Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Menunggumu Sampai Pulang (Cerpen Pius Kanelmut)

Sarfin Fidin
Wednesday, March 2, 2022 | 17:43 WIB Last Updated 2022-03-23T00:52:55Z
Menunggumu Sampai Pulang (Cerpen Pius Kanelmut)
Menunggumu Sampai Pulang (Cerpen Pius Kanelmut)



Oleh: Pius Kanelmut


Menunggumu Sampai Pulang-Aku berdiri sandar pada tembok gereja sambil memandang rumah adat tua itu. Melodi piano dari dalam gereja terdengar begitu merdu menambah heningnya suasana pagi. Mentari pagi merekah sembari perlahan beranjak menuju pentahtaannya. 

Kusempatkan diriku menikmati keindahan pemandangan kampung tua ini. Sedapat mungkin tempat ini memberi ketenangan untukku. Kesunyiannya mampu memberikan makna tersendiri bagi setiap orang beriman yang ingin mencari ketenangan di dalam maupun di luarnya. Mungkin inilah rangkaian kata-kata indah yang melukiskan antara gereja dan kampung tua ini. 

 “Teng…teng…teng...” 

Suara merdu lonceng Gereja tua itu sungguh membuatku resah. Aku masih ingin berkelana lebih jauh dalam fiksiku sembari ragaku berdiri melepas lelah. Aku harus bergegas ke dalam gereja untuk merayakan Ekaristi. 

Walau pandanganku terkadang terasa setengah sayup, namun aku terus berusaha untuk tetap tegar. Dingin sekali rasanya cuaca pagi ini bak tinggal di dalam gua es. Akan tetapi semua itu sepertinya sirna di telan dentuman indah melodi piano. Aku kagum mendengar suara pemazmur hari ini. Suara yang indah bak malaikat titipan surga. Suara itu sangat khas membuatku terdiam dan membisu seakan aku belum terjaga dari lamunanku.  

Baca: Di Bawah Kepak Sayap-Mu, Harmoni Karmel, Nada Sabda Bahagia, Yesus Sahabat Seperjalanan

“Wow, merdu sekali suaranya. Siapakah dia? Ah, sudahlah itu pertanyaan tidak perlu. Yang terpenting bagiku adalah jangan menyiakan sedetik waktu tuk mendengar suara bak malaikat itu” gumamku dalam hati. 

“Prak!!!”

“Oh, sorry.”

“Tidak apa-apa. Lain kali lebih hati-hati ya!” Jawabku seadanya sambil memegang bahuku.

“Ini bukumu, maaf aku tidak sengaja.” Ia menyodorkan buku madah bakti kepadaku yang telah dibuatnya jatuh. 

“Panggil saja aku Isko. Maaf aku harus segera pergi.” Katanya begitu singkat sesingkat perjumpaan ini. Orang ini begitu asing bagiku, tetapi dia sepertinya bukan orang biasa. Memang seharusnya kuakui suaranya sangat indah.

Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, pikiranku melayang-layang tentang laki-laki tadi. I-S-K-O. Begitu indah ketika kueja namanya. Pandangan pertamaku, dia itu sempurna. 

Aku menjadi salah tingkah menatap matanya yang sebening embun. Hatiku tak pernah tenang setelah perjumpaan waktu itu. Bayangan laki-laki itu jauh melekat dalam langit-langit pikiranku. Setiap malam aku terus berjaga menunggu pagi demikian sebaliknya. Sambil berharap hari minggu cepat menyapaku kembali biar bisa berjumpa lagi dengannya dan menikmati saling tatap tanpa kata. 

 “Apakah aku sedang jatuh cinta pada laki-laki itu? Ah, tidak mungkin.”

“Hai, siapa yang kamu cari?” Tanyanya lembut.

“Oh, aku tidak mencari siapa-siapa. Aku hanya ingin mencari kedamaian di tempat ini.” Jawabku seadanya. Suasananya berubah seketika saat kami menyadari kalau sebelumnya kami pernah bertemu.

“Isko?”

“Alana?” Sentak kami saling menyapa sambil tersenyum. Sungguh, aku sangat malu melihat tatapannya. Baru pertama kali merasakan tatapan semacam itu. Tatapan yang agak sulit bila kurangkai dengan kata.

*****

Sejak saat itu aku dan Isko mulai berteman. Ia sering datang ke rumah untuk sekedar berbagi cerita. Aku bangga mengalami kebaikannya. Apalagi ketika melihatnya tersenyum. Namun, tak bisa dijelaskan, ada apa dengan senyumannya? Karena memang itu yang aku rasakan. Isko adalah seorang frater pastoral di parokiku. Aku senang mendengarnya bercerita dan sering menahannya setiap kali hendak mau pamit. Aku nyaman dan bahagia sekali berada dekatnya.

Hingga satu saat, aku dan Isko berpetualangan ke gua Maria di bawah bukit. Hari itu sangat bersejarah bagiku. Entah alasan apa, aku pegang tangannya erat-erat seperti tidak mau membiarnya pergi. Sesekali aku memeluk manja walau aku tahu dia bukanlah milikku. Dalam keadaan seperti itu, Isko berbalik dan mengecup hangat keningku. Ia membelai hangat rambutku sambil membisikkan sesuatu di telingaku. 

Baca: Hambor Dalam Budaya Manggarai: Momen Saling Memaafkan dan Berdamai

“Alana, engkau mungkin bingung tentang semua ini. Tapi kebingunganmu adalah awal dari kesanggupanmu. Jujur Alana, aku mengagumimu. Kau sungguh berbeda dengan yang lain. I love you.” Aku kaget dan tidak sanggup mendengarnya. 

“Tapi Is, aku tak pantas dicintai” jawabku polos. “ Aku bukanlah Alana seperti yang kau kenal selama ini”

“Jangan takut Lana. Aku pun merasakan hal yang sama. Akan tetapi hatiku berteriak bila harus kupendam. Lalu sampai kapan aku terus diam dan tersiksa seperti ini. Rasa ini tak tahu datangnya dari mana. Please?” Suara Isko dengan nada sedikit memohon.

“Bukan aku takut untuk mencintaimu Is, namun aku terlalu takut untuk kembali merasakan kehilangan yang begitu pedih. Seandainya kau tahu betapa banyak luka yang pernah hadir dalam hatiku, betapa banyak air mata yang pernah mengalir dari kedua mataku, saat itulah kamu akan mengerti” tegasku tahan tangis.

"Alana, kalau orang lain membuatmu menangis biarkan aku yang menghapus jejak-jejak air mata dalam pipimu. Aku berjanji akan menjadi tongkat penyangga dalam hidupmu"

Sebenarnya akulah yang semula mencintai Isko. Tapi, mengapa justru dia yang lebih dulu menyampaikan isi hatinya kepadaku? 

“I love you too” jawabku tersipu malu. Tak terasa tubuhku sudah berada dalam pelukannya. Tubuhnya yang sempurna kurasakan sangat  damai. Dielusnya kepalaku dengan lembut seperti tak mau membiarkan aku terlihat sedih.

Berada di samping Isko membuat hari-hariku tak pernah sepi. Aku senanag berlama-lama dengannya. Menikmati setiap detik yang menemani detak jantung ini. Seringkali suasana hati yang tak bersahabat bisa tiba-tiba damai karenanya. Semakin hari rasanya semakin nyaman. Ada rasa butuh teramat dalam yang membuatku semakin betah dengannya. 

Baca: Indra Kenz Yang Memiliki 17 Daftar Aset dengan Nilai Rp 100 Miliar Lebih Ternyata Youtuber

Setiap akhir pekan aku mengajaknya ke pantai, sekedar untuk menghabiskan senja bersamanya. Menyaksikan ombak yang saling berkejaran di tepi pantai. Memandang karang yang ditempa ombak. Kemudian berlama-lama tanpa suara. Tidak melakukan apa-apa selain saling diam menatap pandangan. Aku senang menatapnya yang tiba-tiba menatapku lama. Di matanya aku selalu merasa lebih baik. Di matanya aku selalu merasa punya seseorang bahkan di saat aku harus sendiri.

*****

Kini masa pastoralnya sudah berakhir dan harus kembali melanjutkan studinya. Kenangan itu terbalut indah di lorong terdalam hatiku. Aku harus bertahan menunggunya. Bertahan sampai Isko pulang. Aku merelakan kepergiannya walau terasa sangat berat. Aku berusaha kuat. Kekuatan itu diberinya pada malam sebelum meninggalkanku. Katanya, ia akan kembali untukku. Kepergiannya hanya inggin membenarkan keputusannya kepada pimpinan biara.

Sudah tiga tahun aku menunggu janjinya. Aku sudah mulai merasa kesepian mendalam. Seperti ada kekuatan yang sedang melawan diriku dan aku jadi rindu. Rindu dalam aneka macam perasaan yang benar-benar mendalam. Dunia malamku terlintas bayang-bayangnya yang menepis rasa kantukku. 

Di kepalaku Isko kuajak ke mana-mana semauku. Mendatangi tempat-tempat tak terduga. Pergi ke taman sambil melihat bintang-bintang berlarian. Menikmati momen diam yang lama. Sekedar untuk mengobati kesepianku yang mendalam. Sambil berharap ada kejutan yang membahagiakan darinya, bahwa ia akan datang melamarku.

Di tengah penantian panjangku, aku menerima sepucuk surat yang dialamatkan kepadaku. Pelan-pelan kubuka dan membaca isi surat itu. 

Teruntuk Alana,

Tak terasa sudah tiga tahun kita berpisah. Maafkan aku Alana, aku terlalu sibuk dengan studiku. Aku harap Alana bisa mengerti dengan keadaanku. Alana, di tahun yang keempat ini ada berita baik buat kamu. Dua hari lagi aku dibuatkan pesta besar-besaran di kampung atas keberhasilanku. Aku mau kamu datang biar bahagiaku adalah bahagiamu juga. Jangan lupa Alana, dua hari lagi.

Salam Rindu,

Isko

Hari yang dimaksudkan Isko dalam suratnya pun tiba. Aku segera mempersiapkan segala sesuatu sebelum berangkat. Bersamaan dengan itu, mendadak pula perasaan sepi menikamku. Kerinduanku sentak menggeledak. Beruntung kesadaranku segera terjaga bahwa aku mesti menemuinya sekarang. Rinduku sudah tak tahan lagi. 

Tak seberapa jauh langkahku menuju rumahnya, aku mendengar suara panggilan dari arah belakang. Itu adalah Isko. Sebuah senyuman muncul dari bibirku. Aku segera balek dan menatap ke arah pemilik suara. Betapa kagetnya aku melihat Isko yang telah berjubah lengkap. Tidak pernah aku bayangkan akan terjadi seperti ini. Aku tidak percaya. Pada saat yang sama tubuhku bergetar tak karuan. Ingin sekali rasanya aku berteriak tetapi mulutku tertutup.

Aku menghidupkan motorku dengan kasar lalu melarikannya sekencang mungkin tanpa mempedulikan panggilannya. Rasa sakitku sudah mencapai puncaknya. Aku benci sekali. Dia sudah sangat keterlaluan.  Ia sudah menipu diriku. Ia telah memberikan aku harapan yang palsu. Dia sudah mempermainkan perasaanku. Tangisanku baru meledak setelah aku terlentang di atas tempat tidur.

“Oh, tidak” teriakku ketika menyadari diriku penuh dengan luka. Aku menangis semakin menjadi-jadi dan menutupi mukaku dengan bantal.

“Isko,,,!Isko,,,!Kau terlalu,,,!”

“Maafkan aku Alana,” Kugeser bantal dari mukaku. Isko berdiri di depanku.

“Kau!” pekikku kaget tak percaya.

“Aku Isko Alana, aku sudah lama menunggumu di luar. Aku dengar kau menyebut namaku. Maafkan aku Alana.”

“Kau penipu! Brengseks! Kurang ajar! Pergi kauuu!!!”

“Terserah kau Alana, mau bilang apa. Tapi, aku tak mau membiarkanmu disakiti. Aku tak mau melihatmu sedih. Aku mau kau bahagia karena keberhasilanku. Ini memang sulit Alana. Percayalah semua akan baik-baik saja.” Ia menatapku sempurna. Tapi luka di hatiku sangat pedih. Seandainya menangis mampu menghilangkan rasa sakit ini, aku akan melakukannya sampai air mata tak lagi berair.

“Alana, tentang kejadian tadi. Itu hanya permainanku dengan maksut untuk mengukur sejauh mana ketabahanmu. Melihat reaksimu yang semakin menjadi-jadi, aku takut meneruskan permainan itu. Aku sudah kembali Alana, kembali untukmu. 

Sudah kupikirkan matang-matang. Aku mau melamarmu. Sekarang, aku akan membalut luka di lututmu itu sekalian membalut luka di hatimu.” Isko menyentuh daguku, lalu kuangkat wajahku. Ditatapnya mataku dalam-dalam, seakan dengan itu ia akan masuk ke dalam hatiku. Ia melumati bibirku penuh hangat. 

Damai, bersamaan dengan itu sebuah lagu yang syahdu menghangatkan situai, “The Power Of Your Love”. Dalam keaadaan seperti ini, hanya satu yang dapat kusadari yakni rasanya aku tak kuasa lagi dalam pelukkannya. Rasanya luka-luka yang sudah tergores perlahan-lahan hilang. Karena akhirnya dia pulang juga dan menungguku tidaklah sia-sia.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menunggumu Sampai Pulang (Cerpen Pius Kanelmut)

Trending Now

Iklan