Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Sehari Tapi Bermakna

Sarfin Fidin
Monday, December 6, 2021 | 09:21 WIB Last Updated 2021-12-06T02:26:57Z
Sehari Tapi Bermakna
Ilustrasi: merdeka.com


Fr. Yakobus Syukur, SMM (Mahasiswa STFT Widya Sasana, Malang)


Pagi itu, cuaca sangat cerah dan sejuk. Aku bangun dengan bahagia. Bahagia karena hari ini mulai libur bagi aku dan teman-temanku. Tak seperti kawanku yang lain yang langsung pulang ke kampung, aku hanya bersantai di rumah kakakku yang berada di Kota dingin. Sebab tak ada kendaraan yang menjemputku di hari itu, maklum kendaraan ke kampungku memakai jadwal. Kendati demikian, aku bahagia berada di sana, sebab aku dapat bercanda ria bersama keluargaku sambil menikmati kue Natal yang masih tersisa.

Hari itu pun, hujan turun dengan deras mengguyuri Kota dingin. Hujan itu tak berlangsung lama dan malam harinya hujan tak turun. Sebab itu, aku sibuk mencari “oto kol” untuk keberangkatanku esok hari. Aku bahagia sebab kendaraan itu dapat kutemui. Itu berarti aku dapat pulang ke kampung halamanku, menemui orang-orang yang mengasihi aku. Malam itu aku pun membeli oleh-oleh sebagai kado untuk mereka di rumah, kendati bukan uangku sendiri, hahahaha....

Kini alam terang kembali. Aku pun bangun sangat pagi dan mempersiapkan diri untuk berangkat. Aku diantar oleh kakakku ke tempat perjumpaan dengan sahabatku, oto kol, yaitu di termimal. Tepat jam 08.00 aku melangkah kaki dari Kota dingin bersama sahabatku itu. Sepanjang perjalanan, aku menikmati keindahan alam yang indah, kendati perjalanannya  jauh dan  melewati jalan yang masih rusak. Di dalam sahabatku ini, aku bercanda ria dengan penumpang lain. Sesaat aku merenung bahwa Allah sangat mengasihi aku melalui alam yang indah dan permai. Bersama sahabatku ini aku tak jenuh sebab dia mengeluarkan alunan musik yang begitu merdu.

                                                          ###

Tepat pukul 14.30, aku tiba di kampung halamanku. Di kampung, aku melihat tatanan alam yang sangat hijau kekuningan sebab hujan tak kunjung turun. Ketika aku turun dari sahabatku itu dan melambaikan tangan dengannya, aku disambut dengan pelukan hangat dari ibu dan saudara-saudaraku. Hal itu membuat rasa rinduku terobati dan aku melihat wajah mereka begitu  bahagia.

Sore itu pula aku memberi makan babi. Pun aku mengunjungi “rumah” ayahku dan menyalakan lilin serta berdoa di sana. Keesokkan harinya, aku bangun menyambut udara yang segar di kampung. Hari itu yang aku lakukan adalah memberi makan babi dan membantu adikku membersihkan rumah. Setelah itu, aku dan ibuku mengunjungi rumah keluarga dan bersalaman dengan mereka sambil membawa kalender dari komunitas novisiat SMM. Di rumah keluarga ini, aku menerima banyak nasihat. Nasihat yang menguatkan aku akan panggilan hidup ini. Salah satu nasihatnya adalah: “Harus setia menjalani panggilan hidup dan jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain.” Akupun takzim mendengar nasihat mereka dan merasa dikuatkan oleh nasihat itu.

Sore hari cuaca yang awalnya terang, kini berubah menjadi gelap. Hujan pun turun dengan deras. Hujan ini membatasi ruang gerakku. Memang, keinginanku saat liburan itu adalah membajak sawah, namun keinginan itu dibatasi oleh ruang dan waktu. Kendati hujan yang lebat, keluargaku mulai mendatangi rumahku, sebab malam itu ada acara teing hang untuk keberangkatanku besok hari kembali ke biara. Dalam acara itu pun, ada begitu banyak nasihat yang aku pegang sampai saat ini. Salah satunya adalah: “Jangan menoleh ke belakang dan jangan terlalu sering mengingat keluarga.” Malam itu, aku sangat merasakan suatu kebersamaan yang tak dapat dipungkiri dan ditandingi, sebab banyak orang yang mengasihi dan mencintai aku. 

Kebersamaan itu hanya dirasakan sehari saja, sebab aku harus kembali untuk menjalani panggilan hidup di biara. Sebenarnya, aku selalu ingin untuk berada bersama mereka, namun apalah dayaku. Itulah indahnya perjuangan hidup. 

Keesokkan harinya, aku harus kembali ke Kota dingin. Sahabatku telah berada di depan rumahku. Sebelum masuk ke dalam sahabatku, aku memeluk keluargaku (ibu, om, tanta dan saudara-saudaraku) satu per satu dan aku pun menangis. Buliran air mata telah membasahi pipiku. Namun ibu berkata: “Nana neka retang, eme retang ghau, aku kole retang.” Aku bingung mengapa kebersamaan itu hanya dinikmati sehari saja, padahal aku ingin mengisi liburan dengan memberi kontribusi yang bermakna bagi mereka.

Di dalam mobil, aku duduk bertopang dagu, mengingat semua kenangan atau kebersamaan yang telah dirajut bersama ibu dan keluargaku. Aku tak mampu lagi menahan air mata dan air mata itupun membasahi pipiku serta aku merasa bahwa rasa rindu muncul lagi dalam diriku.

                                                      ### 

Walaupun pengalaman yang begitu singkat, namun pengalaman itu memberikan arti yang bermakna untuk panggilan hidupku. Aku merasa bahwa aku dikasihi oleh banyak orang dan aku akan mengikuti semua nasihat mereka. Sebab bagiku, itu merupakan suatu hal yang bermakna untuk panggilan hidupku saat ini. Pengalaman itu saja yang terukir indah dalam diriku, yang walaupun sehari saja tapi memberikan makna untuk hidupku. Di balik penggalaman itu, aku menemukan artinya hidup. Pengalaman itu akan selalu kukenang sebab dari sana aku menemukan kebahagiaan yang menguatkan panggilan hidupku sebagai calon pelayan Tuhan yang sejati.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Sehari Tapi Bermakna

Trending Now

Iklan