Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Kado Kecil untuk Ibu (Cerpen Yanti Simanjuntak, H.Carm)

Tuesday, April 12, 2022 | 17:20 WIB Last Updated 2022-04-12T10:20:46Z

 

Kado Kecil Untuk Ibu (Cerpen Yanti Simanjuntak H. Carm

Kado Kecil untuk Ibu (Cerpen Yanti Simanjuntak, H.Carm)

Oleh: Yanti Simanjuntak H. Carm

Kado Kecil untuk Ibu-Embun jatuh perlahan seiring fajar menyapa dedaunan. Dunia kecil bangun perlahan menyambut hari yang indah, namun bagiku menyambut pagi adalah sesuatu yang menyedihkan. Setiap kali aku membuka mata belum pernah sekalipun kutemukan sosok pahlawanku didekatku. Semenjak aku berumur lima tahun sampai sekarang.

Demi sesuap nasi Ibuku harus bekerja pagi pulang malam. Ibuku tidak ingin aku ketinggalan dari apapun. Setiap pagi aku bangun, Ibuku sudah pergi bekerja, yang tertinggal hanya selimut yang terlipat rapi, dan setiap malam pulang sekitar pukul 20.00 wib, sehingga pertemuanku bersama Ibu hanya sedikit. Bahkan aku merasa bahwa aku tidak jelas mengenal wajah Ibuku, karena minimnya waktu untuk bertatap muka dengannya. Aku hanya bisa melihat wajahnya saat Ibuku membangunkanku untuk makan, dan untuk makan malam Ibu selalu bawakan makanan dari rumah majikannya.

Baca: Golgota dan Cintamu Utuh (Puisi Efrem Danggur)

Aku kadang penasaran dengan pekerjaan Ibu, mengapa Ibuku sampai sesibuk itu. Namun aku takut bertanya, karena aku tahu itu akan menyinggung perasaannya. Aku hanya dapat berpikir positif, bahwa Ibuku bekerja keras untuk menghidupiku dan juga demi masa depanku. Saat aku sudah menjalani sekolah, Ibuku semakin bekerja keras. Setiap pagi, Ibu selalu menyempatkan waktu untuk membuat kue kukus untuk bekalku ke sekolah. Suatu kali aku tanpa sengaja mendengar Ibuku berdoa di dalam kamar. “ya Tuhan biarkan hanya aku yang mengalami getirnya perjalanan hidup, tetapi Lissa putriku satu-satunya sebagai tujuan hidupku, janganlah engkau biarkan kehilangan impiannya”. Katanya sambil bercucuran air mata. Aku sangat terharu dan ikut menangis. Sejak saat itu aku berkomitmen bahwa aku harus belajar lebih giat, harus ikut bekerja untuk membantu Ibu. Aku melakukannya dengan diam-diam.

Aku ingin memberi Ibuku kado terindah. Tanpa terasa waktu terus berputar, kehidupan terus berjalan. Dengan kerja keras dan doa yang kuat dari Ibuku, serta perjuangan yang aku lakukan demi masa depan dan harapanku, akhirnya selama 6 tahun aku mendapat beasiswa, dan bukan beasiswa yatim atau yang tidak mampu, tetapi beasiswa prestasi. Aku sangat bahagia sebab Tuhan tidak membiarkan usaha dan perjuangan umat-Nya sia-sia begitu saja. Waktu terus bergulir, hari terus berlalu, namun Ibuku tak pernah berhenti untuk bekerja dan berdoa untukku.

Baca: Kisah Kasih di Masa Sekolah

“Nak? Kamu sudah mendaftar di universitas?” Tanya Ibuku tiba-tiba. Aku terdiam sejenak.

“Maaf Bu aku tidak ingin kuliah, aku mau langsung bekerja”. Jawabku singkat.

“Apakah kamu menyia-nyiakan perjuangan Ibumu ini?” Tanyanya lebih lanjut. Aku tahu maksud Ibuku baik, tapi aku tidak ingin membuat Ibuku bekerja keras sendirian.

“Nak, Ibu hanya ingin kamu menjadi orang yang sukses, sehingga suatu saat Ibu tidak khawatir ketika ibu pergi meninggalkan kamu”. Katanya lembut. “Ibu tidak selamanya bisa bersama kamu, Ibu sudah tua. kamu harus bisa hidup lebih baik jika suatu saat Ibu meninggalkan kamu”. Ucapnya dengan air mata yang tertahan.

Dengan spontan kupeluk Ibuku erat, “maafkan aku Ibu! Aku janji akan menjadi anak yang sukses”. Ucapku sambil mengecup keningnya. Ketika matahari memancarkan sinarnya, seperti biasanya Ibu sudah berangkat kerja, aku pun dengan segera pergi mendaftar di beberapa Universitas. Namun menunggu hasilnya membutuhkan waktu yang lama. Ketika melihat prestasiku mulai SD-SMA, akupun mendapat beasiswa di Universitas luar Negeri. Aku mulai takut dan khawatir, untuk biaya hidup disana, melihat Ibuku yang sudah tua dan ekonomi keluarga yang sangat miskin.

Akhirnya aku mengurungkan niatku. Ketika aku tertidur pulas, Ibuku melihat surat yang ada di mejaku, yang mengatakan bahwa aku mendapat beasiswa di luar Negeri, tiba-tiba aku mendengar suara tangisan Ibuku sambil berdoa,”Ya Tuhan aku tidak ingin anakku menyerah karena ketidak mampuanku”. Aku menangis mendengar doa Ibuku yang sangat mengharukan. Entah dari mana Ibuku mendapatkan uang, yang jelas aku akhirnya bisa sampai ke Universitas luar Negeri. Dengan semua perjuangan yang aku lalui dan juga kerja keras dari Ibuku akhirnya aku mendapatkan gelar sebagai sarjana management bisnis. Ketika aku kembali ke Indonesia, aku tidak menemukan Ibu di rumah. Aku menangis sambil mencari Ibu di mana-mana, seorang wanita paruh baya, yang ternyata majikan Ibu di tempat kerjanya, memberitahu bahwa Ibu sudah 1 bulan berada dirumah sakit.

Baca: Seberkas Cinta Gadis Juita Dengan Seorang Seminaris (Cerpen Efrem Danggur)

Aku menangis sejadi-jadinya, ketika wanita itu menjelaskan dengan panjang lebar. Tanpa berbicara apa-apa aku langsung menuju rumah sakit. Mendengar penjelasan dokter tentang penyakit yang dialami ibuku, dengan segera tanpa basa-basi aku meminta kepada dokter, untuk segera mengambil ginjalku, supaya didonorkan untuk Ibu. Awalnya dokter menolak permintaanku, namun dengan segala penjelasan, dan resiko yang akan terjadi akhirnya dengan terpaksa karena tak ada pilihan lain, dokter menerima permintaanku. Ibuku kembali tersenyum walau sebenarnya dokter bilang, Ibuku hanya mampu bertahan selama 2 bulan lagi, karena sudah terlambat penanganannya. Dengan semua yang Ibu lakukan untukku, aku hanya dapat memberi Ibu sebuah kado kecil, yaitu ginjalku sendiri, dan kesuksesanku dalam Pendidikan sesuai dengan apa yang aku dan Ibu harapkan.

Hanya inilah kado yang dapat aku berikan yang mungkin sekaligus akan menjadi kado pertama dan terakhir untuk Ibuku, karena melihat kondisi Ibu yang semakin kritis. Mengharapkan usia yang lama adalah sebuah kemustahilan. Sesuai penjelasan dokter dengan kondisi Ibu yang semakin kritis, aku menggunakan waktu sebaik-baiknya dengan membuat sebuah kenangan untuk kebersamaan kami walau dengan waktu yang sangat singkat saat 2 bulan sebelum Ibu meninggal dunia. Tuhan telah mengirim malaikat tanpa sayap di dunia ini untuk menjagaku dan menjadikanku berarti bagi dunia. Aku mencintaimu Ibu, tidak ada yang bisa menggantikanmu dihatiku, Ibu akan menjadi nomor satu di dalam hatiku. Semoga kado kecil yang dapat aku berikan menjamin kelangsungan kebersamaan kita di sisa akhir waktumu. Walau yang aku berikan tidak sebanding dengan apa yang ibuku perbuat dalam hidupku, namun dengan melihat senyuman terakhir ibuku membuatku bangga menjadi anaknya. Dan semakin yakin untuk melanjutkan perjuanganku di dunia yang fana ini.


Penulis tinggal di Tidar Utara, Malang-Jawa Timur.


 

 

 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kado Kecil untuk Ibu (Cerpen Yanti Simanjuntak, H.Carm)

Trending Now

Iklan