Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Melampaui Kenangan (Tanggapan Atas Opini Silvester Joni)

Sarfin Fidin
Monday, March 28, 2022 | 09:29 WIB Last Updated 2022-03-28T02:46:57Z
Melampaui Kenangan (Tanggapan Atas Opini Silvester Joni)
Melampaui Kenangan (Tanggapan Atas Opini Silvester Joni)


Oleh: Ambros Leonangung Edu*


Melampaui KenanganTulisan ini terinspirasi dari opini saudara Silvester Joni berjudul “Mereka itu Jebolan Loyola” (fajartimur.com/27/3/2022), yang kemudian ditanggapi sejumlah penulis lain. Saya lebih tertarik untuk masuk ke dalamnya atas suatu alasan, yang melampaui paradoks dari para penulis. Boleh dibilang, sebuah resultante dari komplikasi yang mendalam dari kenang-kenangan (sejarah) dan kerinduan yang hadir secara bersamaan dalam benak dan hati saya, setelah membaca tulisan suadara Silvester.

Sebagai anak Manggarai Timur, saya sangat bangga karena pernah belajar di Labuan Bajo. Setidaknya, hal ini membuat saya mengenal Labuan Bajo ketika bentangan alamnya masih asli tahun 90-an, jauh sebelum ide-ide nakal kapitalistik coba menyulapnya agar terlihat indah seperti sekarang.

Baca: Mencintai Almamaterku: “SMPK Rosamistika Waerana“

Labuan Bajo tahun 90-an dikenal dari dunia pendidikannya, yakni SMUK Santo Ignatius Loyola dan seminari Yohanes Paulus II. Tidak berlebihan. Itulah pandangan umum di Flores dan Manggarai Raya ketika itu. Lantaran efek polititisasi dan sentralisasi dunia pendidikan, tidak sedikit sekolah menengah di daerah di Manggarai Raya mengalami under-management syndrome. Anak-anak sekolah yang sedang berburu ilmu mencari tempat yang tepat, itulah Loyola dan Seminari Yohanes Paaulus II. 

Nuansa Belajar

Seperti terurai jelas dalam narasi Silvester Joni, saya juga suka dengan “kultur belajar” dan “semangat berprestasi” siswa yang kuat. Siswa didorong sampai batas tertentu untuk mengaktualisasi diri. Sebelum Howard Gardner menelurkan teori Multiple Intelligences tentang kecerdasan ganda, bahwa anak yang punya bakat sepak bola harus kembangkan bakat bola, yang bisa menyanyi, menulis, melukis, silakan kembangkan bakat tersebut, di kedua lembaga itu anak-anak sudah terbentuk kepribadian berdasarkan keunikan dirinya. Setiap potensi anak dieksplor, dibimbing dan dikembangkan. Sebuah proses penemuan diri. Itu yang disebut pendidikan. Dalam bahasa Latin disebut educatio, turunan dari kata educare/educere: membimbing (ducare) keluar (ex), menuntun keluar, mengeluarkan (potensi).

Iklim akademis diperkuat oleh pendidikan nilai atau pendidikan karakter yang ditanamkan di asrama, baik asrama seminari maupun asrama arnoldus-arnolda. Ternyata, memang, pendidikan nilai atau pendidikan karakter yang digaungkan pemerintah di kemudian hari, sangat efektif diterapkan untuk sekolah-sekolah berasrama. Apapun program pendidikan karakter, yang dominan dilakukan di sekolah justeru iklim pembelajarannya. Pembelajaran berkutat pada kemampuan menguasai materi pelajaran (content-based curriculum development), menonjolkan ranah kognitif, dan mengabaikan elemen-elemen samping (raw-instrumental-environmental input). 

Baca: Dia milik-Mu, Bukan Aku (Puisi Vivinsia Daro)

Pendidikan asrama melengkapi apa yang tidak dapat dijalankan guru-guru di sekolah, yakni pengetahuan dan keterampilan hidup seperti kerohanian, kedisiplinan, kesederhanaan, komitmen, kesehatan, dsb. Saya sangat setuju dengan pendidikan berasrama, setidaknya untuk anak-anak sekarang yang hidup di alam anomali sosial. Sebuah “dunia lepas kontrol (runaway world) (Giddens, 1999), keadaan di mana anak-anak harus hidup dalam bayang-bayang kebebasan dan egoisme akut.

Pengalaman Remaja

Keberadaan di asrama dan sekolah juga menjadi tempat pertunjukan drama kehidupan anak-anak remaja. Ada banyak “keajaiban” masa remaja yang bentangan kisahnya terjadi di seminari dan Loyola. Semua itu cara kami sebagai anak-anak remaja melewati masa-masa remaja yang sering disebut masa angin ribut, masa mencari identitas diri. Kami sering kali melakukan sesuatu yang berbeda, unik, menyenangkan bagi kami, yang mungkin mengganggu ketenangan pimpinan sekolah dan pembina asrama. Kami mungkin dianggap onar. Itu kami lakukan sebagai pribadi yang sedang berkembang, meski bentuknya ibarat pemberontakan kecil untuk mengekspresikan kebebasan.

Baca: Silvester Joni: Perempuan Juga Bisa (Kisah Perempuan Ketua OSIS di Loyola Tempo Doeloe)

Akan tetapi, apa pun kenyataannya, kami telah berhasil menjalankan sebagian tugas utama kami sebagai pelajar. Kami telah membawa terang yang menyinari almamater dan mendudukkan almamater pada salah satu posisi teratas dalam daftar sekolah-sekolah terbaik tingkat lokal dan mungkin nasional ketika itu. Juga mampu menyebarkan aroma almamater di seluruh dunia dengan cara masing-masing.

Kedua sekolah tersebut telah berhasil menginvestasikan misi pada pendidikan manusia. Lama memang, melebihi perhitungan untung dan rugi secara bisnis, di mana di dalam logika investasi pendidikan: “hasilnya tidak selalu kelihatan sekarang”. Mungkin 10 tahun lagi, 20 tahun, 50 tahun, dan seterusnya. Tapi pasti jadi.

Tulisan saudara Silvester Joni mendorong saya untuk membongkar kembali ingatan masa lalu kedua lembaga yang sangat dekat dan menyatu dan kerinduan untuk melihat realitas dunia saat ini dari perspektif masa lalu di kedua lembaga tersebut.


*Penulis adalah alumnus Loyola 1999 dan Seminari St. Yohanes Paulus II 2000.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Melampaui Kenangan (Tanggapan Atas Opini Silvester Joni)

Trending Now

Iklan