Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Pengaruh Keanekaragaman Budaya Terhadap Hidup Bakti di Indonesia

Sarfin Fidin
Tuesday, March 29, 2022 | 11:55 WIB Last Updated 2022-03-29T05:42:57Z
Pengaruh Keanekaragaman Budaya terhadap Hidup Bakti di Indonesia
Pengaruh Keanekaragaman Budaya terhadap Hidup Bakti di Indonesia



Pengaruh Keanekaragaman Budaya Terhadap Hidup Bakti di Indonesia - Indonesia merupakan negara kesatuan yang berdiri di atas 13.000 pulau yang bertebaran di seluruh Nusantara dan merupakan negara kepulauan yang terbesar di dunia (Kansil dan Julianto, 1984: 123). 

Hal ini yang kemudian melahirkan banyak keanekaragaman di bumi Indonesia, seperti bentuk fisik, warna kulit, suku, ras, agama, budaya, pandangan hidup dan kearifan lokal lainnya yang menjiwai seluruh kehidupan masyarakatnya. Maka berbicara tentang pengaruh keanekaragaman budaya terhadap hidup bakti di Indonesia juga selalu menyangkut konteks geografis, sosial, dan budaya Indonesia itu sendiri. 

Baca: Permenungan Silvester Joni Soal "Mencetak Insan Berkompeten", Apa Maknanya, Simak Ulasannya

Pada tanggal 3 Januari 1961 silam, Gereja Indonesia memasuki fase yang baru dalam sejarah kekatolikannya. Paus Yohanes XXIII dalam konstitusi apostolik Quod Christus menetapkan status baru kepada Gereja Indonesia dari “tanah misi” menjadi Gereja dengan “hierarki mandiri”. Hal ini tentu saja juga berpengaruh terhadap keberadaan hidup bakti di Indonesia. Contoh yang paling konkret nyata dalam diri para calon religius yang tidak lagi datang dari belahan bumi Eropa sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, melainkan lahir dari bumi Indonesia itu sendiri. Hal ini tentu saja membawa warna tersendiri terhadap keberadaan hidup bakti di Indonesia. Sejarah telah membuktikan bahwa wajah Gereja Katolik Indonesia bisa berkembang seperi sekarang ini tidak pernah terlepas dari peran putera/i Indonesia itu sendiri di dalam spiritualitas ordo atau tarekatnya. 

Menyadarkan Kembali Hakikat Hidup Bakti

Kaum religius adalah mereka yang ingin mengikuti Yesus Kristus yang miskin, wadat, dan taat. Cara hidup mereka menjadi kesaksian bagi dunia bahwa tujuan hidup manusia adalah hidup kekal yang jauh mengatasi hidup fana di dunia ini (Pidyarto, 2007:88). Lebih jauh lagi, kesaksian hidup ini terungkap jelas dalam beragam kharisma pelayanan seturut semangat dasar ordo atau tarekat religius yang dihidupinya. 

Di Indonesia setidaknya terdapat ratusan kongregasi religius bairawan/ti yang tersebar di seluruh pelosoik tanah air. Ada yang berkarya di bidang kesehatan, pendidikan, katekese, panti asuhan dan rumah jompo, parokial, kontemplatif, dan masih banyak lagi kharisma pelayanan lainnya. Jelas hal ini menggambarkan apa yang disebut “tanaman dengan banyak cabang” menurut Lumen Gentium artikel 43. Bahwa meskipun mempunyai kharisma yang berbeda-beda, hidup bakti tetap berakar mendalam pada teladan dan ajaran Kristus Tuhan yang merupakan kurnia Allah Bapa kepada Gereja-Nya melalui Roh Kudus (Vita Consecrata no 1). 

Baca: Mereguk Dari Sumber Sendiri: Pancasila sebagai Local Wisdom di Tengah Kemelut Modernitas

Nah, jika melihat perkembangan hidup bakti di Indonesia saat ini, salah satu fenomena yang sangat mencolok adalah kehadiran putra/i Indonesia di setiap ordo atau tarekat religius. Mereka datang dari berbagai macam latar belakang budaya Indonesia untuk menyerahkan dirinya guna menjawabi panggilan Tuhan dengan mengikuti nasihat-nasihat injil. Sebut saja etnis Jawa, Flores, Dayak, Ambon, bahkan Cina. Pada awal 1980-an saja, Jawa menjadi prosentase tertinggi jumlah rohaniwan/tinya, yaitu 42%, lalu diikuti oleh Flores 17,4% dan Cina 8,1% serta masih banyak lagi dari etnik lainnya. Hal ini jauh berbeda dengan periode awal kehidupan Gereja Indonesia yang diwarnai oleh para misisonaris Eropa. 

Lalu apa yang mau dikatakan dari keberagaman budaya ini terhadap hidup bakti di Indonesia? Bagi saya hal ini pertama-tama menjelaskan apa yang menjadi salah satu hakikat dasar hidup bakti itu sendiri, yakni keberagaman kharisma. Paus Yohanes Paulus II dalam Vita Consecrata no. 2 dengan sangat indah mensyukuri salah satu hakikat dasar hidup bakti: “Kita semua menyadari kekayaan yang disajikan oleh kurnia hidup bakti dalam keragaman kharisma-kharisma maupun lembaga-lembaganya bagi jemaat gerejawi....yang dalam lubuk hati membaktikan diri kepada Allah melalui pentakdisan yang istimewa.” 

Hemat saya, ungkapan keragaman kharisma hidup bakti ini merupakan salah satu hakikat dasar hidup bakti itu sendiri yang juga terungkap dalam kharisma masing-masing anggotanya. Adapun karisma setiap pribadi ini merupakan bentuk lain dari ungkapan “budaya”nya. Maka keberagaman budaya dalam sebuah tarekat religius merupakan ungkapan lain dari hakikat hidup bakti itu sendiri. Bahwa Allah memanggil kaum religius bukan dalam keseragaman mereka melainkan dalam keberagaman, sebagaimana halnya hidup bakti itu sendiri yang mempunyai beragam kharisma dan spriritualitas tapi tetap berakar pada teladan dan ajaran Kristus.

Kharisma Pelayanan

Panggilan untuk membaktikan diri bagi perutusan menjadi salah satu tugas pokok anggota hidup bakti. Mereka yang dipanggil oleh Allah untuk mengikuti Yesus juga ditakdiskan dan diutus ke dalam dunia untuk mengikuti teladan-Nya dan melangsungkan misi-Nya (VC 72). Karena itu, setiap anggota hidup bakti juga selalu dipersiapkan untuk menjalankan dimensi apostolis ini untuk menghadapi situasi zaman dan budaya yang selalu berubah-ubah. Maka hemat saya, di sinilah nilai penting keanekaragaman budaya anggota hidup bakti di dalam sebuah tarekat religius; setiap anggota hidup bakti selalu mempunyai kharisma pelayanan yang khas dan unik berkat budayanya (local wisdom). Di sini saya menampilkan dua contoh kearifan lokal yang pada umumnya menjiwai pelayanan anggota hidup bakti.

Pertama, gotong royong. Semangat ini hampir pasti ditemukan di setiap kebudayaan di Indonesia. Seorang anggota hidup bakti yang berasal dari suatu daerah di mana semangat ini menjadi “jiwa masyarakatnya” akan dengan mudah bekerja sama dengan orang lain. Semangat ini akan selalu menjadi kharismanya dalam menjalankan tugas pelayanannya. 

Baca: Melampaui Kenangan (Tanggapan Atas Opini Silvester Joni)

Kedua, musyawarah. Sebagaimana halnya budaya gotong royong, musyawarah juga menjadi kekayaan bangsa Indonesia. Kebudayaan Manggarai misalnya menyebut musyawarah dengan sebutan lonto leok di mana segala macam bentuk keputusan bersama selalu lahir dari musyawarah bersama. Maka kemanapun seorang anggota hidup bakti yang berbudaya Manggarai diutus, semangat lonto leok ini akan selalu dibawanya serta dan menjadi karisma pelayanannya yang khas dan unik.

Akhirnya, para anggota hidup bakti hendaknya sedapat mungkin memelihara sikap intelektual yang terbuka dan kemampuan menyesuaikan diri, sehingga kerasulan dipertimbangkan dan dilaksanakan menanggapi keperluan-keperluan zaman mereka sendiri, dengan memanfaatkan upaya-upaya yang tersedia berkat kemajuan kebudayaan (VC 71).


(Vincent Masut/bernasindo)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pengaruh Keanekaragaman Budaya Terhadap Hidup Bakti di Indonesia

Trending Now

Iklan