Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Surat Yang Terdampar (Cerpen Fr. Adryan Naja)

Sarfin Fidin
Thursday, February 24, 2022 | 12:03 WIB Last Updated 2022-03-23T02:31:59Z
Surat Yang Terdampar (Cerpen Fr. Adryan Naja)
Surat Yang Terdampar (Cerpen Fr. Adryan Naja)


Oleh: Adryan Naja


Surat Yang Terdampar merupakan cerpen Fr. Adryan Naja yang memiliki makna reflektif. Cerpen ini bertitik berangkat dari pengalaman nyata, kemudian direfleksikan dalam terang rohani. 

Demikian cerpen tersebut berbunyi:

Untuk kamu yang biasa kupanggil dengan sebutan Enu

Surat ini kutuliskan buat engkau yang telah mengajarkanku arti kesetiaan dan bagaimana bertahan dalam komitmen. 

Sudah lama waktu ini merawat kisah kita. Hari demi hari kita lalui. Banyak pengalaman yang kini menyisakan kenangan. Mungkin alam masih terbentang luas, laut pun belum juga penuh, tapi masih tersisa berapa langkahkah jarak ini menyatukan kita? Masih jauhkan jarak ini memisahkan kita? Sehingga, di sini aku hanya menatap, memeluk bayangan dirimu yang masih menari-nari di langit rindu ini. 

Baca: Membuka Lembaran Baru (Cerpen Sherly Sherena)

Waktu demi waktu, pertanyaan itu terus menjadi seperti benih yang tumbuh dalam benakku, ketika  jauh meluas dalam waktu dan jarak terbentang dalam ruang, aku seperti sebuah ide yang sampai saat ini belum dilahirkan. Engkau selalu mengatakan kepadaku bahwa ada saatnya kita berjumpa, dan aku pun menunggu. Menanti waktu itu tiba. Di sini aku berdiri mengharapkan agar penantian ini tidak lama hingga kehadiranmu mendamaikan jiwaku dengan kenyataan ini. 

Engkau juga selalu berpesan agar aku percaya pada takdir, bahwa kita ditakdirkan untuk bersatu.  Enu, dari manakah engkau melahirkan kemustahilan ini? Jika jarak ini memecahkan masa depan kita? Tentu engkau tahu bahwa aku sedang merindu dirimu. Aku sungguh melihat ruang-ruang hampa ketika ketiadaanmu menciptakan rindu dan sendu di hati ini.

Enu, sepertinya diri  ini tercipta dari belahan nafasmu. Barang sedetik saja engkau bersamaku sembari menyebut kata “nana aku di sini untukmu”, serasa engkau telah bertahun-tahun bersamaku. Aku meridukan momen-momen seperti itu. Tapi kapan? Apa harus menunggu waktu yang tepat? Tapi, bagaimana jika waktu yang tepat itu hari ini, yakni saat aku berinisiatif menuliskan catatan kecil ini?

Baca: Presiden Jokowi bertemu Para Seniman Senior Indonesia Di Istana Bogor, Bahas Tentang Ini

Bila saja saat ini engkau ada di sini dan mau menguji kemurnian perasaan cintaku padamu, aku siap. Apapun tantangannya. Ya, apa pun. Aku tak peduli pada sodoran ucapanmu yang selalu saja kau sodorkan, “sabar kaka, ade masih mau sekolah, lagian belis itu mahal”. Aku katakan itu tidak lekas membuatku jera tuk tetap menantimu di sini. Di sudut-sudut sunyi, tempat terakhir aku menatp paras beliamu. Bermodalkan keyakinan hutang janji aku masih menantimu. “Nana, kalau memang kita ditakdirkan untuk bersama selamanya, apa hendak dikata dan tempat ini resmi menjadi  pelabuhan keberangkatanku. Aku pergi sebentar saja. Bila saatnya tiba kita akan jumpa lagi di sini” katamu kala itu bukan? 

Enu, seandainya pelabuhan ini tahu bahwa kesendirianku adalah ketidakhadiran dirimu, pasti lembaran sejarah tidak akan mencatat bahwa aku ada. Bahkan peristiwa-peristiwa yang menampakkan diriku pada kenyataan, tidak akan menjadi pengalaaman-pengalaman yang menandakan bahwa aku pernah menjadi bagian dari waktu yang telah ku lalui. 

Enu, lautan dan daratan memiliki alasan mengapa mereka ada. Terang dan gelap pun mempunyai rahasia mengapa mereka tercipta. Aku yakin, antara aku dan kamu adalah alasan dari semua rasa yang kita miliki. 

Baca: Tuanku Lagi pergi, Seberkas Risau, Aku Pasrah (Puisi-Puisi Fr. Adryan Naja)

Jika kelahiranmu adalah alasan mengapa aku ada, maka aku mengerti bahwa walaupun gelap malam dan angin kencang dalam hidupku tak akan menghapus namamu yang kutulis di dinding hatiku. Peziarahan jiwaku hanya mengabadikan namamu dalam hidupku. Bahkan jika kematian akan datang menjemputku, aku takkan takut pada neraka. Sebab surga telah kumiliki dalam dirimu. Aku tak merasakan kehilangan bila ketiadaan satu harta ada padaku. 

Tak ada yang tiada ketika kehadiranmu memenuhi seluruh kekosongan dalam hidupku. Sebab wajahmu yang hadir dalam seluruh keuutuhan namamu terpampang lebar dalam harapanku. Setiap kali aku menatap bola matamu, aku melihat jalan menuju kebahagiaan. Setiap kali aku memandang wajahmu, aku hanya menemukan dunia ini hanya dirimu. Karena bagiku, engkaulah jawaban dari misteri yang terlahir dari setiap ketidaktahuanku. 

Hampir dua tahun, kita tak jumpa.  Aku tak tahu seperti siapa kamu di sana, dan seperti siapakah aku dalam dirimu. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum kalau suatu saat nanti harapan menghianati waktu. Bagiku cinta adalah misteri yang belum pernah bersatu dengan diriku. Takdir hanya membuat kita pasrah pada ketidakpastian. Jauh sebelum beranjak pergi dari kebersamaan kita waktu itu, aku mulai menyusun harapan untuk memulai percaya pada janji kita, yang telah kita ikrarkan di sudut gereja senja itu. 

Sekarang, rasanya tak ada lagi ramalan yang bisa membatasi segala pilihan ku. Tak ada lagi alasan untuk membenarkan kemustahilan ini, bahwa impian yang tidak harmonis selalu menyeretku ke tebing waktu. Enu, bila suatu saat kita bisa melihat keindahan di balik kata-kata, niscaya mukjizat yang belum pernah terjadi menjadi satu-satunya cara untuk membebaskan kerinduan ini. Sekarang aku berjalan di atas angin khayalan ku sendiri. Menari-nari di langit ide ku sendiri, demi meniti lorong hatimu yang hingga kini masih misterius. Walaupun banyak kategori cinta yang dikibarkan di sudut rindu, tapi aku masih tersesat di jalan lurus yang jauh melampaui batas ketidakhadiran dirimu.

Entahlah, aku mungkin bagian dari permainan rasa yang tak tuntas. Atau mungkin aku  hanya bagian dari karya cinta sang pencipta yang tidak pasti. Meski ketidakpastian telah membalut tubuhku yang telanjang dalam totalitas penantian hadirmu kembali. Aku yakin aka nada suatu titik di mana takdir menyatukan kita lagi seperti dulu. Bila bukan hari ini, mungkin besok, mungkin juga lusa. Dari yang menantikan hadirmu kembali.

Baca: Catatan Lepas, Selalu saja begitu, Kisah sebuah waktu, Mengulek aksara

***

“Wahh,, menegangkan sekali isi surat ini. Ini pasti bukan surat percintaan kelas kaleng-kaleng”. Aku menggeleng-geleng. 

“Siapakah aku dalam dirimu?” sepenggal tanya yang sempat menahan laju bacaku. Lantas apakah yang tengah terjadi dengannya. Rumor apa yang diagendakan Enu sehingga kekasihnya harus pontang-panting dengan kereshan penantian panjangnya. Tidakkah wajar bila si laki-laki mengutarakan pertanyaan itu. Sejenak aku melongo, mematung.

Bro, sudahi dulu bacanya ya, tu ada dosen depan.

Oke,, si,siap. 

Perlahan kulipatkan surat yang kutemukan di beranda kampus tadi sembari menyisihkanya ke saku almamaterku. Aku kembali memantapkan fokusku pada dosen yang tengah memberikan materi kuliah. Manata kembali pikiran yang sempat ambruk saat sempat menafsir isi surat. Agar agu tidak gagal fokus. 

Demikian cerpen Surat yang terdampar ini, semoga bermanfaat bagi para pembaca.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Surat Yang Terdampar (Cerpen Fr. Adryan Naja)

Trending Now

Iklan