Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Sakramen Rindu (Puisi Fransiska Aurelia)

Sarfin Fidin
Friday, March 11, 2022 | 10:37 WIB Last Updated 2022-03-11T03:47:16Z
Sakramen Rindu (Puisi Fransiska Aurelia)
Sakramen Rindu (Puisi Fransiska Aurelia)


Puisi Sakramen Rindu merupakan dedikasi bagi perempuan-perempuan terkucil. Buah permenungannya sangat kontekstual, dan itu bisa membantu untuk pencerahan. Baca puisi ini hingga selesai agar kamu menemukan maknanya. 

Baca: Bupati Manokwari Selatan Butuh 150 Staf Guru dan 250 Tenaga kesehatan Asal Manggarai, Dijamin Lansung PNS

Oleh: Fransiska Aurelia Susana


Sakramen Rindu 


Kemarin , kita telanjang berselimut sepotong kafan

setelah engkau menjamah tubuhku erat 

Menahan perih sebak di rongga dada

Engkau nodai sakramen rinduku yang kukuh


Engkau sulam lemahku dengan pucuk-pucuk asmara

Sedang aku terbengkalai tanpa busana

Yang kau tatap penuh pesona

Kau tanggalkan tubuhku benar-benar kosong tanpa tertutup


Baca: Kultur Literasi dalam Terang Visi Politik Pemda Mabar


Inikah temu yang kita rindukan dahulu?

Menindih tubuh legit tergigit 

Masih menggeliat seperti cacing kepanasan

Menahan nafas tersengal penggal


Kelamin-kelamin kita berduka

Ampas-ampas rasa tidak mampu kita daur ulang seperti sampah!

Inikah hina yang seranjang semalam?

Engkau remas lemas payudaraku!

Engkau jamah bibir merah jambuku

Sampai puncak klimaks rindu kita menjadi tabu


Baca: Literasi dan Pariwisata (Catatan ‘Orasi Literasi’ dari Bunda Baca NTT)


Engkau memeluk tubuhku dengan aroma kamboja kuburan

Bahkan tak kau sadari perihku seperti lelehan lilin di atas batu nisan moyangku

lalu engkau beri tujuh kembang menutup busuk kita?!


Setelah kita pincang malam itu.

Kau masih menghujam kata cinta yang bahkan tak pantas engkau ucapkan lagi!

Setelah kita bersanding setubuh 

Erat tanpa lepas sebaju ikat!

Selepas halu engkau tinggalkan aku merana menghamili buah dari dosa kita bersama..


Adilkah itu?

Sementara tanah tempatku berpijak mengasingkan aku seorang diri

Tatapan sebelah mata mengecam aku tak pandai menjaga rohani


Bagaimana dengan engkau?

Yang santai mengisap sebatang rokok di tempat liarmu!

Aku tak cukup kuat!

Hidup dari setengah kematian memikul cinta dari birahi kita!


Sakramen rindu kita tidak lagi suci!

Seketika dunia menghujatku seorang diri dan sepihak dosa!

Tanpa peduli engkau adalah biang keladi dari titisan dosa kita!

Aku takut.

Aku gelisah.

Harus kuapakan tubuh nanah ini

Setelah engkau renggut di nestapa ranjang kotormu..


Suaraku tak lantang

Namun aku perempuan

Mulutku bisa menjadi api

Tanganku bisa menjadi baja

Jangan menghina insan diriku

Sebab engkau tak pernah benar-benar paham dukaku!


Manggarai, 10 Maret 2022

Penulis telah menerbitkan dua buah buku kumpulan puisi.


Mau Muat tulisan di BernasINDO.id?

Silahkan kirim ke redaksibernasindo.id@gmail.com

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Sakramen Rindu (Puisi Fransiska Aurelia)

Trending Now

Iklan