Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Dari "Guru Medioker" ke 'Guru Hebat' (Sebuah Autokritik)

Suara BulirBERNAS
Saturday, January 27, 2024 | 06:49 WIB Last Updated 2024-01-27T00:18:27Z

Oleh: Sil Joni*


Dari "Guru Medioker" ke 'Guru Hebat' (Sebuah Autokritik)
Dari "Guru Medioker" ke 'Guru Hebat' (Sebuah Autokritik) 




Teknologi digital dan kecerdasan buatan berkembang sangat pesat saat ini. Meski wajah peradaban berubah total seiring dengan perkembangan perangkat digital tersebut, peran guru dalam 'memanusiakan manusia', diyakini masih tak tergantikan. Guru masih menjadi 'subyek' yang sangat berperan dalam 'menghasilkan' generasi unggul, berkualitas dan berdaya saing.


Baca: Romo Ignasius Azavedo Viares, Kepala SMK Stella Maris yang Baru


Peserta didik yang 'dibantu secara kreatif' oleh para guru saat ini, umumnya masuk dalam kategori 'generasi Z dan Alpha. Mereka ini lahir sekitar tahun 2000-an. Pada usia yang sangat dini, mereka sudah akrab dengan gadget, telepon pintar, dan peranti teknologi digital yang lainnya. Pola pikir mereka, menurut para ahli relatif terbuka, transformatif, dan inovatif.


Latar peradaban digital itu, tentu saja menuntut tipe guru yang responsif dalam mengikuti spirit jaman (zeitgeist). Pertanyaan kita adalah tipe guru macam manakah yang cocok dengan 'spirit digitalisasi' dalam berbagai bidang kehidupan saat ini? Pola pembelajaran seperti apa yang bisa diharapkan untuk menjawab kebutuhan peserta didik dan untuk merespon pelbagai dinamika persoalan sebagai akibat dari 'revolusi dunia teknologi informasi dan komunikasi itu? Apakah metode pembelajaran konvensional yang bersifat monologis masih relevan  untuk diterapkan?


Willian Arthur Ward, seorang penulis dari Amerika Serikat, membuat studi khusus terkait dengan 'tipologi guru' berdasarkan perilaku dan performa mereka dalam melaksanakan pembelajaran. Beliau menemukan 4 tipe guru dengan karakter berbeda ketika berada dalam kelas.


Pertama, guru medioker (mediocre teacher). Kata kunci untuk mendeskripsikan perilaku dengan tipe ini adalah 'memberi tahu (tells). Inilah kategori guru yang sangat membosankan dan menjengkelkan bagi sebagian besar siswa.

 

Pasalnya, metode pengajarannya monoton, lebih banyak berceramah, mata lebih banyak melihat buku dan membacanya, selalu duduk atau berdiri di depan ruang kelas, pendapat yang dikeluarkan bersifat absolut, alergi terhadap kritik dan sebagainya.


Baca: Yang Datang dan Yang Pergi (Catatan Jelang "Serah Terima Jabatan Kepala SMK Stella Maris")


Guru semacam ini hanya tampil untuk 'mentransfer ilmu'. Dalam kepalanya, peserta didik itu tidak lebih sebagai 'bejana kosong' yang perlu diisi dengan 'air pengetahuan'. Biasanya guru dengan tipe seperti ini cenderung 'bertindak otoriter'. Dirinya tampil sebagai 'penguasa yang serba tahu' dan peserta didik dianggap 'tidak tahu apa-apa'.


Saya menduga, (dugaan ini perlu diteliti lagi) sebagian perilaku guru  saat mengajar masih dalam tahap ini. Kita pergi ke sekolah hanya untuk 'melunasi' kewajiban sebagai seorang guru. Tak ada 'upaya signifikan' untuk membantu peserta didik dalam mengasah potensi akademik dan keterampilannya secara serius. Apa yang terjadi, jika selama 60-90  menit jam belajar, siswa hanya mendengar suara guru? Pasti suasana kelas 'tidak hidup' dan sangat membosankan.

 

Kedua, guru yang baik (good teacher). Perilaku yang dominan adalah 'menjelaskan (explains). "Guru baik" merupakan kategori dimana guru satu langkah lebih baik dibanding guru medioker. Guru dengan tipe  ini memang masih menggunakan metode ceramah berdasarkan buku. Tetapi, mereka juga bisa menjelaskan materi dengan analisa yang baik dari latar belakang ilmu yang dimilikinya. Hanya saja, gaya mengajarnya  masih bersifat teacher center (berpusat pada guru). 


Tendensi diskriminasi terhadap pendapat siswa tak bisa dihindari ketika model 'guru-sentris'  diterapkan di dalam kelas. Guru masih menganggap bahwa dirinya yang paling tahu dan tidak pernah salah. Karena itu, peserta didik 'ditekan' untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru di dalam ruang kelas. 


Anthony Robbins berkata: “Tragedi terbesar dalam dunia pendidikan adalah, sebagian besar guru kita memahami mata pelajaran, namun tidak memahami murid-murid mereka”. Bila guru hanya mampu menerangkan dan terampil dalam mentransfer pengetahuan,  maka suatu saat guru pada tahap ini dapat digantikan dengan media teknologi modern. Boleh dibilang  bahwa cara mengajar guru pada tahap ini bak 'memasukkan cairan' apapun ke dalam gelas, yang belum tentu gelas itu mampu menampung cairan tersebut.


Ketiga, guru superior (superior teacher). Perilakunya dipadatkan dalam satu kata, yaitu memperlihatkan (demonstrates). Menurut William perilaku  'guru superior' ini berbanding terbalik dengan  'guru bagus' yang teacher centered. Guru superior cenderung menerapkan pola pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-center). 


Mereka mampu membuat suasana kelas menjadi lebih interaktif dan kreatif. Tidak ada lag diskriminasi terhadap pendapat peserta didik.  Semua siswa berhak menyatakan pendapat, sanggahan, kritik dan saran baik tentang materi, maupun terhadap guru dan siswa lain. 


Baca: Kemitraan STIE Yapan Surabaya dengan SMKN 1 Satarmese Termeterai dalam Penandatangan MoU


Dalam proses pembelajaran guru superior selalu membawa alat-alat pembelajaran untuk disajikan kepada siswa. Alat-alat demonstrasi pada jaman sekarang sangat penting sekali keberadaannya, baik itu yang bersifat teknologi ataupun konvensional (sederhana). Siswa pun lebih mampu mengingat jika materi-materinya diwakili oleh suatu peragaan yang unik, sehingga siswa tidak hanya mampu menyebutkan materinya tapi juga sudah mampu mengetahui seperti apa bentuk secara visual materi yang mereka pelajari. 


Selain itu, guru superior juga sudah menggunakan active learning  di mana saat proses pembelajaran harus menciptakan peran serta anak didik seluas-luasnya. Misalnya keberanian untuk mengajukan pertanyaan, mengemukakan gagasan dan mencari data dan informasi yang mereka perlukan untuk memecahkan masalah.  Tegasnya, ada perubahan paradigma pembelajaran yang sebelumnya masih didominasi guru (teacher centered) menjadi student centered yang memprioritaskan peserta didik untuk berperan penuh dalam proses belajar mengajar.


Keempat, guru hebat (great teacher). Satu kata yang menonjol untuk guru dengan tipe semacam ini adalah 'menginspirasi (inspires). Dijelaskan bahwa tipe guru hebat ini yang sangat dibutuhkan di dunia saat ini. Guru dengan tipe seperti itu, selalu diharapkan 'kehadirannya' oleh semua peserta didik. Seperti apa karakter dari 'guru hebat' itu?


Mereka adalah guru yang memiliki talenta 'mentransformasi rutinitas' menjadi kegiatan yang menyenangkan. Seorang 'guru hebat' juga merupakan sosok yang bisa mengubah peluang bisa menjadi 'anugerah' bagi peserta didik. Singkatnya, guru yang menjadikan pekerjaannya sebagai panggilan dan bahkan 'ibadat'. Itu berarti dirinya merasa berdosa jika tidak bisa menginspirasi peserta didiknya. 


Guru hebat mampu menentukan dan menemukan arah masa depan peserta didik. Dengan demikian,  guru itu akan menjadi teladan siswa dalam menjalani kehidupannya baik di sekolah, rumah, lingkungan, dan masa depannya kelak. Untuk itu, kehadiran guru hebat sangatlah penting untuk melahirkan siswa yang 'berkarakter'. Mereka mampu memaksimalkan potensi anak didiknya sehingga anak didik tersebut bisa meniti karier profesional yang membanggakan  di kemudian hari. 


Di tangan guru hebat, semua topik yang didiskusikan dengan peserta didik terkesan menarik. Mereka bekerja lebih dari sekadar rutinitas. Mereka melayani siswa secara individual. Itu berarti desain dan implementasi pembelajaran yang berbasis kebutuhan siswa menjadi sebuah keharusan. Mereka juga tampil sebagai 'pembelajar'. Secara reguler mereka mengikuti pelatihan untuk 'meng-upgrade' pengetahuan dan skill mengajar yang mereka punyai. 


Guru hebat itu mengajar 'berbasis konteks' dan cakap dalam 'mengelola' tingkah laku siswa. Mereka sangat mendukung (bersikap supportive) terhadap siswa yang punya kemauan baik untuk mengembangkan bakat dan minat secara teratur. Umumnya, guru hebat itu 'matang secara emosional'. Mereka tidak terpancing untuk menerapkan hukuman fisik kepada peserta didik.


Pertanyaan untuk kita (para guru) adalah apakah selama ini kita tampil sebagai 'guru hebat' atau masih tertahan di fase 'medioker'? Jika selama ini, perilaku kita masih memperlihatkan performa seorang guru medioker, maka 'seruan untuk berevolusi' ke fase 'guru hebat' sangat mendesak di era teknologi digital saat ini?


Masalahnya adalah peran guru sebagai 'agen penyebar dan pemasok ilmu' dalam fase medioker dengan sangat mudah 'digantikan' oleh perangkat teknologi digital. Peserta didik bisa mencari ilmu itu dalam lapangan internet. Platform digital yang menyediakan aneka ilmu cukup banyak dan dengan sangat mudah 'diakses' oleh peserta didik jaman now. Jika demikian, apakah 'jasa guru' masih dibutuhkan?


Rasanya, guru yang tidak bisa 'menginspirasi siswa' untuk memproduksi pelbagai 'praktik baik', cepat atau lambat, pasti ditinggalkan. Peserta didik merasa 'tidak dibantu' oleh guru yang bertahan pada fase medioker. Tidak ada sesuatu yang bisa 'diteladani', sebab dirinya hanya 'menyiram ilmu' tanpa mengetahui level kemampuan dan tipe belajar siswa.


Program Guru Penggerak (PGP), hemat saya, bisa dibaca sebagai salah satu upaya untuk 'menghasilkan' tipe guru yang tidak hanya 'piawai dalam mentransfer ilmu', tetapi juga membangkitkan inspirasi dan motivasi bagi siswa dalam mengoptimalisasi setiap potensi intelegensi dalam diri mereka.  PGP merupakan 'instrumen' untuk merekrut 'guru hebat' sebanyak yang berimplikasi pada peningkatan mutu proses pendidikan di tanah air.




*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dari "Guru Medioker" ke 'Guru Hebat' (Sebuah Autokritik)

Trending Now

Iklan