Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Guru Sebagai Panggilan Hidup

Thursday, July 28, 2022 | 17:12 WIB Last Updated 2022-07-28T10:46:21Z
Guru Sebagai Panggilan Hidup
Guru Sebagai Panggilan Hidup (foto ist.)



Pernahkah seorang guru merefleksikan secara serius soal hakikat panggilannya sebagai guru? Apakah ada semacam 'nilai plus' ketika seorang guru merespons secara aktif 'suara yang memanggilnya' untuk menjadi guru?

Baca: Ahli IT Jepang Jadi Narasumber MPLS SMK Informatika St. Petrus Ruteng

Saya beranggapan bahwa ketika seorang guru selalu berpaling pada sang suara itu, maka tendensi untuk merendahkan atau mengaburkan profesionalisme dalam praksis pedagogis di sekolah, bisa diminimalisasi. Bahkan, menurut saya, kestiaan dan kesadaran dalam menjawab iya atas panggilan itu, justru menyuntikkan energi profesional berlipat bagi guru dalam menjalankan tugas profesionalnya.

Menjadi guru itu, sebetulnya lebih dari sekadar pekerjaan. Tidak semua orang bisa mengemban tugas sebagai guru. Hanya pribadi yang dilengkapi dengan keahlian, kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan berjiwa dedikatif yang merasa betah dan bangga menjadi guru.

Itulah sebabnya, guru menjadi salah satu profesi luhur di negara ini. Respek dan apresiasi terhadap eksistensi guru, semata-mata ditakar dari kadar profesionalisme yang dimilikinya. Semakin bagus derajat keahlian, kompetensi, keterampilan, dan integritasnya, maka guru pantas mendapat penghargaan dari negara.

Baca: Mahasiswa UNIKA Santu Paulus Ruteng Gelar Sosialisasi Program Kerja (Proker) KKN di Desa Golo Ndoal

Karena itu, seorang guru mesti selalu sadar akan panggilan dasarnya sebagai agen 'pembentuk manusia'. Ia mesti bekerjanya dengan hati agar dalam dekapan profesionalnya, seorang anak bisa berkembang ke arah yang positif.

Ketika guru dilihat sebagai profesi, maka dirinya tidak lagi terobsesi dengan aksi akumulasi profit. Profesi itu sendiri menjadi garansi peningkatan derajat kehidupan ekonomi rumah tangganya. 

Seluruh hidupnya tercurah pada penuntasan proyek pemanusiaan manusia muda. Kemaslahatan peserta didik menjadi optio fundamentalis pengejawantahan spirit profesionalnya. Tidak heran, jika guru begitu khusuk dan serius, "mempersiapkan" menu pembelajaran yang bergizi tinggi bagi perkembangan karakter dan kepribadian siswa.

Baca: Pengumuman Hasil Kelulusan dan Perkembangan SMP Negeri 1 Komodo Labuan Bajo

Bisa disimpulkan bahwa idealnya, pilihan seseorang untuk menjadi guru adalah “panggilan jiwa” untuk memberikan pengabdian pada sesama manusia dengan mendidik, mengajar, membimbing, dan melatih, yang diwujudkan melalui proses belajar-mengajar serta pemberian bimbingan dan pengarahan kepada siswa agar mencapai kedewasaan masing-masing.

Guru adalah profesi yang terhormat. Howard M. Vollmer dan Donald L. Mills (1966) mengatakan bahwa profesi adalah sebuah jabatan yang memerlukan kemampuan intelektual khusus, yang diperoleh melalui kegiatan belajar dan pelatihan yang bertujuan untuk menguasai keterampilan atau keahlian dalam melayani atau memberikan advis pada orang lain, dengan memperoleh upah atau gaji dalam jumlah tertentu.

Kendati demikian, tetap disadari bahwa gaji atau upah bukan intensi utama yang menjadi incaran. Urusan penghasilan, hemat saya menjadi semacam 'efek logis' dari pemanifestasian kerja profesional. Kiblat seorang guru adalah perubahan perilaku dan kecakapan yang bersifat holistik dari anak didik.

Saya kira, spirit profesionalisme guru mesti dihangatkan secara teratur melalui kesetiaan menjalankan tugas profesional di sekolah. Hal pertama dan utama yang perlu diperhatikan adalah kesanggupan atau kecakapan dalam 'mengolah materi ajar' kepada peserta didik. Seorang guru mesti memiliki keterampilan yang baik dalam meracik bahan ajar agar mudah dicerna dan diproses secara kreatif oleh siswa dalam memproduksi pengetahuan yang baru.


*Penulis adalah Staf pengajar SMK Stella Maris Labuan Bajo.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Guru Sebagai Panggilan Hidup

Trending Now

Iklan