguduskan" Warga Desa

Trending Now

Iklan