Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Pilkades sebagaiI Momen Festival Gagasan

Thursday, July 28, 2022 | 22:18 WIB Last Updated 2022-07-28T15:29:59Z

 

Pilkades sebagaiI Momen Festival Gagasan
Pilkades sebagaiI Momen Festival Gagasan

Oleh: Sil Joni*


Dalam sebuah kesempatan, seorang pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN), Matias Din, di hadapan salah seorang calon Kepala Desa (Cakades) Desa Nggorang, Boni Mansur dan para simpatisannya, tanpa Tedeng aling-aling menyampaikan pernyataan provokatif. "Beri ruang kepada Cakades untuk berbicara di depan publik. Kita mau tahu soal 'isi kepalanya'. Dari situ, kita bisa menilai apakah dia mampu atau tidak", tegas Mantan Kepala PAM Manggarai Barat (Mabar) itu.

Baca: "Bincang-bincang Politik" Jelang Senja

Permintaan sang mantan birokrat, dalam level tertentu, bisa mewakili harapan dari kebanyakan publik konstituen. Saya berpikir, pendapat itu sangat tepat jika dikonfrontasikan dengan hakikat Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) sebagai ajang kontes ide-ide bernas dalam menyulap wajah Desa kita.

Cakades Boni Mansur, pernah mengutarakan soal signifikansi dan urgensi penerapan politik konsep, ide, atau gagasan ketimbang uang dan pengumbaran isu primordial dalam pesta demokrasi di tingkat Desa ini. Bagi Boni, mutu demokrasi akan mengalami dekadensi dan kerdil, ketika para aktor menjadikan uang sebagai 'senjata' dalam merebut simpati publik. Boni lebih tertarik 'memamerkan' politik konsep, gagasan, ide brilian dalam menata Desa Nggorang ketimbang mendemonstrasikan 'harta dan uang' kepada konstituen.

Kontestasi Pilkades, idealnya menjadi momen 'tarung ide'. Setiap kontestan (kandidat Kades) mesti berkompetisi mendiseminasikan gagasan bermutu perihal desain skema dan implementasi pembangunan yang bersifat solutif di sebuah Desa.

Baca: Jangan 'Terpukau' dengan Dana Desa

Dalam musim kontestasi semacam ini, publik seharusnya 'menyaksikan' semacam festival gagasan yang dikreasi dan dipasarkan oleh para aktor itu. Dengan demikian, publik mempunyai 'alasan yang rasional' mengapa harus mendukung calon A dan menyingkirkan figur lainnya. 

Preferensi publik didasari oleh pertimbangan 'isi kepala' dari para kandidat. Pertanyaan kunci dalam membuat deliberasi politik adalah apakah 'isi kepala' dari para calon itu punya nutrisi, dalam arti 'sangat relevan, kontekstual, dan realistis' dengan permasalahan konkret di desa tersebut?

Karena itu, saya berpikir, para calon Kades mesti secara aktif dan kreatif menggunakan pelbagai medium dalam 'mensosialisasikan' produk politik kepada publik konstituen. Pastikan bahwa mereka tampil ke pentas Pilkades dengan 'membawa' ide cerdas dalam meminimalisasi dan mengantisipasi problem politik konkret yang mendera warga Desa selama ini.

Baca: Pilkades (Nggorang) dan Politik Uang

Dengan ini, para kandidat itu telah memberikan semacam 'edukasi politik' bahwa memilih seorang figur itu tidak berdasarkan pertimbangan primordial seperti suku, agama, kampung, dan kedekatan emosional; tetapi semata-mata dilatari oleh dimensi kecakapan (sosial, intelektual dan teknis) dari sang jagoan. Memilih karena unsur primordial, tentu saja sangat tidak menolong 'sang Kades' untuk tampil optimal dan tentu saja hanya mendatangkan 'bencana baru' bagi Desa itu.

Alih-alih tampil sebagai sosok yang menghadirkan solusi (part of solution), sang Kades terpilih, oleh karena kurangnya kompetensi dan kapabilitas, justru menjadi biang kerok persoalan (korupsi misalnya), part of problem. Tentu, kita tidak ingin sosok yang tidak berkompeten dan miskin imajinasi politik, mendapat legitimasi untuk menjadi pemimpin di Desa.


*Penulis adalah warga Desa  Nggorang.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pilkades sebagaiI Momen Festival Gagasan

Trending Now

Iklan