Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Komunitas Pemuda dan Literasi Digital

Suara BulirBERNAS
Saturday, October 22, 2022 | 18:05 WIB Last Updated 2023-02-04T05:55:36Z
Komunitas Pemuda dan Literasi Digital
Komunitas Pemuda dan Literasi Digital




Ada dua kegiatan yang difasilitasi oleh kementerian yang berbeda di Labuan Bajo pada tanggal 21 dan 22 Oktober tahun 2022 ini. Pertama, Labuan Bajo Maritime Festival (LBMF) yang difasilitasi oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) melalui Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF). Kedua, lokakarya (workshop) Literasi Digital untuk beberapa komunitas orang muda yang difasilitasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informastika (Kominfo).


Baca: Skripsi, Sarjana, dan Keterampilan Menulis


Jika LBMF dikemas dalam bentuk 'pesta', maka Literasi Digital dibuat secara lebih serius dan sistematis dalam sebuah lokakarya. Yang pertama terkesan 'menghabiskan anggaran' untuk memenuhi hasrat berpesta, sedangkan acara yang kedua 'memanfaatkan anggaran' agar komunitas orang muda 'melek digital'.


Terkait dengan LBMF, saya sudah buat catatan kritis dalam artikel opini berjudul: "Festival Maritim, Hedonisme, dan Pemborosan" yang diterbitkan oleh media liputankepri.com, Juma't (21/10/2022). Poin kritik saya dalam tulisan itu adalah LBMF bisa dibaca sebagai 'instrumen' memanifestasikan spirit hedonisme dan tindakan pemborosan. Jika menggunakan uang negara, maka patut diduga bahwa LBMF hanya sebagai 'siasat' menghabiskan anggaran semata.


Karena itu, pada kesempatan ini, saya merefleksikan signifikansi diadakannya Workshop Literasi Digital (WLD) bagi orang muda yang bergiat dalam beberapa komunitas di Labuan Bajo. Ini sebuah contoh bagaimana sebuah kebijakan benar-benar dirancang sesuai dengan 'fakta di lapangan'. 


Tak bisa dielak bahwa sebagian orang muda kita belum terlalu cakap dalam bermedia digital. Padahal, digitalisasi sudah merambah semua bidang kehidupan. Karena itu, sebagai 'pekerja produktif', di mana teknologi digital sebagai 'sarana utama', maka mau tidak mau, orang muda harus melek digital. Pemerintah berkewajiban untuk memberikan pelatihan literasi digital dan memberdayakan orang muda agar bisa beradaptasi dan survive berada dalam sebuah ekosistem digital.


Kita hidup dalam sebuah tahapan atau era sejarah yang secara populer disebut 'era digital'. Digitalisasi merupakan resultante dari aktivitas rasio praktis melalui kerja eksperimentatif dan saintifik yang bersifat empiris. Pelbagai temuan dari dunia riset dan sains itu, sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan pola tindak manusia umunya dan orang muda khususnya. 


Penemuan dan penggunaan 'teknologi internet' yang kian massif, menjadi salah satu contoh perubahan dalam ranah kebudayaan itu. Kehadiran 'teknologi internet' dengan semua aplikasi atau platform, memunculkan budaya baru yang dikenal luas sebagai 'digital culture'. Jari manusia dioptimalisasi untuk mendapatkan akses informasi yang luas dan membantu meringankan pekerjaan manusia melalaui layar telepon genggam dan komputer yang terkoneksi dengan 'jaringan internet'.


Saya kira, perkembangan dunia digital telah merambah ke semua bidang kehidupan. Rasanya, tidak ada lagi dimensi kehidupan manusia yang tidak terhubung dan terpengaruh dengan pola digitalisasi. Pengaruh dan manfaat perangkat teknologi digital itu, sudah, sedang, dan akan dinikmati oleh orang muda yang bergiat dalam pelbagai komunitas kreatif termasuk komunitas sekolah.


Baca: Labuan Bajo, Kota Literasi?


Penguasaan terhadap teknologi digital menjadi kian urgen di tengah pesatnya aktivitas industri pariwisata super premium saat ini. Pasar pariwisata super premium membutuhkan tenga kerja yang terampil dalam menggunakan perangkat digital. Pola pemasaran produk dan transaksi binis dalam pasar pariwisata, hampir semuanya beralih ke sistem digital. Kita kenal istilah registrasi dan booking tamu secara online. 


Tidak hanya itu, hampir semua item kerja dalam pasar pariwisata saat ini, menggunakan perangkat digital. Orang muda Mabar, tentu saja akan kesulitan bersaing jika sumber daya manusia dalam bidang digitalisasi ini, kurang diperhatikan dengan baik. Dengan bekal kapasitas literasi digital yang mumpuni, maka orang muda kita, dipastikan tidak mengalami nasib tragis, tak laku di pasaran pariwisata itu.


Peserta didik pada level SMA/SMK juga merupakan bagian dari 'orang muda' itu. Kita tahu bahwa roses pembelajaran formal berbasis digital, terus diinisiasi dan ditingkatkan kualitas penerapannya dalam sebuah satuan pendidikan. Itu berarti, baik guru maupun peserta didik, mesti memiliki telepon genggam atau komputer yang terkoneksi dengan jaraingan internet dan mempunyai  kompetensi yang memadai untuk memanfaatkan 'teknologi digital' dalam melaksankan proses pembelajaran.


Akan tetapi, telepon genggam itu tidak dipakai untuk kepentingan pembelajaran semata-mata. Demikian pun untuk 'komunitas orang muda' yang berkarya di luar lembaga pendidikan. Tak bisa dihindari bahwa Hp itu dipakai oleh siswa dan orang muda umunya untuk terlibat dalam komunikasi dan interaksi di media sosial. Dengan perkataan lain, dalam dan melalui Hp itulah, para siswa dan orang muda kita bisa merasakan sensasi dalam bermedia.


Aktif berselancar di media sosial, menjadi salah satu kekhasan dari generasi milenials, orang muda, termasuk siswa SMA/SMK. Kita tahu media sosial dengan aneka platform, merupakan 'wilayah tidak bertuan' yang boleh dimasuki oleh siapa saja dan untuk kepentingan apa saja. Sangat boleh jadi, para siswa kita akan 'tersesat' ketika memasuki hutan rimba virtual itu. Mereka bisa saja kehilangan arah untuk kembali pulang atau meneruskan perjalananan menuju titik yang diidamkan. 


Tegasnya, potensi untuk menyalahgunakan 'media sosial' itu, semakin terbuka bila tidak ditopang dengan asupan pendidikan media yang bermutu. Masalahnya adalah mayoritas peserta didik dan orang muda kita belum mendapatkan semacam 'pengetahuan bermedia yang baik'. Mereka tidak dibekali dengan tata cara atau etika bermedia. Persoalan semakin kompleks jika dikaitkan dengan karakter perkembangan psikologis mereka yang masih labil dan dalam proses mencari jati diri yang otentik.


Saya teringat dengan penyampaian yang diberikan oleh Kepala SMK Stella Maris, Rm. Kornelis Hardin, Pr dalam sebuah kesempatan. Sadar bahwa mayoritas siswa 'belum melek media digital', Rm. Kornelis dalam 'amanat singkatnya' pernah mengingatkan para siswa untuk 'bijak dalam menggunakan media sosial'. "Jangan mengumbar hal-hal pribadi dan sensitif di ruang maya", tegas pria yang akrab disapa Rm. Dino itu. Tidak semua hal disalurkan atau disampaikan di media sosial.


Gagasan tentang 'literasi media digital', mendapatkan momentum dan urgensinya dalam penegasan dari Rm. Dino ini. Sejak tahun 2021, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sudah mendesain semacam 'modul ajar' terkait penguatan literasi digital yang mencakup empat kompetensi, yaitu: Kecakapan digital, budaya digital, etika digital, dan kemananan digital. 


Selain sisi kecakapan digital, barangkali yang paling mendasar yang menjadi prioritas dalam pengimplementasian kurikulum literasi digital ini adalah soal 'etika bermedia'. Para siswa mesti diarahkan dan dipandu bagaiamana 'tata cara' menulis atau memposting sesuatu dalam ruang virtual. Mereka mesti tahu dengan pasti kira-kira mana yang boleh dan tidak boleh atau mana yang baik dan tidak baik untuk dipamerkan dalam media sosial.


Terkait tujuan literasi media, sejauh ini ada dua pandangan yang berbeda yang sama-sama memiliki pengaruh di kalangan praktisi pendidikan media/literasi media. Pertama, yang disebut kelompok proteksionis menyatakan bahwa pendidikan media/literasi media dimaksudkan untuk melindungi warga masyarakat, termasuk peserta didik sebagai konsumen media dari dampak negatif media sosial. 


Kedua, yang disebut preparasionis yang menyatakan bahwa literasi media merupakan upaya mempersiapkan warga masyarakat untuk hidup di dunia yang sesak-media agar mampu menjadi konsumen media yang kritis. Artinya, dalam pandangan kelompok preparasionis, warga masyarakat secara umum perlu diberi bekal kompetensi melek media untuk bisa mengambil manfaat dari kehadiran media sosial.


Saya berpikir, kedua pandangan itu, sangat baik untuk dijadikan 'landasan' dalam mengambil prakarsa untuk melaksanakan program literasi media digital yang kritis dan berbobot. Setidaknya, melalui program literasi digital, para siswa khususnya dan orang muda umunya bisa 'terlindung' dari pengaruh buruk media sosial sekaligus bisa berpikir kritis dan kreatif untuk memanfaatkan media sosial secara positif.


Pertanyaannya adalah bagaimana sekolah melaksanakan kurikulum literasi digital itu? Salah satu elemen krusial yang diperhatikan dalam implementasi Kurikulum Merdeka adalah pelaksanaan proyek penguatan profil pelajar Pancasila. 


Literasi digital itu, dengan demikian, didesain dan diintegrasikan dalam pembelajaran berbasis proyek. Masalah utama dalam proyek itu, sudah teridentifikasi. Beberapa guru mata pelajaran bisa berkolaborasi dalam menentukan tema, tujuan, konten, dan tahapan dalam pelaksanaan proyek tersebut. Selain itu, literasi digital bisa juga dijadikan salah satu agenda kegiatan yang bersifat ekstrakurikuler.


Baca: Merintis Komunitas Praktisi di SMK Stella Maris


Sedangkan untuk 'komunitas orang muda' lainnya, saya kira WLD yang diselenggarakan oleh Kominfo di atas menjadi salah satu alternatif dalam memperkuat kapasitas literasi digital itu. Empat aspek litersasi digital (kecakapan digital, budaya digital, etika digital, dan keamanan digital) tentu digarap secara serius sehingga orang muda 'tidak mudah terseret oleh arus negatif' dalam bermedia digital. 


Kita berharap, kegiatan WLD itu tidak bersifat sesaat dan ditujukan kepada kelompok tertentu saja, tetapi ditingkatkan dan menjangkau sebanyak mungkin kelompok sasar. Dengan itu, idealisme menjadikan orang Indonesia 'melek digital', bisa terwujud. Mereka yang yang sudah mengikuti WLD itu, diharapkan bisa membagi ilmunya kepada kelompok lain.




Oleh: Sil Joni*

*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Komunitas Pemuda dan Literasi Digital

Trending Now

Iklan