Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Tumpahan Tangis Haru Bersama Erlina (Cerpen Efrem Danggur)

Sarfin Fidin
Friday, February 18, 2022 | 13:44 WIB Last Updated 2022-03-23T02:53:13Z
Tumpahan Tangis Haru Bersama Erlina (Cerpen Efrem Danggur)
Tumpahan Tangis Haru Bersama Erlina (Cerpen Efrem Danggur)


Oleh: Efem Danggur


Tumpahan Tangis Haru Bersama Erlina merupakan Cerpen Efrem Danggur yang sangat menyedih hati. Makna refleksinya sangat mendalam. Penasaran? Baca cerpen ini hingga selesai. 


“Saatnya sudah tiba engkau menimbang kisah bersama teman barumu. Ia akan mendampingimu selamanya. Tak usah engkau mencemaskanku, memikirkan ayah dan ibu. Kami akan baik-baik saja”. Aku memastikan.

Nasihat itu mengalir spontan saat sedang video call bersama Erlina siang tadi. Aku dan Erlina sempat beradu pandang dengan tatapan penuh haru. Lantaran aku mendenagar tumpahan kata-kata yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Baru kali ini ia mengatakannya. 

Baca: Wanita Bertubuh Puisi (Antologi Puisi Guidella11)

“Kak, saya mau memberitahukan sesuatu”.

“Soal apa?” 

“Ini soal masa depan”. Suara Erlina datar.

“Ah, lugu amat ngomongnya, tumben”. Celotehhku.

“Sebetulnya dua hari lagi aku akan tunangan, kak. Doakan saya ya, Please”. Pinta Erlina dengan suara memohon.

Sesaat saja, nalarku sukses merilis parau haru, bahkan tanpa sadar bening dibola mataku ikut pecah menemani sendu tangis suguhan Erlina. Beberapa saat kemudian aku banyak memilih diam, ia tak bergeming. Kisah-kisah indah yang pernah dibakukan atas nama kenangan mencair. Aku kagum, hari ini ia tak sekaku yang ku kenal. Ia begitu lugas. 

Baca: Menggugat Sunyi, Doa Persembahan (Antologi Puisi Anno Rebon)

Situasi tidak seriang sapaan awal, saling menanyakan kabar. Sukacita yang melebur lantaran kerinduan terobati meski perjumpaanya terbatas pada ruang virtual. Aku lancar memberi ucapan proficiat untuk kesuksesan kuliahnya. Ia telah menyelesaikan kuliahnya bukan hanya pada waktu yang tepat, tetapi juga tepat waktu. Sedangkan Erlina senang berkomentar tentang keberanian komitmen ku untuk tetap setia pada jalan yang telah ku pilih. Bahwa sudah sejauh ini aku masih sigap mempertahankan fiat untuk menjadi pelayan semua orang.

****

Saat sepi sendiri, aku dibayangi kisah-kisah 28 tahun silam. Aku ingat, ketika itu liburan SD, aku rajin menemani ibu ke kebun. Memang tidak banyak yang bisa kukerjakan. Ibu hanya meminta ku menjaga sibungsu, menggendongnya, menatangnya, bermain bersamanya. Aku terkesima dengan senyum kecil dan tawa polosnya. Gemes. Imut. Cintaku tercurah penuh padanya. Aku yakin dia anugerah Tuhan sebagai jawaban dari doa dan kerinduanku untuk mempunyai seorang adik perempuan. Orang tuaku sepakat menamainya Erlina.

Baca: Pelantikan Kepengurusan Baru IKSAM; Ini Pernyataan Tegas Pengurus Baru Periode 2022-202

Siang itu ayah dan ibu sibuk membersihan rumput-rumput liar yang berserakan diperkebunan selada. Tampaknya mereka begitu teliti memilah mana rumput yang harus dicabut dan mana mekar tunas selada yang dibiarkan tubuh subur. Selada menjadi salah satu usaha yang tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan sayur-mayur, tapi juga untuk di jual sebagai pendapatan tambahan keluarga. 

Sedang aku ditugaskan menjaga Erlina kecil, bermain dengannya. Separuh hari kuhabiskan menemaninya,  menghiburnya dengan menyanyikan lagu yang hits pada jamannya, misalnya lagu bintang kecil, hari ini kurasa bahagia, kudaki gunung yang tinggi. Lagu-lagu yang kupelajari saat sekolah minggu.

****

Detak detik waktu terus bergulir. Mengalir. Tiada yang tinggal tetap. Semua berubah. Erlina tumbuh menjadi gadis remaja awal. Sebentar lagi ia akan berpetualang di dunia study sebagai siswi SMP. Perubahan itulah yang aku rasakan saat itu. Senyum tulus dan tawa polosnya kian hari kian ranum. Kedekatanku dengan Erlina semakin matang. 

Selekas menyelelaikan SMA, aku mengisi masa liburanku dengan menemani Erlina pergi ke sekolah, saat pelajaran selesai aku kembali menjemputnya. Bahkan aku tidak megenal lelah, apalagi bosan untuk mengantarnya kesekolah.

Di remang-remang senja ketika itu aku bersimpuh sendiri di beranda rumah. Sekelumit karsa akan cita yang luhur nian kembali memenuhi ruang jagat benakku. Barang sebentar saja, aku discerment.  Aku terdesak untuk memberikan keputusan sabagai penentu arah hidup selanjutnya. Berat memang. 

Memilih bertahan di rumah demi alasan kenyamanan kebersamaan dengan orang tua, saudara-saudari, sebaya? Atau berani memutuskan untuk melangkah pergi, menembuh batas garis-garis takdir. Berjalan melewati semesta ketidakpastiaan harapan, sembari mengandalkan sepenuh asa pada pundak Sang Kuasa? 

Baca: Kelarifikasi RSUD dr. Ben mboi Soal Manipulasi Data Administrasi Biaya Perawatan Pasien, Tak Terduga Soal HIV

Bukankah Bapa Abraham dalam kisah Suci pernah melakukannya? Ia meninggalkan banyak harta untuk mendapat yang lebih banyak lagi. Barangkali itu mustahil. Tapi terjadi. Abraham telah membuktikannya. Di tengah kegetiran savana yang garang, bukan nada sesal yang ia lontarkan, tapi keyakinan nurani. Ia percaya. Bagiku inilah saatnya untuk mengatakan jalan mana yang di tempuh selanjutnya. Dengan tekat yang penuh aku bersabda.

“Ibu, ayah aku mau masuk biara”.

****

Gedung-genung pencakar langit bediri berjejeran. Riak ramai kota suci Roma belum juga reda, aku hanyut dalam candu rindu kampung halaman yang nun di sana. Wajah ayah, ibu dan Erlina membentur dinding ingatan. Aku terjaga, jalanku sudah panjang, langkah kaki kian jauh dari keberadaan awalku. Melihat Erlina yang kini tumbuh matang dan kabarnya akan tunangan aku merasa senang. Aku merasa bahagia. Tumpahan tangis haruku meleleh. Sejenak suara sendu terdengar lagu Toton Caribo dan Justy Aldrin, “Bale pulang 2”.

Demikian cerpen tumpahan tangis haru bersama Erlina, semoga bermanfaat bagi para pembaca. 

Simpang mega mendung-Malang: 18 Februari 2022

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tumpahan Tangis Haru Bersama Erlina (Cerpen Efrem Danggur)

Trending Now

Iklan