Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Catatan Harian Regina (Cerpen Videlis Gon)

Sarfin Fidin
Wednesday, March 9, 2022 | 12:43 WIB Last Updated 2022-03-09T06:24:09Z

 

Catatan Harian Regina (Cerpen Videlis Gon)
Catatan Harian Regina (Cerpen Videlis Gon)

Oleh: Videlis Gon

*Penulis adalah Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang


Senja mulai undur diri sembari memercikkan cahaya menawan yang kian padam. Di beranda rumah, Regina duduk sendiri di sebuah kursi panjang bercat putih, sembari memegang buku cacatan harian dan pena. Ia begitu menyayangi kursi tersebut. Baginya, kursi tersebut menjadi salah satu peninggalan berharga dari almarhum ayahnya yang berprofesi sebagai tukang kayu. Ayahnya baru meninggal satu bulan yang lalu lantaran ganasnya pandemi Covid-19. 

Semenjak peristiwa itu, Regina hanya tinggal bersama ibunya dan anaknya yang masih berumur 2 tahun. Sebenarnya, Regina dan anaknya baru tinggal 2 bulan bersama ibunya. Sebelumnya mereka tinggal di tanah rantau bersama suaminya, Aldo. Aldo sengaja menyuruh mereka pulang kampung lantaran tak mampu memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya ini.

Baca: Pilar pilar Besi

Meskipun terasa berat, tetapi pandemi Covid-19 yang kian mengganas memaksa mereka tuk berpisah sementara waktu. Bagaimana tidak begitu, Aldo telah kehilangan pekerjaannya sebagai sekuriti di salah satu hotel ternama dan belum lagi biaya hidup di kota yang sangat mahal membuat mereka harus rela berpisah.  

Kini sudah lima bulan mereka berpisah. Aldo masih beradu nasib di tanah rantau dengan kabar yang tidak jelas. Sementara itu, setiap hari Regina harus bekerja keras dan pandai membagi waktu sebaik mungkin sedari pagi sampai malam agar tetap bisa merawat anaknya yang masih kecil dan ibunya yang sudah lansia di samping menjalankan kerja hariannya, yaitu: menjual sayur dan kue di sekitar kampungnya. Kendati beban yang diembannya sangat berat, tetapi ia mesti bekerja keras agar kebutuhan mereka bertiga dapat terpenuhi dengan baik. Ia mesti berkerja ekstra setiap hari karena dalam rentang waktu lima bulan itu, Aldo tidak mengirimkan uang sepeser pun.

Baca: WALHI NTT: Perlunya Kesadaran Bersama Dalam Pengendalian Perubahan Iklim di NTT

Bahkan ironisnya, kabar tentang keadaannya pun tidak ia bagikan kepada Regina. Entah apa yang membuat Aldo seperti itu, Regina tidak tahu. Memang terdengar desas-desus dari beberapa orang tetangganya yang baru pulang merantau bahwa di tanah rantau Aldo menghabiskan semua uangnya untuk berjudi dan bermabuk-mabukan setiap hari. Tapi semua itu hanyalah kabar burung yang belum tentu benar. 

Yah…memang hati Regina seperti tersayat pisau setiap kali mendengar kabar burung seperti itu, tapi ia tetap tabah dalam menjalani hari-hari hidupnya. Ia percaya Tuhan punya rencana yang indah di balik semua peristiwa pedih yang dialaminya. 

Dalam hening sepi sore ini, Regina sedikit pusing dan binggung. Suasana hatinya kacau lantaran memikirkan kembali semua desas-desus tentang sikap suaminya dan akan nasib suaminya di tanah rantau yang tidak jelas. Di tengah carut-marut perasaannya itu, ia mulai merangkai kata demi kata ungkapan hatinya pada lembar buku cacatan hariannya dengan mata berkaca-kaca.

“Hidup ini penuh dengan paradoks. Ada gelap, ada terang. Ada panas, ada dingin. Ada manis, ada pahit. Ada hitam, ada putih. Ada suka, ada duka. Ada sehat, ada sakit. Ada kegagalan, ada keberhasilan. Ada perjumpaan, ada perpisahan. Ada kemajuan, ada kemunduran. Ada penderitaan, ada kebahagiaan. Yah…begitulah kenyataan kehidupan. 

Baca: Ingat! Perempuan, Bukan Barang Kepunyaan Laki-Laki (Feminisme)

Terkadang dalam situasi kehidupan semacam ini, aku hendak menyerah dan bergantung sepenuhnya pada nasib. Tapi, aku bukanlah pribadi yang fatalis. Aku adalah seorang pejuang yang sejati. Aku mesti menerima situasi ini dengan tulus hati. Sebab, bukanlah hidup apabila yang dialami hal yang enak-enak saja atau hal yang sama saja setiap hari. Hidup ini dinamis. Terus bergerak, mengalir dan berubah”.

Tatkala ia hendak melanjutkan tulisannya, tiba-tiba tepukan lembut ibunya menyentuh bahunya.

“Gin, hari sudah malam. Mari kita makan malam dulu. Reno sudah lapar, dan tidak sabar lagi menyantap nasi goreng, makanan kesukaannya”. Serentak Regina berdiri sembari tersenyum kepada ibunya dan memeluknya dengan penuh kelembutan. 

“Terima kasih bu”, ujar Regina. 

“Kamu yang sabar yah…Kamu mesti tetap kuat dan bersemangat dalam merawat Reno. Ibu bangga padamu Ros. Kamu anak yang baik…kamu ibu yang baik bagi Reno”, kata ibunya sembari membelai rambut Regina.  

***

Gelap malam kian pekat. Suara canda gurau warga di kampungnya kian meredam. Semuanya bungkam ditelan pekatnya malam. Paduan suara  para jangkrik mulai mendominasi, memecahkan keheningan malam. Suara itu semakin mengusik Regina. Regina gelisah. Ia telah mencoba membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tapi seabrek pertanyaan berseliweran di dalam benaknya. 

“Aduh Aldo....bagaimana kabarmu sekarang? Aku rindu padamu”.  

Dalam kegelisahannya itu, Regina meraih kembali buku catatan harian dan penanya  yang tergeletak di samping ranjangnya. Perlahan ia membukannya dan bendungan air matanya pun pecah membasahi lekukan pipinya yang ranum. Perlahan-lahan ia mulai menulis isi hatinya:

“Dear Aldo, kekasih hatiku.

Hari ini adalah hari yang sangat meresahkan hatiku. Aku merindukanmu. Engkau tahu tidak, hidup tanpamu aku bak tanah yang tandus dan gersang.  Tiada bunga, tiada keindahan yang kutemukan saat kujauh darimu. 

Baca: Bupati Hery Nabit Mengecek Kondisi Aset Pemda di Langkas, Ada Apa Dengan Pemerintah Provinsi NTT?

Bagiku, satu hari tidak bertemu denganmu bagaikan tidak bertemu selama satu abad. Rinduku mencuat ketika aku hendak merebahkan diri di ranjangku setiap malam. Aku ingin berontak. Aku ingin berteriak. Namun, aku bukanlah orang gila. Aku adalah seorang pencinta sejati yang tahu diri, yang tahu waktu dan kondisi. 

Aku tahu sekarang sedang pandemi, sehingga kumaklumi tindakanmu saat ini. Tapi sampai kapan kita terus begini? Sampai kapan engkau apatis terhadap nasib aku dan Reno? Aku butuh kepastianmu Aldo! Reno, anak kita masih kecil. Ia sangat membutuhkan kasih sayangmu. Sayang pulanglah!!! Aku tetap setia menantimu dalam diam”. 

Setelah itu, Regina merasa lebih nyaman dan legah. Kemudian ia merebahkan diri di samping Reno, anaknya. 

***

Malam berlalu begitu cepat. Kokokan si jago mulai  terdengar di segala sudut kampung. Lampu-lampu jalan mulai padam satu per satu. Kicauan burung gereja mulai terdengar.  Kring...kring..kring.kring...Suara itu kembali terdengar di pagi buta ini. Weker di atas meja kamar Regina kembali bereuforia, bergemercing sekuat tenaga tanpa malu. Regina pun bangun dan langsung bergegas ke dapur untuk memasak.  

Kondisi cuaca pagi ini cukup bersahabat dengan atmosfir hati Regina yang mulai tenang.  Entah apa yang membuatnya merasa demikian, ia pun tak tahu. Sementara itu, di luar rumah terdengar paduan suara burung-burung gereja yang berkicau bak teriakan orang-orang yang sedang gembira.  Suasana itu, semakin membuat Regina bersemangat dalam menjalani aktivitasnya pagi ini. 

***

Jam dinding yang terletak di tengah-tengah ruang makan telah menunjukan pkl. 06.30. Regina telah menyiapakan sarapan untuk keluarga kecilnya pagi ini. Aroma makananya semerbak memenuhi segala sudut rumah. 

Pagi ini Regina memasak nasi goreng, kesukaan anaknya, Reno. Tidaklah mengherankan apabila Reno menghabiskan sarapanya pagi ini dengan lahap. Neneknya hanya tersenyum dan tertawa kecil-kecil melihat Reno yang begitu semangat dan gembira. 

“Gin, terima kasih ya..Engkau memang ibu yang rajin dan baik bagi Reno. Jagalah dan rawatlah dia dengan baik. Ia adalah masa depanmu”, ujar Ibunya. 

Baca: Soal Perekruitan Guru Komite, Stanislaus Stan: “Pemda Mabar Jangan Lecehkan Para Sarjana Lagi”

“Ia bu..terima kasih karena ibu juga selalu memotivasi dan menguatkanku dalam setiap kesulitanku. Ibu sungguh pribadi yang luar biasa. Ada banyak pelajaran berharga yang kuperoleh dari ibu. Ibu mengajarkanku tentang apa itu hidup, apa itu perjuangan. Ibu, aku bangga padamu”, kata Regina. 

***

Jam dinging telah menunjukan pkl. 09.00. Regina masih sibuk membersihkan rumah, ibunya sedang menganyam tikar, dan anaknya sedang asik bermain mobil-mobilan. tok.. tok..tok..tok. terdengar suara ketukan pintu, disusul panggilan. “Regina..Regina”. Kemudian Regina bergegas membuka pintu. Jantungnya berdebar kencang. Tubuhnya kaku tatkala menatap Aldo, sang kekasih yang selama ini ia rindukan. Kemudian serentak Aldo memeluk Regina dengan erat. Keduanya tak bisa membendung air mata ungkapan kebahagiaan. 

“Regina, maafkan aku yang telah menyakiti hatimu. Aku kembali padamu karena kusadar bahwa cinta itu mesti selalu ada bersama dalam situasi apapun, entah dalam suka maupun duka, entah dalam untung maupun malang, entah tatkala sehat maupun sakit. Sekali lagi maafkan aku yang telah membiarkanmu menghadapi badai pendertiaan ini seorang diri. Aku sadar bahwa selama ini aku kurang bertanggung jawab dengan tugasku sebagai seorang ayah dan suami. Aku telah membiarkan dirimu merana dan gelisah. Regina, aku berjanji untuk selalu ada untukmu dan Reno. Aku mencintai kalian”. 

***

Sore ini, Regina kembali duduk di beranda rumah sembari menulis ungkapan hatinya dengan wajah berseri-seri. “Sekarang aku sungguh tahu dan merasakan bahwa rencana Tuhan indah pada waktunya. Habis kesedihan, timbul kegembiraan; habis gelap terbitlah terang”, tulis Regina di buku catatan hariannya. 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Catatan Harian Regina (Cerpen Videlis Gon)

Trending Now

Iklan