Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Membuka Lembaran Baru (Cerpen Sherly Sherena)

Sarfin Fidin
Kamis, 24 Februari 2022 | 09:45 WIB Last Updated 2022-03-23T00:12:12Z

 

Membuka Lembaran Baru (Cerpen Sherly Sherena)
Membuka Lembaran Baru (Cerpen Sherly Sherena)-(ilustrasi:google)

Oleh: Sherly Sherena


Membuka Lembaran Baru-Aku pernah menderita depresi, kesedihan, kekecewaan, kepedihan, penyesalan, penderitaan dan keterpurukan  selama berbulan-bulan. Aku melanggar perintah Tuhan dengan melakukan kesalahan fatal, yang merugikan diri sendiri dan orang-orang tersayang. 

Aku jatuh ke dalam lubang salah yang begitu dalam. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk memilih tempat yang lebih sunyi tempat baru yang ku tinggal untuk menenangkan diri. Jauh dari keluarga juga teman-teman seperjuangan. 

Baca: Presiden Jokowi bertemu Para Seniman Senior Indonesia Di Istana Bogor, Bahas Tentang Ini

Aku merasa asing sebab semuanya terasa baru tatkala lembaran baru di depan mataku. Hari-hari ku jalani dengan penuh lesu dan takut karena hati masih merasa tidak nyaman atas apa yang sudah berlalu. Aku benci dengan semuanya, terutama diri sendiri.

Pada suatu pagi yang dingin tepat dihari sabtu, aku bangun dari tidur setengah terjaga dan mempersiapkan diri untuk mengikuti misa pagi ke gereja. Dan hari itu aku mulai janji dengan diri sendiri untuk segera mencoba sebuah pengalaman dan lembaran baru dan berharap agar bisa membangkitkanku dari keterpurukanku. Ada satu sahabat baruku, namanya Kakak Mawar. Beliau seorang karyawan yang bekerja di tempat aku berteduh. Beliau sangat baik. 

Baca: Tuanku Lagi pergi, Seberkas Risau, Aku Pasrah (Puisi-Puisi Fr. Adryan Naja)

Di sela-sela kesibukannya, beliau menyempatkan diri untuk menghiburku dengan berbagai macam cara. Memberikanku pakaian, memberikanku make up agar aku bisa merias diri untuk kembali terlihat cantik, kata Kakak Mawar.

Lalu, saat aku menatap ke dalam kaca cermin dan menatap diriku sendiri sambil melonggo. Membandingkan seorang aku yang dulu yang selalu dipuja dan dipuji oleh banyak orang, kini sangat berbeda jauh dengan seorang aku yang sekarang yang hanya hidup dalam raga yang rapuh. 

Aku menahan seribu satu jerit di hati. Semuanya telah berubah. Lembaran baru sudah terjadi. Waktu telah merenggut kebahagiaa dariku. "Ah, Tuhan! Betapa aku tak berdaya," batinku!

Setelah aku sampai ke gereja dan masuk ke dalam gereja, aku melihat ke depan dan berlutut menyembah Tuhan memohon ampun dariNya. Hatiku menjerit-jerit ingin menangis sekeras mungkin, namun aku juga menyadari bahwa itu bukan tempat untuk aku menangis semaunya. “Kau mampu menahannya,” kataku kepada diri sendiri. 

Setelah beberapa menit berlalu, saatnya setiap pribadi maju ke depan untuk menerima Tubuh Tuhan dan ternyata aku belum bisa menerimaNya sebelum mengaku dosa. Aku bangkit berdiri hanya untuk menerima berkat. Setiap pagi aku melakukan hal yang sama. Hari-hari ku jalani dengan penuh kepura-puraan. Aku Pura-pura bahagia, pura-pura tertawa dan pura-pura bersemangat.

Baca: Catatan Lepas, Selalu saja begitu, Kisah sebuah waktu, Mengulek aksara

Waktu demi waktu telah berlalu. Tak terasa satu bulan lebih lamanya aku tinggal di tempat baruku bersama dengan teman-teman baruku. Dan tepat hari selasa Desember 2019 kami mengadakan pengakuan dosa bersama seorang pastor dari Katedral. 

Entah bagaimana hatiku merasa ragu untuk mengakui segala dosa serta kesalahan berat pada masa itu. Padahal sebelumnya, aku sangat bersemangat dan penuh antusias untuk mencurhatkan segala rasa yang aku alami setiap hari kepada Tuhan. Tiba-tiba giliranku telah tiba. 

Ketika aku sedang duduk melonggo di lorong kamar, tiba-tiba ada suara yang mengatakan “Kak, masuk sudah. Jangan menangis. Kakak harus kuat”, ternyata itu adalah suara dari adikku yang duduk bersama denganku. Ya Tuhan, apakah aku siap menghadap Dikau? Tanyaku dalam hati. Kemudian, aku masuk ke ruangan doa.

Sesampainya di ruangan doa, aku menceritakan semuanya kepada pastor yang melayani kami. Aku mencurhatkan semua apa yang ada dalam sanubariku sambil menangis meratapi segala yang telah terjadi. 

Ketika beberapa menit kemudian, aku sudah mulai tenang dan ruangan sudah mulai sunyi kembali.  Pastor tersebut memberi pengampunan kepadaku. Dan tak lupa beliau memberikan motivasi kepadaku, membangkitkan aku dari keterpurukanku dan aku pun mulai merasakan sebuah harapan. 

Aku berhasil mencurahkan semua isi hatiku. Setelah keluar dari ruangan doa, aku menangis haru. Sebab yang aku rindukan selama ini kini terjawab. Aku bisa menerima tubuh Tuhan untuk masuk ke dalam jiwaku. Aku mulai merasa tenang. 

Hari itu mengubah segalanya bagiku. Aku tertawa lagi. Aku bahagia lagi aku bangkit lagi. 

Baca: Gempa Bumi Lebih dari 15 Kali Guncang Manggarai, Sangat Terasa Di Satarmese Barat

Aku menjadi sehat dan sadar bahwa hidup bukan hanya untuk hari ini saja. Bahwa banyak orang yang sebenarnya hidup di masa lalu. Bahwa setiap orang pernah merasakan apa yang aku rasakan. Bahwa aku tak akan pernah bisa mendapatkan kebahagiaan apabila selalu terperangkap dengan masa lalu. Tak ada gunanya bagiku untuk selalu berlarut-larut pada masa lalu. Tak ada gunanya terus menerus menyalahkan diri sendiri. 

Terkadang depresi, kesedihan, kekecewaan, kepedihan, penyesalan, penderitaan dan keterpurukan itu masih melintas dalam bayangan dan masih menari dalam ingatan. Terkadang semuanya membuat kita merasa putus asa dan merasa lemah. Namun, semuanya bukan berarti bahwa kita tak bisa keluar dari zona itu untuk kembali menata hidup yang baru dan bangkit menatap ke depan. Beranilah melepaskan semua kisah itu. 

Bukan karena hal itu tidak penting tetapi dengan alasan bahwa hidup dan masa depan kita jauh lebih penting. Yakinlah bahwa kita bisa mendapatkan sesuatu yang lebih baik sebab kebaikan itu masih menunggu kita.

“Tetaplah berjuang sampai Tuhan bilang “cukup” kita sudah menang”.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Membuka Lembaran Baru (Cerpen Sherly Sherena)

Trending Now

Iklan