Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

DIAN' Itu Masih Bernyala Di Tengah Padang (Tentang SMPK Dian Padang Lando)

Friday, April 8, 2022 | 10:39 WIB Last Updated 2022-04-08T05:42:13Z

 



Oleh: Sil Joni*


Lembaga "Dian Padang" dipandang sebagai 'dian, obor lilin' yang menerangi padang yang masih tersandera oleh gulita kemiskinan dan keterbelakangan.

"Dian Padang". Entah bagaimana kisahnya sehingga frase indah ini dijadikan nama sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) di dataran Terang. Tentu, riwayat pemilihan nama untuk lembaga itu, menarik untuk dikaji dan dikisahkan kembali untuk generasi saat ini dan yang akan datang.

Tulisan ini, tidak berpretensi untuk menggali lebih jauh perihal fragmen historis pendirian dan pemberian nama sekolah itu. Penafsiran sekenanya terhadap nama itu yang disandingkan dengan konteks geografis dan demografis tempat di mana sekolah itu tetap eksis, menjadi fokus perenungan mini ini.

Dalam dan melalui goresan kecil ini, saya ingin mengekspresikan secara elegan rasa bangga dan apresiasi terhadap sang eks ibu asuh (almamater) yang telah berjasa 'memformat' kepribadian saya sehingga bisa tampil dalam ranah publik seperti sekarang ini. Tentu, refleksi sederhana semacam ini, tidak bermaksud merepresentasikan secara paripurna terkait dengan fakta besarnya kontribusi lembaga untuk para alumni seperti saya.

Baca: Mencintai Almamaterku: SMPK Rosamistika Waerana 

Bagi masyarakat yang ada di hamente (sekarang Kecamatan) Boleng, khususnya yang berada di padang Terang, SMPK Dian Padang Lando bukan sebuah nama lembaga pendidikan yang asing. Mengurai sejarah perkembangan pendidikan di padang ini, tanpa menyebut lembaga ini, rasanya sebuah kebohongan yang brutal. Lembaga ini, sejak tahun 1980-an sampai periode awal 2000-an, tampil sebagai 'single fighter' dalam mencerdaskan genrasi  Boleng umumnya dan dataran Terang khususnya.

Sekolah milik 'Gereja Katolik" ini didirikan pada tahun 1986. Perkembangan jumlah penduduk yang signifikan di dataran Terang dan 'akses pendidikan tingkat lanjutan' yang masih terbatas, mendorong para tokoh adat dan agama mengambil sebuah keputusan berani. Di tengah keterbatasan dan kesederhanaan, mereka memutuskan untuk mendirikan sebuah Sekolah Menengah Pertama' di tengah padang Terang itu.

Gairah anak-anak Terang untuk 'mengais ilmu' ke tingkat yang lebih tinggi, sebetulnya sangat tinggi sebelum lembaga itu berdiri. Tetapi, selain terbentur pada soal ekonomi orang tua, juga yang paling menentukan adalah masalah jarak lokasi sekolah yang relatif sulit dijangkau kala itu. Bayangkan, demi meraih cita-cita, anak-anak padang harus rela 'jalan kaki' sambil pikul beras menuju Labuan Bajo atau Rekas. Jalur dan akses transportasi belum ada dan lancar seperti sekarang.

Sudah sepatutnya publik Padang Terang memberikan apresiasi dan penghormatan kepada para inisiator (perintis) yang dengan kreatif dan genius merespons 'gerak zaman' saat itu. Bagi saya, kehadiran SMPK Dian Padang pada tahun 1986 itu bisa dibaca sebagai 'tonggak' kebangkitan dunia pendidikan di Boleng sekaligus momentum 'pengusiran realitas kegelapan' dalam cara berpikir.

Baca: Permenungan Silvester Joni Soal "Mencetak Insan Berkompeten", Apa Maknanya, Simak Ulasannya

Lahirnya era penerangan budi (pencerahan) di Terang terkristal dengan sangat indah dalam 'nama' yang diberikan oleh para pendiri untuk lembaga itu. Saya kira, nama Dian Padang itu lahir dari sebuah permenungan yang dalam dan intensif tentang situasi Padang saat itu. Lembaga itu dipandang sebagai 'dian, obor lilin' yang menerangi padang yang masih tersandera oleh gulita kemiskinan dan keterbelakangan.

Pertanyaan reflektifnya adalah masihkah 'dian ilmu pengetahuan' itu menyala dan menerangi semua makluk di kawasan ini? Saya belum mendapat data resmi dan valid soal kesuksesan para alumni lembaga ini baik yang berkarya di Boleng maupun yang tersebar di seluruh penjuru Mabar ini. Namun, saya bisa pastikan bahwa sebagian besar 'sarjana' yang berasal dari dataran Terang merupakan 'out-put' SMP ini.

Sampai saat ini, sudah ada 7 SMP/MTS di Kecamatan Boleng. Selain SMPK-Dian Padang, memasuki milenium baru, muncul beberapa sekolah seperti MTS Terang, SMPN 1, SMPN 2, SMPN 3, SMPN 4 dan SMP Seatap di Kokor. Keberadaan sekolah-sekolah baru itu tidak membuat eksistensi Dian Padang goyah  dan redup. Dian Padang, sejauh ini, belum mengalami 'krisis siswa'. Animo dan antusiasme masyarakat dataran untuk melanjutkan pendidikan putra-putri mereka di lembaga ini, relatif stabil.

Sebagai alumni, tentu saya merasa bangga dengan pencapaian yang ditorehkan oleh lembaga ini dalam 'mencerdaskan' generasi Terang. Saya tamat dari SMPK Dian Padang tahun 1996. Terus terang, terlalu jauh perbedaan kondisi almamater antara tempo doeloe dengan fakta saat ini. SMPK Dian Padang mengalami kemajuan yang signifikan tidak hanya berkaitan dengan 'tempat dan model bangunan', tetapi juga aspek manajemen dan proses pembelajaran.

Baca: Reuni SMPK Rosa Mistika Waerana Tahun 2022 

Lokasi/tempat SMP ini pada zaman kami, agak jauh dari keramaian. Dia berdiri kokoh di pinggiran hutan, di belakang Gereja Paroki Lando atau di bagian ujung Kampung Rakot saat ini. Kami menimba ilmu di tempat yang 'sepi' bahkan begitu terisolasi saat itu. Sisa-sisa bangunan 'di tampat lama itu, saya kira masih ada hingga saat ini.

Latar tempat yang begitu sederhana itu tentu sangat kontras dengan situasi saat ini. Lokasi SMP itu sudah dipindahkan ke halaman utama Gereja Paroki. Letaknya cukup sentral dan strategis. Tampilan sekolah ini semakin lengkap karena ditunjang dengan keberadaan ásrama pastoran baik putra maupun putri yang didukung dengan fasilitas yang memadai.

Saya kira, keberadaan 'asrama' yang memungkinkan kedisiplinan bisa diterapkan secara optimal, menjadi salah satu 'nilai plus' dari lembaga ini. Tidak heran, meski jumlah SMP terus bertambah di Boleng, SMPK Dian Padang tetap menjadi salah satu sekolah pilihan. Kepercayaan publik terhadap sekolah ini, tidak pernah luntur.

Kita berharap pelbagai keunggulan dan tradisi positif yang menjadi 'kekhasan' lembaga ini, terus dipupuk. Dengan itu, sekolah ini tetap menjadi 'dian ilmu' yang setia menerangi padang kemanusiaan di Terang.

 

*Penulis adalah alumnus SMPK Dian Padang Lando tahun 1996.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • DIAN' Itu Masih Bernyala Di Tengah Padang (Tentang SMPK Dian Padang Lando)

Trending Now

Iklan