Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Sumber Untuk Mengenal Yesus: (2) Tradisi Suci dan Relevansinya Bagi Gereja Indonesia

Suara BulirBERNAS
Thursday, January 19, 2023 | 15:50 WIB Last Updated 2023-01-25T14:51:59Z
Sumber Untuk Mengenal Yesus: (2) Tradisi Suci dan Relevansinya Bagi Gereja Indonesia
Sumber Untuk Mengenal Yesus: (2) Tradisi Suci dan Relevansinya Bagi Gereja Indonesia (ilustrasi: katedralnews)


Selain Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kita juga diajak untuk mendalami Tradisi Suci sebagai sumber untuk mengenal Yesus. 


Berbicara tentang tradisi hampir pasti tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Indonesia memiliki kekayaan termasuk budaya dan tradisi yang berbeda-beda sesuai dengan latarbelakang daerah setempat.  


Baca: Sumber-Sumber Untuk Mengenal Yesus: (1) Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru


Istilah tradisi berasal dari bahasa latin, tradition berarti diteruskan. Terkait ajaran, tradisi diartikan sebagai komunikasi iman yang dilakukan secara berkelanjutan.

Tradisi dimaknai sebagai istilah teologis yang berkaitan dengan Yesus Kristus dan Rasul-rasulnya, terungkap dalam Kitab Suci. 


Tradisi merupakan pengalihan atau penerusan ajaran dari satu generasi ke generasi berikutnya. 


Katekismus Gereja Katolik 78 juga menjelaskan makna Tradisi. Tradisi dalam pandangan Katekismus merupakan penerusan ajaran didasarkan pada bantuan Roh Kudus dan berhubungan erat dengan Kitab Suci. 


Umat Allah mengakui ajaran-ajaran Gereja Perdana diteruskan menjadi Tradisi yang hidup.


Tradisi tersebut dapat membantu Gereja untuk mewujudkan kehidupan yang suci dan berkembang dalam iman akan Allah. 


Secara teologis, Gereja mengakui Kitab Suci dan Tradisi memiliki satu-kesatuan yang menjadi kazanah iman. Karena keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama dan menuju pada tujuan yang sama pula.


Ungkapan pengalaman iman Gereja kepada Yesus Kristus diterima, diwartakan, dirayakan, dan diwariskan menjadi sesuatu yang sangat penting dalam pertumbuhan iman Gereja. 


Baca: Mimpi ke Negeri Sakura Bersama 'Edigy' (Pelaksanaan Kelas Bahasa Jepang di SMK Stella Maris)


Konsili Vatikan II berbicara tentang wahyu ilahi terkait pentingnya Tradisi yang berorientasi pada masa yang akan datang. 


Gereja juga mewariskan ajaran, hidup, pengalaman iman, dan ibadatnya kepada angkatan berikutnya. Tradisi semacam ini akan semakin hidup berkat keterlibatan Roh Kudus sehingga Gereja bergerak dan berziarah menuju kepenuhan kebenaran Ilahi (DV 8).


Kitab Suci tidak dapat dipisahkan dari tradisi. Yesus pun bagian dari tradisi tersebut. Namun Dia memulai tradisinya sendiri dalam pewartaan Kerajaan Allah. 


Inilah tradisi Yesus. Bahwa, Dia datang ke dunia melalui Bunda Maria, lalu memanggil, mengajarkan dan mendidik para murid-Nya untuk mewartakan dan menjadi saksi kerajaan Allah.  


Hidup, firman, karya, keteladanan, mukzizat yang dilakukan, pewartaanNya, sengsara, wafat, dan kebangkitan serta penampakan-Nya merupakan bagian dari Tradisi tersebut. Dia mengutus murid-murid-Nya untuk mewartakan kabar gembira dan menjadi saksi tentang diri-Nya.


Perutusan para murid-Nya seusai kebangkitan dan kenaikan ke Surga menjadi tradisi baru yang disebut dengan tradisi rasuli. Tardisi tersebut berbicara tentang Gereja Perdana yang menjadi saksi, pelayan, dan penerus tugas pewartaan kabar gembira tentang Yesus Kristus. 


Pusat dan sumber seluruh tradisi sangat terkait pengalaman iman Gereja Perdana (Perjanjian Baru) yang ditulis atas dasar inspirasi Roh Kudus. 


Banyak kesaksian terkait dengan kehadiran Tradisi seperti ungkapan-ungkapan para Bapa Suci. Bahwasannya, Tradisi itu sangat menghidupkan. Kekayaannya meresapi praktik dan kehidupan Gereja beriman dan berdoa (DV 8, bdk. KKG 174, 1124, 2651).


Gereja Katolik mengakui tolok ukur tertinggi iman Gereja yakni Kitab Suci dan Tradisi. Gereja diberi tugas untuk menyebarluaskan ajaran Kristus kepada segala bangsa. 


Tradisi Gereja Katolik menjadi sangat penting dihidupi, seperti Masa Adven, Perayaan Natal, Jalan salib, Masa Prapaska, Perayaan Masa Paska, Tri Hari Suci, dan lain-lain.


Relevansinya Bagi Gereja Katolik Indonesia


Tradisi Gereja Katolik universal juga menjadi Tradisi Gereja Katolik Indonesia. Barangkali ada momen tertentu yang menjadi kekhasan, dan hal itu menjadi suatu tradisi yang dapat diteruskan ke generasi berikutnya, seperti perayaan Smanta Sana Flores Timur atau ziarah kapel Tuan Ma Larantuka, tradisi kure Nusa Tenggara Timur, ziarah gua Maria Sendangsono Kulon Progo, jalan salib di Wonogiri, dan sebagainya. 


Baca: Profesionalisme Guru Di Persimpangan Jalan (Refleksi Peran Guru di Akhir Tahun 2022)


Pada hakekatnya, tradisi-tradisi ini merupakan ungkapan iman Gereja Katolik Indonesia kepada Tuhan. Gereja Indonesia melakukan komunikasi iman secara terus menerus lewat kegiatan rohani yang dilakukan secara berkelanjutan. 


Komunikasi iman Gereja Katolik Indonesia tetap berfundasi pada Tradisi Suci yakni terkait hidup, firman, pewartaan kabar keselamatan, muzizat-Nya, karya, sengsara, wafat, kebangkitan Kristus dan penampakan-Nya. 


Indonesia yang memiliki pelbagai kekayaan, salah satunya Tradisi tersebut sangat membantu Gereja semakin mengimani Kristus lewat kegiatan-kegiatan rohani atau devosi yang dapat diwariskan secara terus-menerus.



Sumber:


1. Buku Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti yang ditulis oleh Maman Sutarman, Sulis Bayu Setyawan, kelas X,  Kurikulum 2013, yang diterbit pada tahun 2016.

2. Buku Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti yang ditulis oleh Maman Sutarman, Sulis Bayu Setyawan, kelas X, Kurikulum Merdeka yang diterbitkan pada Juni 2021. 

3. Nadia Latief, 6 Tradisi Unik Perayaan Paskah di Indonesia.

4. Tradisi Suci 

5. Sumber-sumber pendukung lainnya diambil dari google.




Oleh: Nasarius Fidin

Penulis Adalah Guru SMK Negeri 1 Satarmese.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Sumber Untuk Mengenal Yesus: (2) Tradisi Suci dan Relevansinya Bagi Gereja Indonesia

Trending Now

Iklan