Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Menunggu, Pengemis Suara, Suara Gemuruh Terdengar Syahdu

Sarfin Fidin
Friday, February 25, 2022 | 13:19 WIB Last Updated 2022-02-25T06:30:32Z

 

Menunggu, Pengemis Suara, Suara Gemuruh Terdengar Syahdu
Menunggu, Pengemis Suara, Suara Gemuruh Terdengar Syahdu (Fr. Cosmas M. Buru)

Oleh: Fr. Cosmas M. Buru


Menunggu


Andai kau tahu Aku masih di sini

Di tempat yang sama di moment yang berbeda

Andai kau tahu Aku masih di sini

Di gubuk tua beratap langit biru, di lebur sinar mentari

Berdinding tembok batu, berlantai  tanah kerikil tajam

Aku masih di sini

Baca: Pengamat Politik; Pariwisata Labuan Bajo Perlu Mengutamakan Masyarakat Lokal

Andai kau tahu Aku masih di sini

PerjalananKu belum selesai

Aku masih terus menata langkah demi langkah

Sampai waktuKu, aku belum selesai

Aku masih di sini


Andai kau tahu Aku masih di sini

Aku masih muda, masih berdiri tegak

Aku masih di sini

Aku bertambah tua

Kulit menua keriput tak seindah masa mudaKu

Aku masih di sini, masih berdiri tegar di puncak Kalvari


Andai kau tahu Aku masih di sini

Adakah engakau tahu diriKu dirajam? Tubuhku dicambuki?

Adakah engkau tahu tubuhKu digantung di atas kayu palang?

Adakah engkau tahu kedua tangan dan kakiKu ditembusi paku? 

Adakah engkau tahu lambungKu ditusuk dengan tombak?


Andai kau tahu Aku masih di sini

Bermandikan keringat darah

Aku masih di sini, di bilik hatimu

Aku masih di sini, di puncak Kalvari, di pusat kehidupanmu

Adakah kau ingat?

Aku masih di sini, masih menunggumu

Baca: Surat Yang Terdampar (Cerpen Fr. Adryan Naja)

Pengemis Suara


Berhati ramah

Bermulut manis

Bernuansa merayu

Demi status dan jabatan

Pengemis suara

Muka munafik

Seni beretorika

Tanpa realita

Kuat berargumentasi

Tanpa mentalitas dan moralitas

Seni bermanipulasi

Tuntut aristokrasi

Kodrat dan martabat manusia dikorbankan

Eksistensi manusia dirampas

Demi reputasi

Demi keakuan diri

Bukan untuk revolusi khayalak umum

Untuk masyarakat dikalkulasi

Demi publik semua dieksploitasi

Demi mengikat pinggang sendiri

Kapankah nuansa ini berubah?

Baca: Membuka Lembaran Baru (Cerpen Sherly Sherena)

Suara Gemuruh Terdengar Syahdu


Serpihan demi serpihan kusatukan dan menjadi kumpulan

Kugenggam sebatang sapu

Dan kurayu lembar demi lembar yang bertebaran di atas tanah yang kelabu

Bunyinya bergemuruh di bawah naungan yang teduh

Riuh, riuh,dan riuh

Memecahkan kesunyian datang mampir di awal hari itu

Dalam kesendirian di bawah deretan pepohonan itu

Kumulai merangkai kata dan berkhayal walau tak bertepi

Mencoba tuk bermimpi meski tak seindah alam ini

Menatap lembaran kering yang mulai lapuk

Merebahkan badanku dan menunduk

Bukan sial apa yang maksud

Namun dengan ini diriku dapat bersujud

Hay, pemilik senyum yang tak pernah sirnah

Keluguan akan ekspresimu menghantar aku untuk beranjak dari kesendirian ini

Terhanyut ragaku menatap bibir tipismu

Merah merona, membuat darahku seakan membeku

Ingin kusentuh, namun jari-jemariku terasa sungkan tuk meluncur

Aku berpaling dan mengarahkan mataku ke bulan

Tetapi si lentera purnama itu seakan-akan tak menerima tatapanku

Dan segera bersembunyi di balik gumpalan awan

Kepada bintang-bintang kumerayu

Tiba-tiba gerimis malam datang menghapus dan satu per satu mulai berlalu


Kau, pemilik senyuman yang tak kunjung sirnah

Kisah tentang dirimu belum berahir dalam episode hidupku

Kujadikan rasa sebagai sutradara

Serta rindu yang menggebu penghapus pilu

Engkau mugkin tak berminat tuk mengisi kekosongan kisah ini

Tak begitu tertarik untuk melakoni sandiwara cinta yang kusukai

Sandiwara cinta yang membuatku terhempas lewat cerita yang kian using

Kubiarkan tenggelam dalam sukma lara

Biarlah senyummu kujadikan motivasi bila rindu datang menghampir

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menunggu, Pengemis Suara, Suara Gemuruh Terdengar Syahdu

Trending Now

Iklan