Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Hidup di Atas Kematian yang Lain (Refleksi sederhana Tentang Kisah Kematian Yesus)

Eugen Sardono
Sunday, April 3, 2022 | 12:49 WIB Last Updated 2022-04-03T06:08:15Z
Hidup di Atas Kematian yang Lain (Refleksi sederhana Tentang Kisah Kematian Yesus)
Hidup di Atas Kematian yang Lain (Refleksi sederhana Tentang Kisah Kematian Yesus)


Hidup di Atas Kematian yang Lain - Sadar atau tidak sadar, kita hidup karena hal-hal lain rela mati atau sengaja dimatikan. Di balik nasi yg harum dan enak, ada padi yang rela mati setelah bulir-bulirnya terisi lalu para petani memotongnya. Padi mati, memberi kita beras lalu menjadi nasi. Di balik menu ikan panggang, ikan kuah yang kita sajikan dan nikmati, ada ikan hidup yang dicabut dari air yang menjadi habitatnya, lalu dia mati dan kita menikmati ikan yang sudah diolah. Di balik daging apa saja, ada binatang yang dibunuh dan mati lalu kita menikmati daging yg enak. Di balik telur yang kita konsumsi ada bakal ayam, itik atau burung yang rela dimatikan sebelum menjadi apa yang seharusnya terjadi. Kaum vegetarian, jangan pula mengangkat ekor bahwa anda lebih baik dari para pemakan daging. Karena sesungguhnya, di balik sayur dan buah yg engkau makan, ada tumbuhan sayur atau buah yang dicabut, dipotong atau dibunuh juga. Singkatnya, di balik nutrisi yang mendukung kita hidup baik, ada kematian di baliknya. Artinya, kita harus jujur bahwa kita memperoleh kehidupan yang baik, karena kematian dari entitas yang lain.

Baca juga: "A Good Samaritan"

Tumbuhan sendiri juga, agar dia bisa hidup, dia harus mati: tertanam di bawah tanah atau terendam di dalam air hydropolik. Hal ini sejalan dengan kata-kata Yesus. Biji gandum harus jatuh ke tanah dan mati, baru dia bisa hidup dan menghasilkan buah. Buah yang jatuh lalu diletakkan di atas batu atau di atas benda-benda kering dan keras seperti semen, dia akan mengering dan tidak memberikan kehidupan. Artinya, agar dapat memberikan kehidupan, dia harus menyentuh tanah, di situ dia akan membelah diri, bertunas dan hidup.

Proses kehidupan yang bermula dari kematian juga bisa kita pahami dalam kisah kematian Yesus. Orang Kristen percaya bahwa kehidupan yang baik atau keselamatan umat manusia hanya bisa digapai lewat sengsara dan kematian Yesus. Yesus memang harus mati agar kita manusia bisa selamat dan memperoleh hidup yang kekal.

Baca juga: Pater Tuan Kopong MSF Menyoroti Pawang Hujan Mandalika Dan Wajah Asli Agama

Yesus sendiri, selama hidupNya selalu mengulang hal ini dalam banyak cara dan perumpamaan. Kadang Dia mengumpamakan diriNya dengan biji sesawi atau gandum yang mesti jatuh ke tanah dan mati. Sering juga Dia menyamakan diriNya dengan anak domba yang dibunuh lalu daging menjadi santapan dan darahnya digunakan untuk pembersihan atau pemurnian. Dia juga menyamakan tubuhnya sebagai roti dan darahnya dengan anggur yang harus dimakan dan diminum agar memperoleh hidup yang abadi. Barang siapa makan tubuhKu dan minum darahKu, dia akan hidup selama-lamaNya, dia akan hidup walaupun sudah mati.

Kisah Jumat Agung, mengenang sengsara, salib dan kematian Yesus adalah sejarah harapan akan Kehidupan yang layak dari umat manusia. Jikalau Yesus tidak menderita dan mati maka kita tidak akan memperoleh hidup yang kekal. Dia memang benih yang harus jatuh ke dalam kubur, agar tunas harapan dan kehidupan yang suci bersemi. Dia memang anak domba yang harus kita makan dan darahNya kita minum agar kita juga peroleh hidup yang berkwalitas secara spiritual. Penetapan Ekaristi mengingatkan kita bahwa satu-satunya sumber kehidupan dan kekuatan jiwa kita adalah, ekaristi: menyantap tubuh dan darahNya.

Baca juga: Soal Peredaran Rokok Ilegal, Stanislaus Stan: "Itu Proses Pemusnahan Generasi Muda"

Kisah Salib itu, menghantar Yesus kepada kematian dan kita memperoleh hidup. Di kayu Salib yang Dia pikul itu, dipikulNya pula beban dosa kita, Dia membawa serta ketakutan dan kecemasan kita, sakit dan penderitaan kita ditanggungNya. 

Jauh sebelum kisah Salib, Nabi Yesaya sudah bernubuat tentang Yesus, Anak Manusia dan Hamba Tuhan yang membawa pembaharuan hidup. Dia datang untuk memikul semua penderitaan manusia di pundakNya. Lebih baik satu orang mati, agar semua memperoleh hidup, daripada Dia tidak menderita namun seluruh dunia binasa.

Karena itu, kita harus juga mengatakan bahwa Kematian Yesus adalah kehidupan kita. Kalau Yesus tidak mati, sia-sialah iman kita. Dan memang benar bahwa kehidupan selalu berlanjut di atas kematian yang lain. Kehidupan kita terjamin karena Yesus mati. Kalau Yesus tidak mati, maka kitalah yang mati. Karena, lebih baik bagimu satu orang mati untuk semua orang dari pada semua orang binasa hanya karena egisme seorang.

Konsekwensi dari pengorbanan kematian Yesus adalah:

1. Syukuri hidupmu, karena di balik hidupmu ada darah Yesus yang tertumpah.

2. Perayaan sengsara Tuhan mengajarkan kita tentang pengorbanan; bahwa kita yang menyandang status pengikut Yesus mesti juga siap berkorban untuk kehidupan oang lain. Mungkin kita tidak perlu membiarkan diri dibunuh, namun setidaknya kita mematikan dalam diri kita kecenderungan atau kesukaan kita yang merusak kebersamaan.

Baca juga: Di Manggarai, Tradisi Minum Tuak Saat Pesta Picu Penumpahan Darah, Stop Miras!

3. Di masa pandemi covid-19 dan berhadapan dgn krisis-krisis kehidupan lain, kita harus siap membawa nama Tuhan Yesus dan bersama-sama memperjuangkan kesejahteraan bersama.

4. Bertobat dari egoisme dan membangun solidaritas dengan orang lain.

Akhirnya: kita bersyukur karena kita hidup di atas kematian Yesus. Semoga kita juga bisa menghidupkan orang lain lewat pengorbanan kita

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Hidup di Atas Kematian yang Lain (Refleksi sederhana Tentang Kisah Kematian Yesus)

Trending Now

Iklan