Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Peragaan Busana, Perayaan Kebhinekaan

Wednesday, August 10, 2022 | 17:48 WIB Last Updated 2023-02-09T07:38:39Z

 

Peragaan Busana, Perayaan Kebhinekaan
Peragaan Busana, Perayaan Kebhinekaan



Oleh: Sil Joni*


Beberapa teman netizen (umumnya para guru dan siswa SMAN 1 Komodo) 'mengunggah dan membagi' foto-foto kegiatan perlombaan 'peragaan busana (fashion show) tradisional di lembaga itu. Terdorong oleh rasa ingin tahu yang besar, saya meminta seorang teman guru di sekolah itu untuk 'mengirimkan' hasil jepretan kameranya dalam mengabadikan momen perlombaan itu. Puji Tuhan, teman guru itu dengan senang hati 'membagikan' buah  karyanya kepada saya melalui aplikasi WA.


Baca: "Merdeka Budaya, Merdeka Indonesia"


Setelah menatap dengan serius 'tampilan foto-foto' tersebut, saya putuskan untuk coba membuat semacam 'refleksi singkat' perihal pesan atau makna yang tersembunyi di balik teks visual itu. Nilai kemajemukan begitu menguat, yang menurut saya bisa menjadi semacam 'pesan inti' dari aktivitas perlombaan ini.


Dalam foto-foto itu, terliat dengan jelas, para peserta mengenakan dan mempergakan 'model busana tradisional' dari beragam suku di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Ini menunjukkan bahwa NTT merupakan salah satu propinsi yang dianugerahi dengan kekayaan dan keanekaragaman suku, bahasa, agama, budaya dan adat. Kebhinekaan itulah yang menjadi 'kekhasan kita' yang tidak hanya disyukuri, tetapi perlu dirawat secara kreatif agar tidak menjadi sumber konflik dalam tata kehidupan sosial sehari-hari.


Bagi saya, lomba peragaan busana tradisional yang diselenggarakan di komunitas SMAN 1 Komodo itu, lebih dari sekadar mencari 'sang juara' dan sekadar 'memeriahkan peringatan kemerdekaan RI yang ke-77. Perlombaan itu merupakan satu bentuk ekspresi merayakan secara lebih meriah aspek kebhinekaan yang menjadi penada dan modal sosial terbesar dalam kehidupan kita sebagai sebuah 'bangsa'.


Realitas ke-Indonesia-an itu dikonstrusi di atas factum pluralitas. Karena itu, sangat bagus jika sejak dini, para peserta didik 'dibiasakan' untuk mengakrabi, memaknai dan merayakan kenyataan heterogenitas itu dalam ruang dan waktu tertentu. Fakta pluriformitas dan multikultural itu, mesti dimaknai sebagai 'unsur penguat kohesivitas sekaligus mozaik yang memperindah ruang kebersamaan.


Baca: Indahnya Hidup dalam Komunitas Budaya


Pada sisi yang lain, busana atau pakaian, ternyata tidak hanya atribut yang 'membungkus, melindungi' tubuh dan mempercantik penampilan, tetapi bisa juga dikelola menjadi 'medium pewartaan' akan kenyataan sosial yang beragam. Dalam dan melalui 'desain busana' dengan corak dan motif yang bervariasi, merupakan simbolisasi dari 'pakaian kehidupan sosial' yang memang sangat beragam. 


Kita tidak bisa 'memaksakan' warna, motif, corak, dan gaya yang seragam dalam berbusana. Demikian pun, kita tidak bisa memaksakan budaya, bahasa, agama, pandangan dan gaya hidup untuk dijadikan entitas tunggal dan seragam untuk semua orang. Yang bisa kita lakukan adalah memberi atau membuka ruang seluas-luasnya bagi setiap entitas untuk berekspresi dalam ruang publik.


Seorang perancang busana terkenal dari Amerika Serikat yang sekarang bermukim di Paris (kota mode), Marc Jacobs pernah membuat semacam perbandingan antara hidup dan peragaan busana. "Hidup adalah peragaan busana, dan dunia adalah landasan pacu anda", tegas Marc. 


Itu berarti, aktivitas peragaan busana itu, selalu berangkat dari konteks kehidupan. Apa yang ditampilakan dalam kegiatan 'fashion show' itu, tidak lain adalah pantulan atau representasi dari spirit hidup yang berkembang di tengah masyarakat.


Ide, konsep, energi, inovasi, kreativitas, selebrasi atas kehidupan dan daya juang, akan 'tergambar' secara jelas dalam 'aksi lenggak-lenggok dan kostum' yang dikenakan oleh para pergawan/peragawati. Jadi, dalam lomba fashion show, kita selalu disuguhkan dengan inspirasi baru yang lebih segar.  


Sampai pada titik ini, saya sangat yakin, bahwa pihak SMKN 1 Komodo pasti mempunyai pendasaran yang rasional dan bisa dipertanggungjawabkan mengapa lomba 'fashion show' (busana tradisonal) dijadikan salah satu item kegiatan dalam rangka memeriahkan HUT ke-77 RI. Saya kira, tujuan utamanya bukan untuk 'mempromosikan' rancangan terbaru dari para perancang busana, tetapi agar para siswa semakin peka dengan kondisi kebhinekaan dalam kehidupan sosial kita.


Pun, kegiatan itu, tidak dimaksudkan untuk 'merekrut atau membidik' para model guna diorbitkan menjadi 'selebriti'. SMKN 1 Komodo tidak sedang 'mencari sosok model' yang rupawan (cantik atau ganteng) untuk mengikuti kontes kecantikan di level yang lebih tinggi. 


Baca: Urgensi “Sopi” dalam Kebudayaan Orang Manggarai


Bagi saya, lomba 'peragaan busana tradisional' itu, selain sebagai ajang pengembangan kreativitas dan inovasi, juga yang lebih penting adalah 'menuntun siswa' pada pemikiran yang mulia. Bahwasannya relitas sosial dan budaya kita amat mejemik dan kaya dan karena itu kita perlu meawat dan merayakannya dengan penuh antusias.


Akhirnya, kita ucapkan profisiat dan selamat kepada para siswa yang tidak hanya memberikan hiburan yang luar biasa bagi audiens, tetapi juga meyuguhkan pesan etik dalam kegiatan perlombaan itu. Realitas keanekaragaman dalam komunitas sosial kita merupakan modal positif yang perlu dilestarikan, disyukuri, dan dirayakan dengan penuh kegembiraan.



*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Peragaan Busana, Perayaan Kebhinekaan

Trending Now

Iklan