Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Catatan Perjalanan Literasi dan Ekologi

Sarfin Fidin
Sunday, March 13, 2022 | 13:26 WIB Last Updated 2022-03-13T06:44:54Z
Catatan Perjalanan Literasi dan Ekologi
Catatan Perjalanan Literasi dan Ekologi (foto istimewah)


BernasINDO.id, Catatan Perjalanan Literasi dan Ekologi-Sodan, 12 Maret 2022. Kampung (Wanno) Sodan yang berada di wilayah kecamatan Laboya kabupaten Sumba Barat menyimpan cerita yang sangat menari dari dunia pendidikan dan literasi Indonesia. 

Di lihat dari topografi kampung Sodan memiliki wilayah pegunungan, lembah, hutan dan ladang, rata-rata masyarakat desa Sodan berprofesi sebagai petani. Kehidupan warga desa ini sangat bergantung pada daya dukung lingkungannya. Sehingga, alam menjadi unsur penting dalam setiap kehidupan sosial budaya dan ekonomi. 

Baca: Musrenbangcam di Satarmese, Bupati Hery Bahas Ulumbu dan 1.025 kartu BPJS

Di akhir tahun 2019 cerita kampung Sodan dimulai ketika salah satu pegiat pendidikan Butet Manurung dengan SOKOLA INSTITUTE yang dijalankan oleh Jefri Davidson Amaikah dan Rambu  Lia Jola mereka  membangun konsep Hakola Huba  bersama Sokola Institute untuk membantu anak-anak mengenal baca, tulis sebagai upaya penguatan karakter dan literasi kontekstual. Bukan hanya isu pendidikan yang dilakukan oleh komunitas Hakola Huba, bidang pertanian, peternakan, budaya dan lingkungan hidup juga diajarkan kepada anak-anak kampung Sodan. 

Hakola Huba yang didukung oleh SOKOLA INSTITUTE yang di inisiasi oleh Saur Marlina Manurung  atau biasa dikenal dengan nama Butet Manurung adalah perempuan peraih Nobel Asia mewakil Indonesia, selain itu ia seorang antropolog dan aktivis yang konsen di dunia pendidikan sekaligus inisiator penggerak pendidikan non formal di pelosok-pelosok tanah air Indonesia. 

Nama Butet Manurung sudah tidak asing lagi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Ia dikenal sebagai aktivis dan antropolog yang mengembangkan program pendidikan bagi Orang Rimba di hutan Bukit Duabelas, Jambi Istilah “Sokola” di ambil dari kisah suku anak dalam tepatnya di Bukit Dua Belas Jambi dimana mereka menyebut sekolah dengan istilah Sokola. 

Baca: Soal Kunjungan Duta Baca Nasional di Ruteng, Bupati Hery Singgung Pondok Baca Di Pedesaan

Catatan Perjalanan

Perjalanan saya kali ini mengunjungi kampung Sodan, dengan rasa penasaran seperti apa kampung yang berada di ketinggian 797 m dpl dan bagaimana mereka bisa bertahan hidup di atas pegunungan ? 

Diskusi kecil malam itu bersama kawan Sokola Huba membawa saya ke kampung Sodan yang ternyata memiliki keunikan tersendiri. Ini pertama kali saya mengunjungi kampung Sodan dan cukup menguras energi karena harus melewati arus sungai dan menaklukkan tanjakan untuk sampai di kampung Sodan. Sungguh perjalanan yang melelahkan. 

Suguhan air kelapa muda menghapus dahaga saya sebelum saya terkesima dan bertanya banyak tentang kampung Sodan dan begitu hebatnya para leluhur membangun peradabannya di pegunungan sementara ada pilihan lain seperti di lembah. 

Setelah beristirahat, saya pun memulai petualangan dengan berkeliling kampung Sodan bersama salah satu pegiat literasi Hakola Huba, dan ternyata desain bangunan kampung Sodan disesuaikan dengan topografi alamnya. 

Hasil diskusi menerangkan bahwa para leluhur dahulu kala memilih pegunungan sebagai tempat rumah untuk menghindari ancaman seperti banjir, dan tanah longsor. Saya pun berpikir bahwa masyarakat kampung Sodan sudah memiliki caranya sendiri untuk beradaptasi terhadap bencana dan perubahan iklim. Mereka sudah memiliki pengetahuan lokal tentang mitigasi. 

Baca: Bunda Baca atau Bunda Literasi? (Sebuah Kontroversi)

Pertanian Berkelanjutan 

Sejak terjadinya perubahan iklim, peluang munculnya kejadian iklim ekstrem meningkat. Di sisi lain, manusia tidak dapat mengendalikan perilaku iklim. Oleh karena itu, secara teknis dan sosial ekonomi, tindakan yang layak ditempuh adalah memperkuat kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. Untuk jangka menengah-panjang, adaptasi saja tidak cukup. Strategi yang dipandang tepat yaitu melakukan adaptasi dan mitigasi secara sinergis (IPCC, 2001; IPCC, 2007).

Untuk dapat dikatakan berkelanjutan, suatu sistem pertanian harus memenuhi prinsip dasar yang secara umum merupakan adopsi dari prinsip dasar pembangunan berkelanjutan (Rukmana, 2012). Tiga prinsip dasar sistem pertanian berkelanjutan meliputi:

Keberlanjutan Ekonomi

Keberlanjutan secara ekonomi dimaksudkan sebagai pembangunan yang mampu menghasilkan barang dan jasa secara kontinu untuk memelihara keberlanjutan pemerintahan dan menghindari ketidakseimbangan sektoral yang dapat merusak produksi pertanian dan industri (Fauzi, 2004). Pertanian berkelanjutan dapat dilakukan melalui peningkatan pengelolaan tanah dan rotasi tanaman dengan tetap menjaga kualitas tanah dan ketersediaan air sehingga peningkatan produksi pertanian dapat terus dipertahankan hingga jangka panjang.

Keberlanjutan Ekologi/Lingkungan

Sistem yang berkelanjutan secara ekologi/lingkungan merupakan usaha untuk memanfaatkan dan mengelola sumberdaya alam secara bijaksana dengan tidak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dan berlaku adil bagi generasi mendatang (Keraf, 2002). Pertanian berkelanjutan dapat dicapai dengan melindungi, mendaur ulang, mengganti dan/atau mempertahankan basis sumberdaya alam seperti tanah, air, dan keanekaragaman hayati yang memberikan sumbangan bagi perlindungan modal alami.

Keberlanjutan Sosial

Keberlanjutan sosial diartikan sebagai sistem yang mampu mencapai keadilan dan kesetaraan akses terhadap sumber daya alam dan pelayanan publik baik dalam bidang kesehatan, gender, maupun akuntabilitas politik (Fauzi, 2004). Dalam pertanian berkelanjutan, keberlanjutan sosial berkaitan dengan kualitas hidup dan kesejahteraan dari mereka yang terlibat dalam sektor ini. Pertanian berkelanjutan memberikan solusi bagi permasalahan pengangguran karena sistem ini mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak bila dibandingkan dengan sistem pertanian konvensional yang lebih mengedepankan penggunaan mesin dan alat-alat berat.

Perubahhan Iklim diyakini akan berdampak buruk terhadap berbagai aspek kehidupan dan sektor pembangunan, terutama sektor pertanian dan dikhawatirkan akan mendatangkan masalah baru bagi keberlanjutan produksi pertanian, terutama tanaman pangan. Pada masa mendatang, pembangunan pertanian akan dihadapkan pada beberapa masalah serius, yaitu:

  1. Penurunan produktivitas dan pelandaian produksi yang tentunya membutuhkan inovasi teknologi untuk mengatasinya.
  2. Degradasi sumber daya lahan dan air yang mengakibatkan soil sickness, penurunan tingkat kesuburan, dan pencemaran.
  3. Variabilitas dan perubahan iklim yang mengakibatkan banjir dan kekeringan,.
  4. Alih fungsi dan fragmentasi lahan pertanian. 

Budaya bertani masyarakat adat Sodan masih memegang kuat tradisi bertani yang tradisional. Lahan ladang garapan hanya bisa ditanami padi, ubi dan jagung dalam waktu 3 tahun saja, setelah itu mereka membiarkan lahan tersebut “beristirahat” kemudian beralih ke lahan irigasi selama 3 tahun pula. Proses ini terjadi setiap periode tanam. 

Sistem pertanian ini merupakan model pertanian yang masih sangat sederhana yang sifatnya ekstensif dan tidak memaksimalkan penggunaan input seperti teknologi pupuk kimia dan pestisida.

Cara ini bertujuan agar ladang di perbukitan dapat kembali pulih dan di periode berikutnya bisa lebih menghasilkan padi, jagung dan ubi yang banyak. 

Dalam konteks perubahan iklim dan bencana, mitigasi merupakan upaya mengurangi dampak kerusakan lingkungan. Sebab kita semua tahu dampak lingkungan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari dan merupakan bagian dari gejala alam. Jika tidak dilakukan mitigasi, maka bisa saja bencana alam terjadi. Apa yang dilakukan oleh masyarakat Sodan adalah bagian dari upaya mitigasi dan adaptasi bencana dan perubahan iklim. 

Adaptasi sendiri diartikan sebagai upaya menyesuaikan diri dengan lingkungan. Prosesnya dilakukan dengan merespon perubahan agar tetap dapat bertahan. Maka tidak heran ketika masyarakat Sodan dalam bertani dan memilih tempat tinggal selalu mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

Sodan akan terus bertahan dengan segala daya dukungan lingkungannya selagi kearifan lokal menjadi landasan dalam pengelolaan sumber daya alam. Oleh karena itu, sangat penting menjaga keseimbangan alam untuk kehidupan yang lebih baik. Semoga Hakola Huba terus memberikan edukasi-edukasi guna kehidupan dan masa depan yang lebih baik. 


Sodan, 13 Maret 2022


Deddy F. Holo

Divisi Bencana dan Perubahan Iklim WALHI NTT 


Mau Muat tulisan di BernasINDO.id?

Silahkan kirim ke redaksibernasindo.id@gmail.com

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Catatan Perjalanan Literasi dan Ekologi

Trending Now

Iklan