Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Guru: Teladan dalam Kebiasaan Menulis

Wednesday, August 3, 2022 | 18:49 WIB Last Updated 2022-08-03T11:58:08Z
Guru: Teladan dalam Kebiasaan Menulis
Guru: Teladan dalam Kebiasaan Menulis


Dalam artikel terdahulu berjudul: "Writing Is A Habit", (Bernasindo.id, 4/8/2022) saya mengutarakan secara amat ringkas perihal menulis sebagai sebuah kebiasaan dan peran guru dalam menumbuhkan kebiasaan menulis pada peserta didik.

Baca: Soal Jamda IX Kwarda NTT Tahun 2022, Benarkah Sudah Persiapkan Secara Matang

Poinnya adalah jika keterampilan menulis mau dikembangkan di sekolah, maka sedapat mungkin kegiatan menulis itu menjadi rutinitas atau kebiasaan yang dipraktekkan secara konsisten oleh peserta didik di bawah panduan atau bimbingan para guru. Untuk itu, para guru dituntut lebih kreatif membuka ruang dan peluang bagi siswa agar terpikat dengan dunia menulis. Diusahakan agar setiap hari, aktivitas menulis itu selalu digauli oleh siswa dengan pendekatan kalimat per kalimat dan paragraf per paragraf.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan memberikan atensi yang serius terhadap kemampuan bernalar kritis dan kreatif dalam diri generasi muda. Tentu saja, salah satu aktivitas yang disarankan untuk membentuk pelajar yang bernalar kritis dan kreatif adalah menulis. Dengan menulis, siswa akan terbiasa membangun sebuah gagasan sekaligus mengomunikasikannya secara runtut. Karena yang ditulis adalah ide atau gagasan, maka aktivitas menulis ini dapat diaplikasikan di semua mata pelajaran.

Baca: TK, SD, dan SMP Pius Pemalang Memulai Tahun Ajaran Baru 2022/2023 dengan Merayakan Ekaristi Bersama

Namun, kita tidak mungkin menunggu dan berharap begitu saja soal tumbuhnya kebiasaan menulis dalam diri siswa, tanpa sentuhan dan rangsangan melalui teladan positif yang diberikan guru.  Ribuan kalimat motivasi dan perinta yang meluncur dari mulut guru, menjadi sia-sia jika tidak diikuti dengan tindakan konkret. Kita sering mendengar ungkapan "guru adalah orang yang digugu dan ditiru (dipercaya dan diikuti)". 

Penilaian itu sangat tepat. Memang guru pada dasarnya orang yang patut dijadikan model atau contoh bagi pelajar, termasuk dalam hal menghidupkan budaya literasi di lingkungan sekolah. Oleh sebab itu, sebelum mengajak siswanya terbiasa menulis, guru sudah harus terbiasa menulis terlebih dahulu. Dengan kata lain, guru harus bisa menjadi role model bagi siswa dalam menulis.

Menjadi role model bagi siswa dalam kebiasaan menulis, sebaiknya dilakukan oleh guru tak hanya saat dalam kelas. Lebih dari itu, teladan yang baik itu harus dilakukan setiap saat dalam keseharian guru. Apalagi, di masa kini ketika setiap orang bisa dengan mudah mempublikasikan tulisannya, maka peran guru sebagai role model dalam menulis, semakin diharapkan.

Saya kira, sarana untuk mengekspos tulisan guru, semakin menjamur saat ini. Kita bisa menggunakan kanal media sosial dalam mempunlikan hasil refleksi kritis yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Guru masa kini juga, bisa memanfaatkan media dalam jaringan (daring) yang jumlahnya sudah tidak terhitung. 

Selain itu, guru juga bisa membuat blog pribadi atau media portal berita yang bisa didesain dan diakses secara gratis  untuk mempublikasikan tulisannya. Saya sendiri, lebih sering menulis di Facebook dan setelah itu diterbitkan oleh beberapa media daring.  Media-media alternatif tersebut, hemat saya, tidak hanya sebagai wadah untuk menerbitkan tulisan-tulisan ringan, tetapi juga wahana menulis artikel-artikel akademik yang lebih ketat secara metodologis. 

Jika guru sudah terbiasa menulis di media, maka guru bisa mengajak siswa-siswanya mengakses serta membaca artikel-artikel di media tersebut dan mendiskusikannya. Tentu, ada keuntungan yang bisa didapat dengan model pembelajaran seperti itu. Pertama, memotivasi para siswa untuk turut menulis. Kedua, cara tersebut mendorong guru itu sendiri untuk lebih aktif menulis.

Baca: Ketika Anggota MKKS SMK Kabupaten Banyuasin (Sumsel) "Studi Banding" di SMK Stella Maris

Kendati demikian, tentu  ada catatan penting yang harus diingat dalam menerapkan model ini. Guru sebaiknya menyesuaikan gaya tulisan serta bahasa yang dipakai dengan kemampuan siswa yang dimintanya untuk membaca. Saya akui bahwa untuk urusan 'penyesuaian gaya tulisan' ini, saya harus banyak belajar. Saya merasa gagal dalam menyesuaikan diksi dan penggunaan istilah yang bisa ditangkap dengan mudah oleh para siswa. Ini menjadi 'pekerjaan rumah' terbesar saya dalam menyebarkan virus menulis kepada para pelajar SMK. 

Saya berpikir, seorang guru telah memiliki kapital dan prasyarat yang cukup untuk menjadi pemandu bagi siswa dalam mengakarkan tradisi literasi. Bukankah seorang guru telah lebih dulu mengecap pendidikan yang lebih tinggi dibanding siswanya? Pekerjaan menulis itu, bagi seorang guru, menjadi 'makan minum' setiap hari, baik selama berada di Perguruan Tinggi, maupun ketika berprofesi sebagai guru. Jadi, idealnya kemampuan menulisnya lebih mumpuni ketimbang siswa.

Kembali ke soal ajakan membaca tulisan yang dihasilkan oleh guru di atas. Selain mencerna 'isi' sebuah artikel, guru coba membantu siswa untuk memahami alur pikir dan struktur dalam tulisan tersebut. Guru meminta mereka untuk mempelajari dan menemukan elemen-elemen apa yang sebaiknya ada di dalam tulisan. Dengan kata lain, siswa harus mempelajari cara menulis sebagaimana gurunya menulis. Dengan itu, ada sesuatu yang mereka rimba dari tulisan itu, baik dalam isi, retorika, logika, dan stilistika.

Selain itu, guru bisa juga mengisi kesempatan di kelas untuk 'menceritakan' soal rintangan atau kesulitan praktis ketika meracik satu tulisan. Anggap saja, itu menjadi momen 'sharing' antara guru dan murid. Secara empatik, guru membagikan apa kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam menulis artikel tersebut.

Ada pembelajaran yang berarti dalam 'sharing' semacam itu. Guru seakan mengatakan kepada siswanya bahwa tidak ada penulis yang sempurna. Bahkan seorang guru pun bisa mengalami kesulitan yang sama seperti yang dirasakan oleh siswanya, dan ini manusiawi. Dengan itu, diharapkan agar siswa 'termotivasi' untuk mengikuti jejak gurunya.

Sasaran terakhir dari semua proses ini adalah para pelajar bisa memproduksi karya sendiri. Skill menulis para siswa semakin membaik dan meningkat. Jadi, guru mesti memotivasi siswanya untuk menulis sendiri. Gaya menulis bebas (free writing style) mungkin menjadi pilihan pertama untuk dihayati oleh para siswa. Mereka berhak untuk menulis seperti yang dilakukan oleh sang guru atau menulis seperti penulis idola mereka.

Literasi adalah medium yang tepat untuk mewujudkan visi profil Pelajar Pancasila yang menjadi cita-cita luhur negara saat ini. Dalam mewujudkan profil Pelajar Pancasila yang bernalar kritis dan kreatif, guru adalah ujung tombak. Selain dituntut melahirkan inovasi-inovasi model pembelajaran, guru juga mesti bisa menjadi role model bagi anak-anak didiknya. 

Dedikasi guru dalam menghidupkan kebiasaan menulis mesti terus 'ditagih'. Guru tidak boleh abai dalam meniupkan spirit dan energi literasi kepada para pelajar.Ketika guru 'tertantang' untuk memberikan contoh praktis bagaimana semestinya menulis, maka kita punya alasan yang cukup bahwa menulis bakal menjadi laku akademik yang diminati oleh semua siswa. Bukan tidak mungkin, apa yang ditanam oleh guru, bakal membuahkan hasil, di mana para lulusan sekolah, memiliki keterampilan menulis yang bagus.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa berhasil tidaknya gerakan literasi di sekolah (GLS), sangat bergantung (meski tidak bersifat mutlak) pada komitmen guru dalam menjadi figur model dalam hal menulis. Rasanya, tidak terlalu efektif jika guru hanya 'mengajak' bahkan memaksa dengan kata-kata para siswa untuk menulis, sementara guru sendiri tidak memberikan contoh yang baik bagaimana semestinya menekuni dunia menulis itu.


Oleh: Sil Joni*

*Penulis adalah Staf Pengajar SMK Stella Maris Labuan Bajo.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Guru: Teladan dalam Kebiasaan Menulis

Trending Now

Iklan