Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Filosofi Nai Ca Anggit Tuka Ca Leleng dan Peran pemuda sebagai Agent Of Change (Pemuda dalam Menangkal Politik Identitas di Indonesia)

Sarfin Fidin
Wednesday, March 16, 2022 | 14:23 WIB Last Updated 2022-03-16T09:52:59Z

 

Filosofi Nai Ca Anggit Tuka Ca Leleng dan Peran pemuda sebagai Agent Of Change (Pemuda dalam Menangkal Politik Identitas di Indonesia)

Filosofi Nai Ca Anggit Tuka Ca Leleng dan Peran pemuda sebagai Agent Of Change (Pemuda dalam Menangkal Politik Identitas di Indonesia)



Filosofi Nai Ca Anggit Tuka Ca Leleng dan Peran pemuda sebagai Agent Of Change (Pemuda dalam Menangkal Politik Identitas di Indonesia)


Politik Identitas adalah satu di antara sekian banyak persoalan yang dapat menghambat perkembangan Bangsa Indonesia. Secara sederhana politik identitas berarti politik primordial yang dalam pelaksanaannya para politikus memainkan isu darah dan keturunan, letak geografis kedaerahan, dan agama maupun ideologi tertentu (Riyanto, 2011). 

Baca: Soal MPP yang Dipimpin Wapres RI, Ma’ruf Amin di Labuan Bajo, Begini Kata Bupati Hery Nabit

Praksis politik identitas menjadi penghambat kemajuan bangsa karena menempatkan rakyat ke dalam kelompok-kelompok dan membangun narasi ‘kami’ melawan ‘mereka’. Halnya menyebabkan keterpecahan sosial sehingga bonum commune yang mengarah ke kemajuan dan kesejahteraan bangsa mustahil terwujud. Berhadapan dengan situasi ini, generasi muda sebagai agent of change bangsa patut bertanggung jawab dan terlibat aktif. Kaum muda mesti ambil bagian dalam menangkal praktik politik identitas di tanah air. 

Salah satu wajah keterlibatannya ialah dengan menerapkan filosofi nai ca anggit tuka ca leleng dalam kehidupan sehari-hari. Hemat penulis melalui penghayatan paripurna filosofi hidup sekaligus kearifan lokal masyarakat Manggarai, NTT, ini setiap generasi muda mampu memberantas politisasi identitas sehingga Indonesia akan menjadi bangsa yang lebih maju dan sejahtera di masa depan. 

Melihat betapa pentingnya filosofi nai ca anggit tuka ca leleng bagi pemuda dalam menangkal praktik politik identitas demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa, maka penulis akan berusaha menguraikan filosofi tersebut dalam tulisan ini. Uraian ini akan dihubungkan dengan langkah konkret yang dapat dilakukan kaum muda dalam menghadapi politik identitas di Indonesia. 

Baca: Sekolah Online, Nasib Anak Kelas Satu SD

Dalam konteks ini kaum muda diarahkan untuk mendulang makna filosofi tersebut dan menghidupinya. Ada dua pertanyaan penting yang akan dikaji dalam tulisan ini. Pertama, apakah filosofi nai ca anggit tuka ca leleng itu? Kedua, belajar dari filosofi nai ca anggit tuka ca leleng, langkah konkret apakah yang dapat dilakukan kaum muda dalam menanggapi politik identitas sebagai penghambat kemajuan bangsa? 

Filosofi Nai Ca Anggit Tuka Ca Leleng dan Maknanya

Nai ca anggit tuka ca leleng harafiahnya berarti satu hati, satu rahim yang sama. Secara mendalam filosofi ini dapat diartikan sebagai sekelompok masyarakat yang seia-sekata, sepikiran, sejalan, dan saling mendukung. Sehubungan dengan konsensus, filosofi ini menunjukkan kesatuan pendapat antaranggota masyarakat serta kemauan untuk bekerja sama dalam bingkai persaudaraan. 

Semangat untuk bersatu dan menjalani kehidupan penuh persaudaraan didasari pada kesadaran bahwa sebagai orang Manggarai mereka berasal dari keturunan yang satu dan menetap di bumi yang sama, kendati terdapat perbedaan yang mencakup bahasa, agama, warna kulit dan lain sebagainya. Semangat dan kesadaran-kesadaran seperti ini pada gilirannya mewujudkan kesejahteraan dalam kehidupan bersama. Hal inilah yang memprakrasai kemajuan dalam tata hidup bersama masyarakat Manggarai. Mereka tidak lagi fokus dan mempersoalkan perbedaan seperti dalam politik identitas, melainkan hanya pada kebaikan bersama sehingga peluang tercapainya kemajuan sangat besar.

Dalam kehidupan kaum muda Manggarai penerapan filosofi nai ca anggit tuka ca leleng terwujud dalam beberapa hal konkret yang dijiwai semangat persaudaraan berikut. Pertama, menghidupi dodo. Dodo sederhananya adalah gotong royong. Aplikasi dodo oleh kaum muda Manggarai mewujud dalam saling membantu untuk menggarap kebun atau ladang tanpa upah. Imbalannya ialah orang yang membantu itu akan mendapat bantuan serupa bila hendak melakukan suatu pekerjaan. Kedua, kumpul kope. 

Baca: "Dua Tetapi Satu, Satu Tetapi Dua” (Semyopal dan SMAK St. Ignatius Loyola Tempo Doeloe)

Kumpul kope adalah suatu kebiasaan kaum muda Manggarai yang intensinya membantu sesamanya dalam mengurusi acara perkawinan. Dalam kumpul kope setiap kaum muda biasanya mengumpulkan uang atau barang yang dapat meringankan biaya peminangan seorang gadis atau belis dari teman sebayanya. Ketiga, lonto leok artinya berkumpul bersama untuk memecahkan suatu persoalan. 

Kaum muda Manggarai tergolong terbuka dan tidak individualistis. Halnya terungkap dalam kebiasaan lonto leok untuk mencapai keputusan. Dalam lonto leok setiap kaum muda dipersilahkan untuk menyampaikan idenya dan kemudian secara bersama memilih yang terbaik dari pendapat yang ada. Dari sanalah mereka memperoleh kesepakatan yang akan dijalankan oleh semua, tanpa terkecuali. 

Pemuda Indonesia: Mendulang Makna Filosofi Nai ca anggit Tuka Ca Leleng Demi Memberantas Politik identitas dan Memajukan Bangsa

Penerapan Filosofi nai ca anggit tuka ca leleng masyarakat Manggarai umumnya dan kaum muda Manggarai khususnya, relevan untuk dimaknai dan diwujudkan kawula muda Indonesia. Penghayatan filosofi ini dapat membendung praktik politik identitas yang menghambat kesejahteraan dan kemajuan bangsa. Sebagaimana Bhineka tunggIal iIka filosofi ini pertama-tama mengusung nilai persatuan yang diwarnai semangat persaudaraan, kekeluargaan dan gotong royong. 

Dalam kehidupan sehari-hari generasi penerus bangsa, filosofi nai cai anggit tuka ca leleng sejatinya telah diwujudnyatakan. Kendati demikian hal ini mesti digalakkan lagi di tengah carut marut perpolitikan bangsa yang mempermainkan identitas. Sebagai agent of change yang berorientasi pada kesejahteraan dan kemajuan bangsa, berikut adalah beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan kaum muda Indonesia yang dijiwai filosofi nai ca anggit tuka ca leleng. Pertama, membangun dialog menuju toleransi. Aneka perbedaan yang mewarnai keseharian Indonesia sebagai suatu bangsa kerap merupakan lahan subur bagi para pelaku politik identitas. 

Mereka memeruncing perbedaan dan memecehbelah masyarakat menjadi ‘kami’ dan ‘mereka’. Tindakan ini membuat masyarakat hanya mementingkan kelompoknya sendiri dan mengabaikan yang lain. Situasi ini dapat menghambat kemajuan dan kesejahteraan bersama manusia Indonesia. Ketidakkondusifan ini terletak pada ‘kelinglungan’ pemangku kekuasaan untuk mengambil kebijakan karena mempertimbangkan pendapat masing-masing kelompok dalam masyarakat. Hemat saya untuk mengatasi persoalan ini kaum muda, termasuk mahasiswa, mesti membangun dialog dengan sesama yang berbeda agar merawat persatuan dan memungkinkan terwujudnya kemajuan bangsa. 

Salah satu langkah yang diambil kaum muda Indonesia menyangkut hal ini ialah dengan membangun organisasi Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC). Organisasi ini beranggotakan kaum muda, terutama mahasiswa, dari berbagai agama. Dalam organisasi ini mereka memupuk semangat-semangat yang teradapat dalam fiosofi nai ca anggit tuka ca leleng dan semangat Pancasila itu sendiri, seperti saling menghormati, saling berbagi pemahaman, dan lain sebagainya. Kesemuanya ini memperkaya mereka sehingga mampu hidup berdampingan meski berbeda. Hal ini menurut penulis adalah langkah awal untuk indonesia masa depan yang lebih kondusif sehingga politisasi identitas ditiadakan dan kesejahteraan-kemajuan bersama diwujudkan. 

Kedua, menjaga dan mengawasi laju perpolitikan bangsa. Kaum muda, utamanya para mahasiswa, adalah kelompok akademisi yang memiliki pengetahuan, cara pandang, dan gagasan-gagasan progresif. Mereka sangat idealis dan dengan tegas menolak aneka praktik ‘kotor’ para pelaku kekuasaan. Segala ‘keunggulan’ yang dimilikinya ini merupakan suatu kekuatan besar yang dapat  mengontrol kinerja pemangku kekuasaan guna mewujudkan Indonesia yang lebih maju. 

Dalam keseharian sebagai sebuah bangsa selama ini, kaum muda telah menjalankan fungsi ‘pengawasannya’ dengan baik. Halnya dapat kita simak dalam peristiwa awal reformasi maupun aneka bentuk demonstrasi berwajah kritis yang dilakukan selama ini (contohnya demonstrasi penolakan omnibus law).

Hemat saya kedua langkah konkret di atas dapat mewujudkan Indonesia yang lebih baik di masa mendatang. Hanya saja, sebagaimana dimaksudkan dalam filosofi nai ca anggit tuka ca leleng semua kaum muda Indonesia mesti bersatu, sehati, saling mendukung dan menerima, dan menghargai perbedaan. Kesemuanya ini mesti dilakukan dengan kesadaran bahwa semua kaum muda berasal dari rahim yang sama, tuka ca leleng, yaitu rahim Bangsa Indonesia. Seperti para pemuda terdahulu, kaum muda masa kini mesti dipersatukan oleh tanah air, bangsa, dan bahasa yang sama, yakni Indonesia.

Kaum muda adalah harapan bangsa yang memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan Indonesia sejahtera dan maju. Dalam kehidupan berbangsa selama ini, salah satu persoalan yang menghambat kemajuan serta mencederai bonum comune adalah adanya politik identitas. Menanggapi kenyataan ini kaum muda sebagai agent of change mesti bertindak agar dapat mengatasi persoalan ini sesegera mungkin sehingga Indonesia mampu menjadi bangsa yang lebih baik. 

Salah satu cara yang dapat dilakukan ialah dengan menghayati filosoofi nai ca anggti tuka ca leleng masyatakat Manggarai NTT. Dua langkah konkret yang dapat dilakukan ialah membangun dialog menuju tolerasni dan mengawasi laju perpolitkan bangsa. Kedua hal ini mesti dilakukan dalam nuansa kekompakkan dan semangat persaudaraan. 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Filosofi Nai Ca Anggit Tuka Ca Leleng dan Peran pemuda sebagai Agent Of Change (Pemuda dalam Menangkal Politik Identitas di Indonesia)

Trending Now

Iklan