Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Kumpulan Puisi Matias Patriano Vano

Sarfin Fidin
Friday, February 25, 2022 | 13:44 WIB Last Updated 2022-02-25T06:59:02Z

 

Kumpulan Puisi Matias Patriano Vano
Kumpulan Puisi Matias Patriano Vano (foto istimewah)

Kumpulan puisi  Matias Patriano Vano seperti Di Kala Pelitaku Redup, Gerimis Pun Bersenandung, Sepucuk Surat Untuk Sahabat, Menatap Jejak Hanyalah Percuma, Wanita Berkebaya Jingga memiliki makna yang sangat mendalam. Puisi-puisi ini bertitik berangkat dari permenungan filosofis. Untuk mengetahui seperti apa puisi-puisi ini dan maknanya, baca hingga selesai.

Baca: Menunggu, Pengemis Suara, Suara Gemuruh Terdengar Syahdu

Oleh: Fr. Matias Patriano Vano


Di Kala Pelitaku Redup


Aku berdiri di tengah sunyinya malam

Di tengah hembusan angin yang kian menikam hingga menemus jiwa

Kugenggam sebuah pelita sembari memberi cahaya namun mulai suram

Aku seakan berlarut oleh situasi yang kian kelam

Bercumbu mesra dengan sunyinya malam


Pelitaku kini terus memberi warna yang kian suram

Sementara aku dituntut untuk tetap setia berada di tengah kegalutan malam

Terkadang suara hatiku menjerit

Pertanda tak sanggup untuk menanti seorang diri

Apa yang sedang kutunggu?

Suara hatiku pun masih sanggup untuk mengungkapkan sepenggal kalimat


Inilah pergulatan hidup yang sedang berangan dengan diriku

Tapi kok di tengah kebisuan malam?

Sementara aku tak lagi mempunyai sandaran

Pelita yang kugenggam akhirnya redup juga

Ku memohon pada bintang


Tetapi tempatnya terlalu jauh

Kumemohon pada bulan

Namun cahanya ditutup dengan awan yang pekat

Pelitaku hampir padam


Diriku terasa hampa tak selalu berjaga-jaga

Kepada-Nya kucoba berpaling

Berharap tetap memberikan ku pengharapan

Karena kutahu, tak ada yang mampu mengalahkankan harapanku pada-Nya

Walau pelitaku padam sekalipun

Baca: Pengamat Politik; Pariwisata Labuan Bajo Perlu Mengutamakan Masyarakat Lokal

Gerimis Pun Bersenandung


Mengiringi terbenamnya senja di ufuk Barat

Menatap awan gemawan di ujung samudra

Hempasan ombak berbuih memecah kesunyian

Meramaikan kisah indah dibungkus dalam angan-angan

Terpesona akan kicauan burung dara di atas batu karang

Seakan melepas hari dengan nyanyian riang

Tak ada suara merdu nan meluluhkan kalbu

Kalau bukan rintikan hujan yang selalu bersenandung

Butiran-butiran bening membasahi pundakku ini

Menemani kesendirian di ujung impian

Suara alam merdu dan terhanyut dalam perasaan

Terbawa simphoni lewat gerimis di senja yang menawan


Air mata pun ikut bersenandung

Bersama gelombang yang meramaikan alam ini

Kian detik, menit, jam pun terus terlalu

Melintasi cakrawala dengan menyimpan kisah pada semesta

Gerimis bersenandung, mengalunkan suara merdu dalam relung

Seakan menghibur hati yang trus merana dalam ribuan jejak

Mesra bagaikan sepasang kekasih yang jatuh dalam asmara


Kini senja ditelan bumi

Sembari menitip kisah lewat gerimis yang datang di akhir petang

Biarkanlah aku membawa kisah ini nanti

Tuk aku jadikan sejarah yang pernah kuraih hari ini

Menepis rindu dalam alunan sendu yang menusuk kalbu

Lewat gemercik yang datang bersama rintikan hujan di muara hati

Mungkin tak seresah hati ini

Karena telah berlarut dalam perasaan tak menentu

Bila esok masih kau terbit lagi

Aku di sini menanti dalam harapan yang pasti

Baca: Surat Yang Terdampar (Cerpen Fr. Adryan Naja)

Sepucuk Surat Untuk Sahabat


Jemariku bergetar saat merangkai kata-kata tak berkias ini

Tanpa inspirasi tanpa pula halusinasi

Kukumpulkan sejuta sajak dan kurangkum menjadi sebait puisi

Melawan rasa rindu yang kini menyerang hati

Saat waktu memberi harapan yang kurang pasti di awal kata ini

Hanya engkaulah yang hadir memoles kisah di balik sanubari

Lelah,

Aku lelah tak berdaya !!!

Menjalani hariku yang terus membisu

Menatap sang malam juga bungkam tak bersuara

Tanpa hembusan angin, tanpa cahaya bulan, bintang pun tak kuasa menghadirkan diri

Untuk apa?

Tanpa tawaan, senyuman, dan candaanmu membuatku berkalut dalam kesendirian

Menyapu sebagian impian yang pernah kuraih bersamamu jua

Duniaku dan duniamu terbentang jauh oleh cita-cita

Mengejar impian yang pernah engkau kisahkan

Dikala kita merancang biduk angan-angan tuk berlabuh ke masa depan

Sepucuk surat kan kuberikan

Sembari menanti jawaban meski terkadang hanya bermain dalam khayalan

Mungkin engkau telah menempuh kebahagian dalam impian

Bergembira dengan segala yang telah kau dapatkan

Namu bagiku, kebahagiaan yang kupunyai adalah pernah bersamamu

Ingin berjumpa dan memulai sesuatu yang baru walau tak seindah dulu

Tetapi ruang dan waktu tak pernah memberitahu aku tentang posisimu

Kutitipkan salam lewat angin yang berdesir

Yang kudapat hanyalah seuntai bisikan dan penuh kekosongan

Sahabat,,

Kini aku mengerti akan ungkapan hati yang terkadang membuat aku meneteskan

sebening embun kesedihan

Perjumpaan dan kebersamaan kita

Harus ditutup dengan perpisahan yang sungguh menyakitkan

Selamat berbahagia untukmu, 

sahabat-ku

Baca: Membuka Lembaran Baru (Cerpen Sherly Sherena)

Menatap Jejak Hanyalah Percuma


Kicauan burung memecah kesunyian di awal hari itu

Langkahku terasa berat tuk menyusuri setiap harapan

Menghapus embun pagi yang telah melekat di ujung jubahku

Menyambut sang fajar yang kini menyapaku dalam deretan impian

Tertinggal sejuta kisah berpaut pada usia muda

Jejak-jejak itu perlahan mengahantar aku ke oase dewasa

Tak sedikit rasa lelah yang membebani raga yang lemah

Menopang cita-cita yang bergumul di balik seribu tantangan

Tak semudah kuberanjak di awal pagi

Mendengar kicauan burung menyambut pagi

Terasa bising dan mengganguku dalam keheningan

Kucoba tuk merangkai kata dalam doa

Namun pikiranku menerawang pada alam nan jauh berbeda

Apakah yang sedang kuinginkan?

Mengapa semuanya berubah dengan begitu cepat?

Aku pun mulai bergumul dalam pertanyaan yang kini meresah jiwa

Aku terus berjalan tetapi jiwaku tertidur dalam kegalutan yang mencekam

Aku manusia yang punya sejuta impian

Tetapi selalu merana karena tak sedikitpun kumendapat kebahagiaan

Mungkinkah ini proses dari sebuah perjalanan

Perjalanan panjang melintasi padang yang gersang

Menghitung jejak pun terasa ada dalam kesia-siaan

Kubangun dan kutetap berjuang demi panggilan

Walau butira-butiran cobaan selalu membuat mataku tertutup tuk terus maju

Taka da yang perlu kusesali hari ini

Kan kudapati segudang impian yang telah membuat kuterlena di awal hari


Wanita Berkebaya Jingga


Langkah menyusur pada lembah yang syahdu

Menjinjing  ranselku, melakah dengan penuh rasa ragu

Dengan sedikit mengolah rasa dalam dada

Ingin berjumpa dengan wanita berkebaya jingga

Pandangan mataku tak terlepas dari parasmu yang cantik bagai bidadari

Membuatku sendiri terbius untuk berhalusinasi

Tak dapat kupendam lagi rasa yang ada di dalam hati

Ingin mengutarakan niat ini lewat goresan puisi

Wanita berkebaya jingga

Padamu kutaruhkan rinduku

Menitip sejuta rasa dalam auramu yang menggoda

Tuk kusampaikan segudang harapan mencapai impian karena cinta

Wanita berkebaya jingga

Desahku dalam langkah yang meredam karaguan

Kubutuh senyum dan genggamman tanganmu

Melintasi tapak demi tapak kisah masa silam

Ku berharap engkau cepat mengerti dan mengerti rasa yang kubungkus dengan satu arti

Aku ingin bersanding denganmu

Merasakan getaran hati yang ada dalam dada ini

Untukmu kulantunkan syair dan simphony

Bertekat membawamu dalam kesunyian mimpi

Aku terlelap hangatnya desah nafasmu menembus jiwa ini

Wanita berkebaya jingga

Kini senja menjemput malam

Menyadarkan aku dari lamuan panjang namun mengesankan

Memberi isyarat

Bahwa dirimu hanyalah ada dalam ilusiku yang semu

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kumpulan Puisi Matias Patriano Vano

Trending Now

Iklan