Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Kisah Kasih di Masa Sekolah

Sarfin Fidin
Friday, April 8, 2022 | 13:14 WIB Last Updated 2022-04-08T06:43:23Z

 

Kisah Kasih di Masa Sekolah
Kisah Kasih di Masa Sekolah (Foto ist.)


Kisah Kasih di Masa Sekolah - Era dan masa sekolah menengah, SMP dan SMA kala itu, sekitar tahun 1970an sampai tahun 1980an, para remaja pelajar, rata-rata, memiliki masa keemasan yang tiada duanya. Suatu masa tak mungkin bisa berulang kelas seperti yang dulu lagi. Rata-rata para siswa ketika itu memakai pakaian seragam khas sekolah masing-masing. Kalau sekolah yayasan Katolik, berkhas pakaian seragam putih kuning. Ini untuk era siswa 1970an. Dan, era siswa tahun 1980an sampai sekarang, para siswa memakai khas nasional, putih biru untuk SMP dan sederajat, dan putih abu untuk setingkat siswa SMA atau sederajat. 

Baca: Pena Malam Terakhir (Cerpen Afri Ampur)

Masa-masa itu, sungguh-sungguh indah buat anak sekolah. Saya teringat pada masa kelas 8 SMP kala itu, sebut saja SMPK Romis Waerana,  seorang teman putri ketika itu, merayakan ultah ke 17 tahun itu, teman-teman sekelas menyanyikan sebuah lagu selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, dan seterusnya! Begitu bahagianya! Teman-teman kelas ikut nimbrung berbahagia juga. 

Ada celetupan sebuah nasihat dari ibu guru muda, cantik, menawan hati, mengajar mata pejajaran IPS, seorang wali kelas yang berwibawa; menyampaikan nasihat moral, untuk teman itu, “ Anda sekarang berumur tujuh belas tahun”, disebut dengan istilah keren adalah “gadis manis 17 tahun”. Masa keemasan itu tak mungkin terulang untuk masa emas yang kedua kalinya. Demikian seterusnya, bagi teman sekelas menuliskan daftar nama teman yang berulangtahun sepanjang tahun dalam sebuah buku harian kelas , semacam buku dairy ( buku harian) disimpan konsep Ketua Kelas. Kesannya betapa indah dan bahagianya masa sekolah kala itu. 

Kesan-kesan indah masa sekolah itu amat tersimpan rapih dalam memoriku ini! Suatu bentuk catatan indah penuh kenangan yang mungkin diulang kembali. Catatan demi catatan seolah-seolah tersusun rapih dalam batok kepalaku, direfleksikan dan diungkapkan kembali dalam sebuah coretan tulisanku ini. Tulisan-tulisanku ini sekadar merevieu kisah kisah sekolah masa lalu. Mengecash kembali bateri memori yang sempat teringat dalam benakku ini.

Baca: Kisah Cinta di Ujung Savana

Membuat hati berbunga-bunga untukmu  mengenang kembali  masa laluku yang penuh cerita indah, canda tawa diantara teman sekelas atau pun teman seangkatan. Mengenang masa mudaku yang indah tiada taranya! Baik di asrama Vila Adam maupun teman di asrama putri Arnolda, yang terletak di kompleks bagian barat gedung sekolah Romis itu. 

Kisah kasih di masa sekolah bagi sebagian seniman, bisa ditulis dalam bentuk  puisi, cerpen, film, atau pun dalam media sastra lainnya. Ditulis dan dibukukan! Untuk dijadikan sebagai refleksi dan referensi serta dijadikan revieu untuk melihat kembali masa mudah dan masa sekolah yang penuh kisah kasih, ada rentetan peristiwa, kesan dan pesan moral serta spritual yang barang kali ada nilai-nilai pesan bagi para pembaca nan Budiman. Ada kesan tersendiri, bahwa masa muda dan masa sekolah berjalan berbarengan dan beriringan satu sama lainnya, dengan waktu. Tak bisa ditarik kembali sejalan dengan umur kita yang kian bertambah. 

Ada sebuah lagu di masa sekolah, yaitu” Injit-injit semut”! Lagu ini terkenal di era masa sekolah setingkat SMP tahun 1970an dan era tahun 1989an. Kisah kasih di masa sekolah. Dua insan remaja putri yang masih imut-imut, sedang bercanda ria di sudut sudut sekolah, disaksikan oleh Semut dan dan cecak di dinding tembok sekolah. Kelihatannya, mereka berdua sedang jatuh cinta lupah mendengar lonceng tanda ganti jam pelajaran sudah lewat. Mereka berdua sedang asik-asiknya menikmati suasana indahnya masa sekolah untuk mereka berdua.

Lagu Injit-injit Semut adalah sebuah lagu daerah dari sumatera Timur, tepatnya, dari daerah Jambi, yang sering dinyanyikan oleh anak-anak untuk mengiringi permainan tradisional. (Wikipedia, 2021). Permainan cubit-cubitan punggung dengan tangan lawan ini, terasa sakit, sehingga lawan membalas cubitan tersebut;  diadopsi oleh remaja pelajar yang sedang jatuh cinta di sudut sekolah. 

Kisah ini amat digandrung oleh para remaja pelajar masa itu! Diadopsi sesuai pengalaman  dan perasaan bagaimana para remaja itu saling memandang wajah yang agak malu-malu, imut-imut, bermain kucing-kucingan  di sudut sekolah, sambil cubit-cubitan. Bak cinta moyet yang tersipu malu. Malu terhadap teman yang sedang menyaksikan, apalagi disaksikan oleh Semut Merah di sudut tembok sekolah dan bunyi cecak di dinding sekolah. Seolah-olah tidak ada orang di sudut sekolah yang menyaksikan kisah kasih dua remaja sedang gandrung jatuh cinta. 

Baca: Dia milik-Mu, Bukan Aku (Puisi Vivinsia Daro)

Di  Zaman itu hubungan remaja pelajar terasa sedang diawasi oleh guru dan orang tua. Pimpinan asrama. Bahkan ada orang-orang yang lewat di jalanan nan sepih  sedang memperhatikan dalam hening. Sebab, eranya, masih kuat dengan budaya Manggarai yang kental dengan aturan rumah dan aturan orangtua bagi anak remaja putri. 

Jika dibandingkan dengan situasi dan seluk beluk remaja pelajar zaman ini, tentu, berbeda jauh dari sikon (situasi kondisi) zaman dulu (jadul). Zaman dulu menyampaikan pesan cinta hanya lewat media surat menyurat, yang lazim disebut korespondensi. Kalau jatuh cinta zaman ini, biasa disampaikan secara langsung lewat pendekatan dengan gaya sungguh sungguh milenial. Bisa lewat bahasa media tweter, istagram, Facebook, dan atau cara lainnya.  

Cerpen ini ditulis oleh seorang penulis alumni SMP Katolik Romis tahun pelajaran 1979/1980. Mengingat dan mengenang masa sekolah yang indah memesona jiwa untuk sekadar pengingat,  bahwa suatu perjuangan selalu ada bumbu – bumbu sedap bak sedang menikmati lezatnya santapan surga dunia tiada taranya. 

Bahwa siklus kehidupan seorang anak manusia, senantiasa bermetamorfosis, bagai seekor kupu-kupu indah, dari telur, kepompong, ulat, kupu-kupu muda dan kupu-kupu dewasa. Hidup seorang anak manusia secara alamiah, dimulai dan dialami, sejak lahir, Anak, remaja dan dewasa.  Biar begitu besar kerinduan untuk kembali menjadi seorang remaja pelajar yang geng, ganteng, tampan, cantik, menggelora jiwa; itu tak mungkin. Suatu fase dan masa yang terus berjalan sampai tua, dan akhirnya kembali sang perabu. 

Ada pesan moral dan spritual dari sang penulis cerpenin ini adalah, untuk para remaja pelajar! Antara lain; barangkali, masa muda dan masa sekolah digunakan sesungguhnya, karena waktu tak mungkin kembali. Sekali lewat sang waktu terus lewat tak mungkin kembali. Bak jarum jam yang berputar ke angka 12-kembali ke angka 12, namun, lintasan peristiwa tak mungkin berulang kembali. Oleh karena itu, direkomindasikan untuk para remaja sekolah, gunakan waktu yang tersisah untuk mengisi hidup secara positip. Kalau pun mengalami terantuk sekali, janganlah minta untuk terantuk kedua kakinya. Kalau pun Anda mengalami jatuh sekali, ataupun jatuh kedua kalinya, janganlah Anda meminta jatuh ketuga kalinya! 

Pengalaman peristiwa jatuh memang tak enak ! Yesus sendiri sebagai seorang juru selamat dunia, jatuh sampai ketiga kali memikul salib dosa, pada perhentian Stasi ke tiga, Stasi  Keenam dan Stasi ke sembilan. Namun, setiap jatuh itu ada peristiwa yang sedih dan sambil berefleksi untuk menatap masa depan. Yesus memikul salib, jatuh, mati dan bangkit jaya Alleluya. Remaja jatuh gimana? Mohon direnungkan, apakah kita tidak pernah jatuh ! Jatuh yang paling enak adalah jatuh cinta, dari mata turun ke hati. Yesus jatuh cinta pada manusia yang berdosa. Silahkan merenung tentang kehidupan masa indah waktu remaja pelajar itu? Semoga!


Oleh: Fransiskus Ndejeng

Penulis adalah salah seorang alumnus SMP Katolik Romis tahun 1979/1980. Tinggal di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Labuan Bajo, 08 April 2022. 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kisah Kasih di Masa Sekolah

Trending Now

Iklan