Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Kumpulan Puisi Fransiskus Ndejang: Aku, Bernostalgia, Umur, Kartini Pejuang Masa Depan

Sarfin Fidin
Saturday, April 30, 2022 | 11:06 WIB Last Updated 2022-04-30T07:36:00Z

 

Kumpulan Puisi Fransiskus Ndejang: Aku, Bernostalgia, Umur, Kartini Pejuang Masa Depan
Kumpulan Puisi Fransiskus Ndejang: Aku, Bernostalgia, Umur, Kartini Pejuang Masa Depan

Kumpulan Puisi Fransiskus Ndejang seperti Aku, Bernostalgia, Umur, Kartini Pejuang Masa Depan sangat bagus untuk dibaca, direnungkan dan diaplikasikan dalam setiap pengalaman hidup. Puisi-puisinya memantik semangat kita untuk melihat dunia dengan kacamata reflektif. Simak puisi-puisi berikut ini.

Baca: Semudah Itu, Suatu Malam di Kota Reinha, Kamboja, Perayaan Luka (Puisi-puisi Ano Rebon)

Bernostalgia

Aku rindu untuk bertemu di momen indah, reuni sekolah 

Kawan semua...jangan lupah ajak teman seangkatan Romis bertemu,

bawa anak isteri....

Kita bernostagia bersama dengan hati penuh sukacita

Mari kita berbagi cerita indah masa lalu untuk direnungkan, pun

dikenang tentang indahnya masa emas kita dahulu...

ada lika liku, suka duka dan canda tawa yang pasti menyenangkan 

karena masa muda hanya sekali, dan tak terulang kembali...

mari kita bersukacita dalam kasihNya

Memang hati ingin kembali  ke masa itu, namun terlanjur usia tak bisa berbicara jujur....

Bernostalgia...! Membuatku merindu selalu untuk dikenang dalam sisah hidupku

di alam fana ini yang bermakna bagi generasiku masa depan di Romis Waerana tercinta ...! 

Puisi ini disusun dari hasil percakapan yang kontekstual di grup Romis selama ini, “ Bernostalgia” untuk kisah kasih masa sekolah yang tak mungkin mudah terlupahkan. Labuan Bajo, 30 April 2022.

Aku

Aku disini untukmu  sahabatku yang baik hati 

Menerawang angkasa nun jauh di sana

Memulas rasa dan menenang  pikiran untukmu di singgasana dambaanku

Meretas duka melepas rindu bersua muka di ujung horisan langit tak bertepi 

Menunai tugas selepas cinta pengabdianku  di ujung buana Purna baktiku

Aku, sampai dititik ini kucoba semuanya kutatap masa depan yang ceria bersama Tuhanku, Allahku 

Yang tak berhingga di ujung dunia  semesta alam tiada bertepi meraih mimpi indah 

Kurindu akan keagungan sang ilahi penawar rasa damai sukacitaku penuh cinta

Aku tak lupa ucapkan terima kasih untuk ayahbunda yang melahirkanku 

pun teruntuk para penjasah yang membuat sampai disini dititik ini... 

Rasa hormatku untukmu ibu Pertiwi sampai aku menuju akhir hayatku nanti 

Tiada tara engkau titipkan aku untuk mengabdi negeri sampai tuntas tugasku

Oh Tuhanku,  oh ibu Pertiwi tercinta, kuucapkan terima kasihku untukmu yang berlimpa...

Penulis  puisi ini, merasa bertanggungjawab atas kepenuhan hidup selama ini. Lahir dan batin, kesuksesan dan kegagalan merupakan dua sisi refleksi dalam hidup ini, terungkap dalam sebuah puisi “Aku”. Aku jadi seperti bukan karena siapa-siapa! Tetapi atas usaha keras, jasa orangtua, pendudik, dan tidak lupa adalah keagungan Tuhan sendiri. Labuan Bajo, 30 April 2022.

Baca: Sekumpulan Puisi Karya Maria Goreti Ganul

Umur

Umurku, tak terbilang tua seperti ini...! Aku tahu umurku kian bertambah, semangatku pun menjulang tinggi...

Di tengah usia makin menua daya pikirku kiah terasah, bijak, semakin positif untukku dan untukmu...

Aku tak surut bersyukur bersujud sembah kepada sang ilahi... 

Oh...Tuhan bimbinglah aku untuk menikmati sisah hidupku untuk keluarga, sesama sahabat...

Puisi ini disusun dari hasil refleksi teman sejati dalam grup Romis di bulan terakhir ini, mengingatkan saya dan Anda semua, bahwa dan umur di tangan Tuhan yang menentukan. Namun, kita tak pernah putus tantangan hidup ini dalam berkarya. Labuan Bajo, 28 April 2022.

Kartini Pejuang Masa depan 

Kartini masa lalu mengusir penjajahan  mental yang terusik ...

Terusik oleh adat budaya paternalistik kaum perempuan yang dianggap rendah...

Dianggap rendah karena menomor duakan kaum perempuan, Kartini...pejuang sejati...

Kartini pejuang kaum perempuan masa lalu, masa kini, dan masa depan yang kokoh berdiri bermartabat untuk bangsa ...

Berdiri Sama tinggi dan duduk sama rendah demi kaum yang tertindas oleh budaya paternalistik kaum lelaki jehanam...

Kartini masa lalu, masa kini, dan masa depan tak ketinggalan kereta untuk berjuang meraih prestasi bangsa...

Prestasi untuk memberantas kebodohan dan buta aksara demi bangsa bermartabat....

Kaum Kartini masa lalu mengentaskan kemiskinan budaya bangsa yang meremeh remeh kaum perempuan...

Kini, kartini- Kartini bangsa duduk sejajar dengan kaum lelaki yang seimbang dan semartabat yang sama untuk bangsa ...

Untuk maju bersama menuju gerbang kemerdekaan bangsa yang adil dan beradab, damai dan  sejahtera... 

Untuk Indonesia maju sejajar bangsa bangsa bermartabat di dunia, merdeka dan berdaulat untukmu Kartini pejuang bangsa  Indonesia...

Puisi ini disusun oleh Fransiskus Ndejeng, Kamis, 28 April 2022, atas refleksi yang cukup mendalam atas cikal bakal perjuangan R A. Kartini masa lalu untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi yang sejajar dengan lelaki. 

Baca: Antologi Puisi Fransiskus Ndejang, Salah Satunya: Indahnya Hidup Toleransi

Asrama Vila Adam 

Asrama Vila Adam membekas di dadaku sepanjang hayat

Masa sekolah era tahun 1970an hingga 1980an itu...

Asrama Vila Adam kukenang selalu  seumur hidupku

Terletak di samping menuju jembatan menuju  Rendok Waerana 

Di bawah rimbunan pohon bambu yang sejuk  nan indah permai 

Ada canda, ada tawa, gembira, hening dan menakjubkan hati 

Para penghuni panti asrama Vila Adam  setiap saat waktu itu

Setiap pagi pembina membangunkan  para penghuni bergegas menjemput fajar 

Menyingsing dengan tanda bel lonceng berdentang bergegas menuju gereja Waerana untuk sujud syukur sang ilahi 

Menerima hikmah pagi dan  menjemput hari hariku  dalam tugas harian rutin 

Untuk menyongsong masa depan dengan cita cita mulia sesuai talenta dalam cinta 

Talenta kita berbeda, pilihan hidup kita  juga berbeda untuk mengabdi Masa depan 

Masa depan kita ada ditangan Sang Khalik pemilik kehidupan ini 

Dibawah kolong langit ini tidak ada yang kebetulan...

Semuanya berjuang dan bernostagia, merindu untuk bertemu di ajang reuni Romis Waerana tercinta...

Puisi ini disusun atas refleksi menjelang reuni Akbar SMP Katolik Rosa Mistika Waerana awal bulan Juli 2022. Mengenang kembali betapa indah hidup bersama dan bergotong royong ketika Masa sekolah dan hidup bersama di Asrama Vila Adam.  Suka duka dan nostalgia bercampur aduk jadi satu disebut kenangan. Labuan Bajo, 30 April 2022.

( Fransiskus Ndejang)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kumpulan Puisi Fransiskus Ndejang: Aku, Bernostalgia, Umur, Kartini Pejuang Masa Depan

Trending Now

Iklan