Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Tata Ulang Sistem Pemanduan di Cunca Wulang (Catatan Kritis Pasca Kejadian Tenggelamnya Seorang Wisatawan)

Sarfin Fidin
Friday, April 22, 2022 | 14:53 WIB Last Updated 2022-04-22T08:08:34Z
Tata Ulang Sistem Pemanduan di Cunca Wulang  (Catatan Kritis Pasca Kejadian Tenggelamnya Seorang Wisatawan)
Tata Ulang Sistem Pemanduan di Cunca Wulang  (Catatan Kritis Pasca Kejadian Tenggelamnya Seorang Wisatawan)


Obyek wisata air terjun Cunca Wulang ‘makan korban lagi’. Seperti yang dilansir media Pos Kupang.Com, Kamis (14/4/2022), seorang wisatawan asal Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), terbawa arus dan hilang di lokasi wisata itu. Setelah diselidiki, korban yang tenggelam itu bernama Yoseph Febio Makasau (29).

Menanggapi kejadian tersebut, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Mabar, Pius Baut  menjelaskan bahwa korban dan kawannya tidak melaporkan kunjungan mereka ke pos jaga sehingga tidak didampingi oleh para pemandu lokal (local guide). Pak Pius sangat berharap agar setiap wisatawan yang datang ke Cunca Wulang harus dipandu oleh pramuwisata lokal. 

Baca: Soal MPP yang Dipimpin Wapres RI, Ma’ruf Amin di Labuan Bajo, Begini Kata Bupati Hery Nabit

Seingat saya, kasus hilang dan tenggelamnya wisatawan di Cunca Wulang bukan baru terjadi kali ini. Musibah yang menimpa para tamu di spot wisata alam ini, sudah beberapa kali terjadi. Tetapi, rupanya pemerintah melalui Dinas Parekraf belum membuat analisis dan evaluasi komprehensif terkait sistem pemanduan dan penentuan titik-titik rawan yang mesti diperhatikan secara serius oleh para turis. 

Hemat saya, seringnya kecelakaan  yang  memakan korban  jiwa di obyek wisata air terjun Cunca Wulang, selain disebabkan  oleh faktor  ignorance  (tindakan masa bodoh) dari wisatawan ,  tetapi lebih dari itu adalah  lemahnya sistem yang diterapkan oleh pemerintah di obyek itu. Yang saya mau soroti di sini adalah kebijakan  menggunakan pemandu orang-orang  lokal yang ada di pos masuk saja. 

Saya tidak sepenuhnya mendukung ide dari Kadis Parekraf yang meminta wisatawan didampingi oleh pemandu lokal. Masalahnya adalah  para pemandu  lokal itu tidak dilengkapi dengan skill atau kompetensi yang memadai. Kebijakan menggunakan orang lokal saja, tanpa ditunjang dengan peningkatan kapasitas, tidak bisa menjawab permasalahan yang terjadi di lapangan. Penentuan semacam itu tidak  menjamin safety dan security dari wisatawan. Karena yang  perlu didalami dalah seberapa siap para pemandu  lokal di sana dari sisi kualitas. 

Baca: Literasi dan Pariwisata (Catatan ‘Orasi Literasi’ dari Bunda Baca NTT)

Saya berpikir, mesti ada perlakuan khusus untuk obyek wisata air terjun di mana kemungkinan aktivitas yang dilakukan wisatawan adalah  berenang , panjat tebing, melompat, dll. Kondisi seperti itu,  sudah  masuk dalam kategori minat khusus. Pertanyaannya adalah  apakah  pemandu lokal yang disiapkan pemerintah sudah memenuhi kualifikasi standar safety dan secure? Apakah  mereka mempupunyai semacam  skill  "self -rescue" (kemampuan  penyelamatan diri ) sebelum mereka bisa menjadi  tim rescue untuk wisatawan?

Kecakapan dan kapasitas pemandu lokal yang masih di bawah standar ini, belum menjadi perhatian serius pemerintah selama ini. Bukan soal orang lokal, tetapi mereka yang mempunyai skil yang mumpuni dalam memandu dan mengarahkan wisatawan di lokasi air terjun itu. 

Jadi, menurut saya, soal banyaknya kejadian  kecelakaan di Cunca Wulang  tidak ada hubungan kausalitas dengan orang beli tiket dan menggunakan  pemandu  lokal atau tidak. Itu hanya urusan administrasi belaka. Berbicara soal secure dan safety bagi wisatawan di Cunca Wulang adalah bicara fasilitas dan  pelayanan yang memenuhi standar safety. Teristimewah bagi para pemandu lokal yang  incharge. Pertanyaan kuncinya adalah  apakah mereka sudah punya skill rescue? 

Pola briefing untuk wisata air terjun bukan mengedepankan penjelasan tentang alam, tetapi lebih kepda briefing  safety  procedure.  Jadi, siapa melakukan apa, apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, termasuk memberlakukan akses terpusat untuk masuk.  Tidak boleh ada akses lain selain lewat pos jaga di mana di sana para pemandu sudah siap melayani . Saya berharap pemerintah harus berpikir lebih dan ektra tentang kebijakan pelayanan wisatawan  untuk air terjun, panjat tebing dan yang sejenis lainnya. Harga tiket masuk tidak peduli dicharge mahal.  Yang terpenting pelayanan harus memenuhi standard safety bagi wisatawan.

Baca: Mengapa Konflik Pembangunan di Taman Nasional Komodo (𝐓𝐍𝐊) Terus Saja Terjadi?

Untuk itu, usulan saya adalah  pemandu di Cunca Wulang harus orang-orang yang basic skillnya adalah diver (penyelam  bersertifikat) minimal dia rescue diver. Jadi, pemerintah harus mefasilitasi pelatihan khusus untuk para pemandu di sana  karena wisata air terjun aktifitasnya tidak lari jauh dari panjat, lompat dari tebing, dan berenang.

Tegasnya, pemerintah mesti ‘tata ulang’ soal pelayanan khususnya kecakapan teknis dari para pemandu lokal di lokasi itu. Selain itu, ketersediaan fasilitas yang bisa mengurangi risiko bencana saat beraktivitas di air terjun Cunca Wulang, sangat urgen untuk diperhatikan oleh pemerintah.

Akhirnya, saya mengucapkan turut berduka cita kepada keluarga korban, Yoseph Fabio Makasau. Semoga arwahnya mendapat tempat yang layak di Surga. Kita berharap kejadian yang menimpa Yoseph ini tidak terulang lagi di masa yang akan datang. Jika kejadian tragis semacam itu masih terjadi, tentu sangat memengaruhi citra destinasi wisata kita. Sudah saatnya kita berbenah diri agar image pariwisata Mabar tetap positif. 


Oleh: Stanislaus Stan*

*Penulis adalah Ketua DPD Perindo Mabar.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tata Ulang Sistem Pemanduan di Cunca Wulang (Catatan Kritis Pasca Kejadian Tenggelamnya Seorang Wisatawan)

Trending Now

Iklan